Search Results

527 items found

  • Hewan Peliharaanku Bikin Happy!

    Siapa di antara Klikers dan #TemanBaik yang bahagia pas main sama hewan peliharaan kesayangan? Atau, siapa di sini yang suka nonton video hewan yang lucu-lucu selepas seharian beraktivitas? Kalau aku sendiri sih sering lihatin video kucing yang gemes-gemes. Bawaannya bikin happy ya kaan? Tahu ga sih Klikers dan #TemanBaik semua, kalau hewan bisa memberikan kegembiraan dan menawarkan persahabatan dengan pemiliknya. Selain itu, hewan peliharaan juga bisa nih memberikan dukungan emosional kepada orang-orang dengan masalah kesehatan mental. Nah, hewan-hewan yang bisa memberikan dukungan emosional ini disebut Emotional Support Animal (ESA). Apa Tuh Emotional Support Animal Emotional Support Animal atau hewan pendukung emosional adalah hewan pendamping yang bisa memberi beberapa jenis manfaat bagi kita secara emosi. Misalnya, yang sering adalah hewan domestic seperti anjing, kucing, dan beberapa hewan lainnya (kelinci, ikan, dll). Kenapa sih ada rekomendasi memelihara hewan sebagai salah satu bentuk dukungan emosional kepada penyintas gangguan mental? Karena banyak banget penelitian yang sudah membuktikan bahwa hewan dapat memberikan manfaat kesehatan mental yang signifikan. Ada nih sebuah penelitian yang menemukan bahwa memiliki hewan peliharaan memiliki efek positif pada kesehatan mental kita. Kok bisa? Iya, dengan cara mendorong memberi kita dukungan emosional, bisa menjadi tempat dimana kita memperoleh rasa hangat (untuk hewan yang bisa dipeluk) dan membantu kita mengelola krisis yang kita alami. Mengurangi Kecemasan Pada beberapa orang, cara mereka untuk meregulasi diri adalah dengan adanya dukungan dari orang lain dalam bentuk sentuhan fisik seperti pelukan, tepukan lembut di bahu, dan berbagi kehangatan. Hewan-hewan seperti kucing, anjing, atau lainnya yang berdarah panas biasanya akan menyalurkan kehangatan yang sama dengan kehangatan manusia. Nggak heran, kadang memiliki hewan peliharaan dapat membunuh rasa kesepian dan kebutuhan akan kehangatan dari orang lain. Dengan berkurangnya kecemasan, kita juga akan menjadi rileks. Apalagi saat hewan peliharaan ini menunjukkan tingkah dan ekspresi lucunya. Hari yang padat bisa jadi sedikit cerah ketika melihat tingkah mereka bukan? Setelah main-main dengan mereka, bisa saja, kita jadi lebih bahagia dan suasana hati kita jadi lebih cerah. Meningkatkan Kesehatan Fisik Buat mereka yang sebelumnya menderita perasaan kesepian dan ditinggalkan, memelihara hewan peliharaan bisa membuat suasana hati lebih baik. Efek dominonya, kesehatan penyintas kesepian ini jadi lebih baik. Karena emosi dan kesehatan fisik itu sangat berkaitan ya guys! Jadi Teman Baik Sudah banyak banget yang membuktikan bahwa hewan dapat menjadi teman baik. Hewan peliharaan bisa menawarkan persahabatan. Apalagi dengan tipe-tipe yang setia dengan pemiliknya, seperti anjing. Hewan peliharaan bisa menyedikan rasa cinta yang saling timbal balik. Beberapa Penelitian Meskipun banyak yang mengatakan bahwa hewan dapat membuat kita lebih tenang, bahagia dan lebih berharga (kalau baca lebih lanjut cek referensi di bawah ya Klikers dan #TemanBaik). Namun secara penelitian, masih banyak perdebatan nih guys tentang hewan apa saja yang bisa menjadi hewan pendukung emosi kita. Apakah hewan yang sifatnya domestic atau hewan apa saja bisa asal mempunya keterikatan emosional dengan kita. Selain itu, nggak semua gangguan mental akan terbantu dengan adanya hewan pendukung emosi yaa.. Ada yang malah fobia hewan dan hewan malah jadi hal-hal yang mentrigger emosi mereka ke arah negatif. Isu lainnya adalah, memelihara hewan itu membutuhkan komitmen. Kalau kamu merasa nggak bisa berkomitmen untuk merawat hewan peliharaan dengan baik, sebaiknya kamu bisa mempertimbangkan kembali, apakah akan benar-benar akan merawat hewan peliharaan sebagai temanmu. Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan #TemanBaik Dear Klikers dan #TemanBaik, meskipun penelitian belum menunjukkan efek jangka panjang dari hewan peliharaan untuk mengurangi gejala kondisi psikologis kita, tapi tetap hewan peliharaan bisa menjadi salah satu pendukung tambahan yang bermanfaat dalam keseharian kita. Semoga tulisan ini membantumu untuk #selalubertumbuh setiap hari yaa… Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir Referensi ADA National Network. Service Animals and Emotional Support Animals. Published 2014. JetBlue. JetBlue Updates Requirements for Emotional Support Animals. Published June 5, 2018. Le Roux MC, Kemp R. Effect of a companion dog on depression and anxiety levels of elderly residents in a long-term care facility. Psychogeriatrics. 2009;9(1):23-26. doi:10.1111/j.1479-8301.2009.00268.x Mills D, Hall S. Animal-assisted interventions: making better use of the human-animal bond. Veterinary Record. 2014;174(11):269-273. doi:10.1136/vr.g1929 Schoenfeld-Tacher R, Hellyer P, Cheung L, Kogan L. Public Perceptions of Service Dogs, Emotional Support Dogs, and Therapy Dogs. Int J Environ Res Public Health. 2017;14(6):E642. doi:10.3390/ijerph14060642 Yamamoto M, Lopez MT, Hart LA. Registrations of Assistance Dogs in California for Identification Tags: 1999–2012. Ambrósio CE, ed. PLoS ONE. 2015;10(8):e0132820. doi:10.1371/journal.pone.0132820 Younggren JN, Boisvert JA, Boness CL. Examining emotional support animals and role conflicts in professional psychology. Professional Psychology: Research and Practice. 2016;47(4):255-260. doi:10.1037/pro0000083 Younggren JN, Boness CL, Bryant LM, Koocher GP. Emotional support animal assessments: Toward a standard and comprehensive model for mental health professionals. Prof Psychol Res Pr. 2020;51(2):156-162. doi:10.1037/pro0000260

  • Ekoterapi: Alam Bikin Sehat Mental Lho!

    “Duh masalahnya nggak ada jalan keluar nih, gimana kalau kita keluar jalan-jalan aja,” Pernah nggak teman-teman merasa mood Klikers dan Teman Baik merasa puyeng dan banyak hal yang terasa pengganggu pikiran? Lalu, pernah nggak memutuskan untuk keluar jalan-jalan ke area yang banyak tanaman, pohon, dan bersentuhan dengan alam? Atau pernah nggak Klikers dan Teman Baik meletakkan berbagai tanaman di sekitar ruangan kerja dan saat melihatnya rasanya sedikit kesumpekan di dada terangkat? Nah, ini dia yang disebut alam memberikan efek penyembuhan, yang di dunia terapi kita menyebutnya sebagai ekoterapi. Ekoterapi pada didasarkan pada konsep penggunaan alam untuk membantu penyembuhan fisik dan mental kita. Inilah mengapa banyak rumah sakit jiwa di Indonesia yang berlokasi di daerah yang sejuk dan dikelilingi dengan pemandangan alam yang menenangkan. Alam memberikan banyak manfaat tapi sekarang, alih-alih menghabiskan waktu menikmati dan memanfaatkan lingkungan alam, hari ini lebih banyak menghabiskan lebih banyak waktu di layar dan menghabiskan waktu secara online. Dulu saat anak-anak kita lebih banyak bermain di luar ruangan, berkejaran dengan teman di sekolah mengitari lapangan, saat istirahat kita memilih bermain basket di lapangan sekolah dan menghabiskan waktu liburan di luar rumah. Semakin dewasa, apalagi dengan hadirnya internet membuat kita lebih nyaman menghabiskan waktu di depan gawai daripada berkegiatan di luar ruangan. Kita sekarang lebih senang mengganti aktivitas santai tersebut dengan lebih banyak waktu yang dihabiskan di media sosial dan video game. Padahal beraktivitas di luar ruangan memberikan dampak yang besar untuk kesehatan mental. Terapeutiknya Warna Hijau dan Biru Pernah denger nggak, “Lihat ijo-ijo bikin seger,” Nah, ada rahasia di balik warna biru dan hijau dalam unsur terapeutik lho. Terapi alam banyak memanfaatkan unsur warna alam, seperti hijau, biru dan terkadang coklat. Misalnya berada di dekat perairan yang berwarna biru, seperti duduk-duduk di dekat samudra biru yang menenangkan, sungai biru, dan danau biru memiliki efek pemulihan psikologis. Ini menempatkan kita dalam suasana hati yang baik. Warna biru juga melambangkan ketenangan dan ketentraman. Ada sebuah organisasi bernama Blue Health Project yang telah melakukan studi tentang hubungan antara ruang biru dan kesehatan di 18 negara di seluruh Eropa. Setelah mensurvei 18.000 orang, para peneliti menemukan bahwa orang merasa lebih baik berada di dekat air yang mengalir. Selain itu, penelitian lain yang menunjukkan hubungan positif antara paparan warna biru, seperti langit, air, bahkan sekedar melihat gemericik air terhadap kesehatan mental. Warna coklat juga memberikan nuansa yang menenangkan. Maka nggak heran, banyak ya rumah yang didesain memiliki pendekatan alam akan menekankan pada warna coklat. Karena coklat memberikan nuansa tenang dan sejuk. Jadi, kalau suntuk bisa nih keluar sebentar melihat yang segar-segar, mendekati gemericik air, atau menghadirkan nuansa alam di sekitar kita. Variasi Terapi Alam Alam adalah anugerah yang disediakan Tuhan untuk kita. Terapi alam nggak harus mahal. Kita bisa duduk-duduk sebentar di taman, berenang, berkebun di rumah kita, sampai berkegiatan olahraga di alam terbuka. Kamu juga bisa merencanakan untuk mengambil aktivitas menantang, seperti arung jeram, panjat tebing, atau pendakian bersama kawan. Manfaat Berada di Alam Lalu, coba kita gali lagi, apa manfaat bersentuhan dengan alam? Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bersentuhan dengan alam, bahkan hanya melalui video, akan membantu meningkatkan kualitas hidup kita. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Gregory Bratman, PhD, asisten profesor di University of Washington. Dalam studinya yang dipublikasikan di Science Advances, Bratman dan teman-temannya menemukan bukti bahwa kontak dengan alam bisa meningkatkan kebahagiaan, rasa bahagia, ketenangan hati, hubungan sosial, dan perasaan bermakna dalam hidup. Selain itu, bersentuhan dengan alam juga bisa menurunkan depresi dan kecemasan. Karena kecemasan, stres, dan depresi ternyata hari ini banyak mempengaruhi mahasiswa pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Ada sebuah penelitian yang menunjukkan mahasiswa yang diminta menghabiskan waktu di alam lebih banyak akan merasa jauh lebih baik. Riset ini menunjukkan bahwa dengan menghabiskan minimal 10 menit, baik duduk atau berjalan di alam, akan punya dampak yang signifikan dan menguntungkan pada kesehatan mental kita. Keuntungan lainnya adalah pikiran kita jadi lebih jernih. Manusia adalah bagian dari alam semesta, nenek moyang kita berada di alam lebih lama daripada yang pernah ada. Oleh karena itu, ketika kita berada di alam, otak dan pikiran kita terasa menemukan lingkungan alaminya. Riset lain menunjukkan otak kita berkembang sangat baik saat kita terpapar lingkungan alami lebih sering. Ini akan meningkatkan kinerja pada memori kerja, fleksibilitas kognitif, dan tugas kontrol perhatian kita. Jadi, kapan akan keluar sejenak dan refreshing dari menatap layar? Gimana Caranya Membawa Alam Ke Dalam Ruangan? Kita tahu, semakin hari lahan hijau semakin terkikis, nggak semua dari kita punya lahan yang cukup luas untuk memiliki kebun sendiri. Sekarang banyak area hijau yang dijadikan area wisata berbayar, yang tidak semua orang bisa menjangkaunya. Kadang-kadang, cuaca yang buruk, hujan sepanjang hari juga membuat kita merasa malas untuk keluar rumah dan berinteraksi dengan alam. Selain itu, bisa saja kita nggak punya cukup waktu, bahkan untuk sekedar makan, semuanya terburu-buru, jadi mana mungkin punya waktu untuk keluar dan menikmati jalan-jalan sore di sekitar Lalu, gimana cara kita membawa manfaat alam ke dalam ketika kegiatan kita memang lebih banyak berada di dalam ruangan? Berikut beberapa cara mudahnya: Tambahkan tanaman air. Tanaman air sangat mudah dirawat. Mereka hanya perlu medium air. Tanaman ini nggak hanya menghilangkan racun dari udara, tetapi penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan waktu di sekitar tanaman memiliki empati dan kasih sayang terhadap orang lain serta hubungan yang lebih baik, lho. Selain itu, bisa juga ditambahkan lukisan atau foto alam. Pilih pemandangan yang indah, taman yang rimbun, atau pemandangan alam. Ada nih penelitian yang menunjukkan bahwa melihat pemandangan hijau yang indah membuat kita memiliki tingkat stres yang lebih rendah. Kita juga bisa mengunduh atau memutar suara alam yang menenangkan. Jangan meremehkan kekuatan mendengarkan air terjun, suara hujan, kicauan burung, ombak, atau suara gesekan daun. Hasilnya nggak hanya meningkatkan relaksasi dan rasa santai. Hasil juga mencakup pemulihan perhatian dan kinerja kognitif yang lebih baik. Sebuah penelitian yang diterbitkan di Psychonomic Bulletin & Review, menunjukkan peserta yang mendengarkan suara alam, khususnya suara ombak laut dan jangkrik, mengerjakan tes dengan lebih baik daripada partisipan yang mendengarkan suara perkotaan seperti lalu lintas dan klakson mobil. Hem… menarik kaan.. Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan Teman Baik Klikers dan Teman Baik, kita tanpa sadar mencari penyembuhan yang jauh dan mahal. Padahal ada banyak sumber daya yang murah dan punya efek menenangkan yang sangat berpengaruh, salah satunya adalah anugerah alam di sekitar kita. Saat pikiran sumpek dan penuh, kenapa kita tidak keluar sejenak melihat sekitar. Melihat langit biru, daun-daun yang bergesekan, air yang mengalir. Atau, jika kita memang kesulitan untuk keluar dari ruangan karena berbagai alasan, kita bisa mencoba menghadirkan alam itu ke dalam ruangan. Sepuluh menit saja berinteraksi dengan alam membawa dampak yang besar untuk kita. Jadi, sudah merencanakan apa nih untuk lebih dekat dengan alam? Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya Bratman GN, Anderson CB, Berman MG, et al. Nature and mental health: an ecosystem service perspective. 2019;5(7). Gascon M. Zijlema W. Vert C. White M. Nieuwenshuijsen M. Outdoor blue spaces, human health and well-being: A systematic review of quantitative studies. International Journal of Hygiene and Environmental Health, 220. 2017;1207–1221. https://doi.org/10.1016/j.ijheh.2017.08.004 Meredith GR, Rakow DA, Eldermire ERB. Minimum time-dose in nature to positively impact the mental health of college-aged students, and how to measure it: a scoping review. Front. Psychol. 2020. Schertz KE, Berman MG. Understanding Nature and Its Cognitive Benefits. Current Directions in Psychological Science. 2019;28(5):496-502. doi:10.1177/0963721419854100 Texas A & M. Health and well-being benefits of plants. van den Berg MM, Maas J, Muller R, et al. Autonomic Nervous System Responses to Viewing Green and Built Settings: Differentiating Between Sympathetic and Parasympathetic Activity. Int J Environ Res Public Health. 2015;12(12):15860-15874. Published 2015 Dec 14. doi:10.3390/ijerph121215026 Van Hedger SC, Nusbaum HC, Clohisy L, Jaeggi SM, Buschkuehl M, Berman MG. Of cricket chirps and car horns: the effect of nature sounds on cognitive performance. Psychonomic Bulletin & Review. 2019;52:522-530.

  • Kenalan Sama Bullet Journal

    Pernah nggak sih kamu merasa kurang produktif? Kamu merasa cara kamu merencanakan kehidupan itu kurang terorganisir sehingga kamu seperti bekerja serampangan. Nah, gimana kalau cobain melakukan journaling yang tipenya bullet journal? Apa itu Bullet Journal? Sebenarnya apa sih bullet journal itu? Adalah campuran dari diary, agenda harian, list to do (daftar tugas). Bullet sendiri bermakna poin. Siapa penggagas dan pengesah pertama kali ide ini? Penggagasnya adalah Ryder Caroll yang menjelaskan bahwa bullet journal ini adalah tulisan harian yang bisa membuat kita melacak masa lalu, mengatur hari ini, dan merencanakan masa depan. Apa Menariknya Si Bullet Journal Ini? Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih yang membuat bullet journal begitu menarik? Nah, yang bikin tipe jurnal ini menarik adalah karena bullet journal memungkinkan orang untuk mencatat pencapaian, tujuan, pemikiran, inspirasi, dan refleksi secara terorganisir dan kreatif. Kita nih, dapat mencatat kemajuan harian, mingguan, dan bulanan menuju tujuan kita. Ini bisa menjadi sistem yang efektif ketika mencoba mengubah kebiasaan, mencapai tujuan, atau membuat semacam perubahan hidup. Ciri khas yang ada pada bullet journal adalah adanya kelompok-kelompok tugas yang diorganisir. Apakah Bullet Journal Tepat untuk kita ? Bullet Journal yang terorganisir biasanya menarik bagi mereka yang menyukai struktur dan organisasi. Namun, kerumitan seperti itu bisa menakutkan bagi orang yang tidak suka struktur. Namun, meskipun bullet journal adalah tipikal journal yang sangat terstruktur, tapi sebenarnya bullet journal sangat mudah dikreasikan—kita bisa dapat membuat bullet journal versi kita sendiri, untuk memenuhi kebutuhan spesifik kita, kita bisa membuat bullet journal sederhana atau rumit sesuai dengan gaya dan kepribadian kita. Kita juga bisa memilih untuk fokus pada isu-isu yang ingin kita khususkan. Misalnya kita ingin fokus dengan diet dan kesehatan untuk menurunkan berat badan atau berolahraga, kita bisa membuat poin-poin yang ingin kita raih dalam kesehatan itu. Atau kita dapat melacak suasana hati kita untuk mencari pola yang memengaruhi perilaku kita dengan membuat poin-poin apa yang mempengaruhi hidup kita. Atau, ada yang fokus kepada tujuan akademis, atletik, karir, atau pengembangan pribadi. Semua isu bisa menjadi fokus dalam membuat bullet journal. Jadi Milih yang Mana Dalam Journaling Dear Klikers dan Teman Baik, kenyataannya adalah nggak ada keharusan atau kriteria khusus yang akan berhasil untuk semua orang, tetapi bullet journal memang memiliki beberapa keuntungan yang patut dipertimbangkan nih. Memang bullet journal terkesan sangat terorganisir dan pada awalnya terkesan ribet. Tapi, kalau sudah menguasai dan terbiasa akan menghemat waktu kita dalam jangka panjang. Keuntungan Memiliki Jejak Visual Dari Hari-Hari Kita Dear Klikers dan TemanBaik, keuntungan lain menggunakan Bullet Journal adalah memungkinkan kita untuk dengan mudah melacak berbagai hal dalam format yang sangat visual dan terorganisir. Jurnal-jurnal ini juga memungkinkan kita untuk mengeksplorasi sisi kreatif kita, lho. Misalnya dengan mencoret-coret kertas, membuat sketsa, catatan dengan berbagai kode warna, peta pikiran (mind map), dan aktivitas mencurahkan pendapat lainnya dapat digabungkan ke dalam bullet journal kita. Serunya lagi, mencoret-coret kertas itu bukan hanya sekadar cara untuk mengilustrasikan tulisan kita ke dalam bentuk yang menarik lho, tapi bisa digunakan untuk meningkatkan daya ingat kita. Ada nih sebuah penelitian yang mengatakan membuat visualisasi catatan kita dengan gambar akan meningkatkan memori item tersebut lebih baik daripada hanya menuliskannya Menulis Memiliki Banyak Manfaat Tindakan sederhana untuk menuliskan sesuatu seringkali dapat membuat sesuatu tampak lebih mudah dikelola lho. Salah satu manfaat utama menulis adalah menuangkan rencana kita yang Cuma muter di kepala kita aja dan memasukkannya ke dalam kertas sehingga bisa dilihat dalam pola yang lebih konkrit. Proses mengeluarkan, mencurahkan dan mengekspresikan pemikiran kita di atas kertas ini dapat membuat tujuan kita lebih jelas dan lebih mudah teraih. Menuangkan isi pikiran kita juga dapat membuat daftar tugas (to do list) menjadi nggak terlalu menakutkan, karena segala langkah yang harus ditempuh jadi lebih jelas. Klikers dan #temanbaik, menyimpan list to do di pikiran kita sering ya makin jadi beban, bisa membuat stres, dan malah kerasa makin abstrak, tapi dengan mencantumkan semuanya di atas kertas dapat memberi kita proses langkah demi langkah sehingga daftar tugas kita jadi lebih mudah untuk ditangani. Melacak hal-hal secara visual dapat mempermudah untuk membuat hubungan antara emosi dan perilaku kita. Journaling juga sangat membantu jika kita ingin memperbaiki kesehatan seperti menurunkan berat badan atau berhenti merokok. Kok bisa? Sebab, ketika kita dapat melihat emosi, situasi, atau pikiran kita lebih cenderung mengarah kepada hal-hal negatif, kita jadi paham bahwa kita dapat melakukan lebih banyak upaya untuk menghindari pemicu ini di masa depan. Serunya Melacak Pencapaian Kita Klikers dan temanbaik, beberapa orang menganggap membuat list to do (daftar tugas) bisa jadi sangat memotivasi. Sebab, dengan memiliki serangkaian tujuan yang jelas, kita jadi punya daftar langkah apa saja yang harus diraih. Namun, ada juga sebagian dari kita merasa membuat daftar rencana itu menakutkan. Alih-alih berfokus pada apa yang telah diselesaikan, beberapa orang jadi malah fokus pada daftar tugas yang masih belum selesai. Atau bisa berpotensi merasa sangat kewalahan dengan jumlah daftar tugas yang dibuat dan endingnya malah makin nggak semangat deh. Karena sifat bullet journal yang sangat personal, kita dapat melacak prestasi dengan cara yang nyaman untuk kita. Kalau kita nih menemukan daftar tugas sebagai motivator yang efektif, maka kita harus, dengan segala cara, memasukkannya ke dalam jurnal kita . Jika daftar seperti itu menurunkan motivasi, coba deh fokus ke membuat daftar "selesai" untuk mencatat apa yang telah kita capai. Daftar seperti itu nggak terlalu menakutkan dan memberikan rasa pencapaian. Cara Memulai Bullet Journal Yang kita perlukan untuk memulai hanyalah buku catatan atau jurnal kosong dan pulpen/pena. Kita dapat membuat keputusan akan menggunakan medium apa pun. Boleh, jurnal, buku sketsa, atau buku catatan kosong apa pun akan berfungsi. Kita dapat memilih untuk menggunakan hanya buku catatan sederhana yang diisi dengan kertas bergaris atau membeli jurnal yang berkualitas lebih tinggi dengan halaman berat yang sempurna untuk menulis, membuat sketsa, mencoret-coret, atau apa pun yang kita pilih untuk disertakan dalam jurnal kita . Kita juga dapat memilih untuk berinvestasi dalam alat tulis berkualitas tinggi, pita, spidol, dan stiker yang dapat kita gunakan untuk menghias, mengatur, mengkategorikan, dan menyesuaikan halaman jurnal kita. Namun, jangan menghabiskan terlalu banyak uang sebelum kita yakin metode penjurnalan ini cocok untuk kita ya… Apa yang Harus Diperhatikan? Dear KIikers dan Teman Baik, isi jurnal itu benar-benar terserah kita. Beberapa ciri khas yang mungkin ingin kita sertakan bisa meliputi Daftar Isi/Indeks Halaman yang berfungsi sebagai daftar isi dan harus menyertakan daftar judul halaman dengan nomor halaman, terkait untuk halaman tertentu yang mungkin ingin kita temukan di kemudian hari. Daftar Rencana. Kita juga bisa membuat daftar tujuan jangka panjang kita, dari tujuan yang lebih kecil hingga impian yang paling tinggi sekalipun. Daftar Agenda. Kita juga bisa membuat kalender dengan mencantumkan tenggat waktu, acara, dan pengingat penting lainnya. Daftar Tugas. Kita juga memasukkan tugas rutin yang emang harus kita kerjakan sehari-hari. Misalnya list hutang, tagihan, dan keuangan yang harus kita bayar, hadiah yang perlu kita beli untuk teman, buku yang ingin kita baca, atau jenis daftar lainnya yang mungkin ingin kita buat. Daftar Memori. Kita bisa membuat halaman spesial mengingat hal-hal yang menyenangkan hari ini. Jika Klikers dan #TemanBaik membutuhkan lebih banyak ide tentang apa yang harus disertakan dalam bullet journal kita, Bisa juga googling untuk mencari inspirasi. Nggak ada salahnya juga belajar dari penggiat journaling lainnya. Sebuah Kata Dari Sangat Baik Bullet Journal banyak dipakai karena bisa menjadi cara yang menyenangkan, berguna, dan efektif untuk mengatur, merencanakan, dan melacak tujuan, proyek, dan tugas kita. Mungkin keuntungan terbesar dari bullet journal adalah nggak perlu alat dan bahal yang mahal. Dengan buku catatan murah, alat tulis, dan beberapa kreativitas, kita dapat membuat bullet journal yang bermanfaat dan dapat membantu kita bertumbuh menuju goal kita. Semangat #bertumbuh setiap hari yaa…. Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir Belajar Yuk Dari Sumber Ilmiahnya Carroll R. The Bullet Journal Method: Track the Past, Order the Present, Design the Future. New York, NY: Penguin; 2018. Mueller, PA, & Oppenheimer, DM. The pen is mightier than the keyboard: Advantages of longhand over laptop note taking. Psychological Science. 2014;25(6):1159–1168. Wammes JD, Meade ME, Fernandes MA. The drawing effect: Evidence for reliable and robust memory benefits in free recall. Quarterly Journal of Experimental Psychology. 2016;69(9):1752-1776. doi:10.1080/17470218.2015.1094494 Wammes, JD, Meade, ME, & Fernandes, MA. The drawing effect: Evidence for reliable and robust memory benefits in free recall. The Quarterly Journal of Experimental Psychology. 2016;69(9):1752-1776.

  • Jadi Nomor Satu, Akankah Selalu Sukses?

    Teman Baik, pernah nggak nih punya teman yang dari jaman SD juara kelas terus, eh sampe SMP dan SMA masih aja jadi peraih ranking 1 dan jadi kebanggan guru-guru. Prestasinya nggak berhenti-berhenti ngalir ke temanmu yang satu itu.. pasti ada kan? Kebayang nggak gimana dia kalau udah kerja dan berkarier! Wow makin gemilang ya sepertinya! Tapi kenyataannya nggak semulus itu ferguso. Coba tengok teman-temanmu, mungkin ada yang berprestasi selama di sekolah dan kuliah, tapi pas lulus kuliah menghilang. Entah nggak ada kabar, nggak pernah muncul di acara reuni, atau bahkan kabarnya nggak secemerlang teman-temanmu yang lain. Justru teman-temanmu yang dulu biasa aja, yang pas sekolah bolpen aja masih pinjem bangku sebelah malah cepet kariernya. Kok bisa ya dia yang dulu bukanlah dia yang sekarang? Buat kamu yang masih berpikir bahwa jadi nomor satu dan berprestasi secara akademik akan membuat seseorang lebih mudah mencapai karier yang gemilang serta keuangan yang mapan, kamu harus sedikit mengoreksi pemikiranmu itu. Karena faktanya tidak selalu demikian. Orang-orang yang dikatakan sukses dengan parameter pencapaian-pencapaian akademik dan finansial rata-rata memiliki sifat persistence atau gigih. Inget nggak kata Angela Duckworth bahwa “Consistency of effort over the long run is everything”. Paham? Jadi memang kegigihan dan konsistensi dalam memperjuangan sesuatu pencapaian yang kamu inginkan berpengaruh paling besar terhadap kesuksesan. Bukan karena kamu high achiever, pinter, cantik, ganteng, ranking satu, menang lomba dimana-mana, dan jadi kebanggaan keluarga dan bapak ibu guru lantas kamu pasti akan meraih sukses abadi di masa depan. Tapi karena kamu punya orang dalem! 😊 Hehehe candaaa… tapi karena kamu terus berusaha fokus pada proses, bukan hasil. Apalagi di masa pandemi ini, semua orang merasa lelah dengan aktivitas daring yang cenderung monoton dan akhirnya kehilangan motivasi. Wajar kok, tapi sayangnya puncak kesuksesan tidak menunggu kamu saat berada di situasi yang baik. Jadi mau seburuk apa hari-hari yang kamu jalani di masa pandemi, kamu harus tetap melangkah. Sebosan apapun kamu melihat laptop buat meeting online.. kamu tidak sendiri, Teman Baik! PR buat kamu nih, coba gali lagi apa yang kira-kira bisa membuatmu nyaman ditengah kondisi pandemi ini supaya hidupmu tetap bermakna! Tentang Penulis Nurkhalisha Ersyafiani, S.Psi Halo Klikers dan Teman Baik, saya Ersya. Saat ini, sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi di Universitas Gadjah Mada. Saya senang belajar tentang dinamika kehidupan manusia, berbagi cerita, juga menulis artikel seputar kesehatan mental dan pengembangan kepribadian. Ngobrol yuk via Instagram di @nurkhalishaersya

  • Ketika Kita Punya Banyak Minat dan Bakat, Harus Berkarir Apa?

    “Halo Klikers, bagaimana cara kita tau "hal apa yg sebenarnya kita mau?" jujur sampai saat ini saya masih bingung tujuan hidup saya apa, semua sudah dicoba tapi masih merasa ada yg kurang pas?” Ada nggak di antara kalian yang ngerasa punya banyak bakat dan minat? Kemudian jadi bingung mau nentuin karir apa, mau jadi spesialis di bidang apa, atau tujuan hidupnya mau kemana? Memang akhir-akhir ini, gaung untuk menjadi seorang spesialis dengan begitu kuatnya. Apalagi anjuran-anjuran untuk menemukan satu hal yang akan kita fokuskan dan kemudian menguatkan hal itu untuk jadi spesialisasi kita. Tapi, apa kabar kamu, kita atau mereka yang memiliki banyak bakat dan minat, bakal bingung banget kan pas diminta untuk menekuni satu hal aja. Nah, buat kamu yang ngerasa multiminat dan multibakat, kamu mungkin akan terus merasa gelisah dan bisa juga ngerasa salah serta menyalahkan dirimu sendiri karena kamu kok nggak bisa fokus satu aja sih. Atau, kamu bisa aja ngiri sama temen-temenmu yang udah tahu satu hal yang ingin dia fokusin di mana dan sudah mulai kelihatan hasilnya. Sementara, kamu kok masih ingin coba ini itu, begitu banyak yang membuatmu tertarik dan dengan cepat bisa kamu kuasai juga. Jadi, pernah nggak kamu merasa aneh karena berbeda dengan teman-temanmu? Dalam beberapa kasus, si multipotensi ini bisa saja mengalami kecemasan dan depresi, karena merasa tidak bisa diterima oleh orang lain, sendirian, dan merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri. Kalau kamu memang tipikal yang memiliki banyak minat dan bakat, namun belum tahu sebenarnya dirimu mak Mari kita kenalan dengan istilah “Multipotentiality” sebuah kondisi dimana seseorang dianugerahi multiminat dan multibakat. Si Banyak Bisa, Si Banyak Ingin Multipotensialitas adalah sebuah istilah yang diinisiasi oleh Emilie Wapnick, seorang penulis dan pembicara best-seller, yang pernah mengisi TedTalk dengan judul “​Why some of us don't have one true calling​” (Mengapa sebagian dari kita tidak punya satu panggilan hati?). Multipotensi adalah sebuah keadaan yang mana seseorang memiliki banyak bakat yang luar biasa, jadi nggak Cuma satu karpet merah saja, ia bisa jadi banyak hal dan melakukan hal tersebut sama baiknya. Anak-anak pintar dan berbakat seringkali (walaupun tentu aja nggak selalu), sering berpotensi memiliki banyak minat dan potensi. Kemampuan intelektual mereka yang tinggi dan rasa ingin tahu mereka yang kuat menjadikan mereka bisa jadi unggul di berbagai bidang. Kemampuan yang banyak Ini bisa menjadi berkah sekaligus kutukan. Sisi baiknya, para multipotensi ini memiliki banyak pilihan untuk karir masa depan. Tetapi pada sisi negatifnya, beberapa multipotensi ini akan berjuang mati-matian mencoba memutuskan pilihan mana yang harus diambil. Mereka akan terserang banyak dilemma dan banyak sekali kegundahan. Terutama saat mereka mulai masuk ke sekolah menengah atas, perkuliahan, dan bahkan pasca kampus, dimana mereka mulai mendapati dunia meminta dan menganjurkan mereka menjadi seorang spesialis. Dilema ini bisa menjadi sumber stress yang luar biasa. Pada banyak kasus menyebabkan harga diri yang rendah, tidak semangat untuk hidup, kebingungan, kesepian, kecemasan dan bahkan depresi. Kalau Kamu Merasa Multipontensialis, Jangan Merasa Sendiri Para multipotensialis ini seringkali merasa ada yang salah dengan diri mereka ketika mereka melakukan perbandingan dengan orang lain. Seringkali mereka merasa sangat salah dan tidak nyaman menjadi diri sendiri. “Kenapa aku nggak bisa menemukan satu hal saja yang bisa aku tekuni seperti temanku,” “Apakah aku harusnya memilih satu pekerjaan saja seperti orang lain?” tapi, ketika mereka menjalaninya, mereka merasakan ketidaknyamanan, kehilangan diri mereka sendiri, kebosanan, dan berbagai hal lainnya. “Apakah aku orang yang nggak bisa berkomitmen karena aku nggak bisa memilih satu jenis minat saja?” “Apa aku nggak bakal sukses kalau punya banyak minat kayak gini, sementara teman-temanku udah mulai naik jabatan?” Klikers dan 3TemanBaik, kalau dalam sanubarimu kamu adalah seorang spesialis, yang tahu apa satu hal yang menjadi panggilan jiwamu, maka lakukan itu dengan sepenuh hati. Namun, ada juga yang tercipta dengan energi yang sangat besar untuk menyukai banyak hal dan bisa menguasai tidak hanya satu bidang. Kamu bisa jadi tercipta sebagai makhluk multipotensi. Kamu tidak perlu membuang jati dirimu sebagai si multipotensi ini. Berbanggalah Jika Kamu Multipotensi Setidaknya ada tiga kemampuan unik yang dimiliki oleh si multipotensi ini, yaitu kemampuan inovasi, belajar cepat, dan adaptasi. Inovasi Bagi spesialis, menjadi sangat ahli di suatu bidang menyediakan kemampuan dan ketajaman dalam satu bidang khusus. Namun, menjadi seorang multipotensialis, kemampuan unik mereka adalah mengkombinasikan satu dan beberapa bidang. Ini adalah cikal bakal lahirnya berbagai jenis inovasi. Apalah di era saat ini yang mana kemampuan inovasi sangat dibutuhkan oleh semua pihak. Belajar Cepat Multipotensi ini tidak sama dengan mereka yang tidak tahu punya bakat apa. Tetapi, mereka sangat tahu, bahwa minat mereka sangat banyak. Oleh karena itu, satu ciri khas multipotensialis adalah mereka senang belajar dan seringkali dengan cepat belajar apapun (ingat seringkali multipotensi dialami oleh anak cerdas berbakat istimewa (gifted)? Kemampuan belajar cepat ini juga sangat dibutuhkan pada era dimana perubahan terjadi begitu cepat, sehingga kita harus terus bisa dan mau mengembangkan diri. Para multipotensialis ini sudah diberikan anugerah dari sana untuk menguasai sesuatu dengan cepat, namun juga mudah bosan dengan cepat, karena lagi-lagi sesuatu itu tidak lagi terasa menantang. Adaptif Kalau kalian merupakan orang dengan multipotensi, berbahagialah, karena kalian benar-benar makhluk yang dianugerahi secara alami keinginan untuk terus belajar sesuatu yang baru, tertantang menaklukkan banyak hal, dan tentu saja, tidak takut mencoba hal baru. Dampak panjangnya adalah para multipotensialis ini akan menjadi orang yang secara alami adaptif. Soal Karir dan Kecenderungan Alamiahmu Hai para multipotensialis, jika kamu orang yang punya banyak minat dan bakat, bebaskan dirimu sendiri untuk hanya berkarir di satu hal. Ada banyak cara menyiasati hal ini. Misalnya, bekerjalah kamu di sektor yang memang mendukung karakter belajar dan inovatifmu, atau, kamu bisa juga merawat semua minatmu dengan menjadi freelancer sehingga tidak perlu terikat pada satu tempat yang membuatmu harus menyempitkan potensimu, lalu bagaimana jika kamu memutuskan satu pekerjaan utama, namun tetap mengembangkan minat lainnya sebagai pekerjaan sampingan lainnya? Sepatah Kata Dari Klik.Klas Jika kamu telah berhasil menyelesaikan artikel ini dan kamu baru sadar bahwa kamu seorang multipotensialis, jangan pernah merasa sendirian dan salah arah. Perasaan tidak punya tujuan kadang menjadi tekanan yang begitu besar, tapi pada saat yang sama, banyak anugerah yang membersamai kecenderungan alamiahmu ini. Be happy, dear multipotentialist Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir Baca Artikel Ilmiahnya Yuk… Nester, H., & Buford, M. (2018). Multipotentiality: Finding a career path that reflects who you truly are. Achter, J. A., Benbow, C. P., & Lubinski, D. (1997). Rethinking multipotentiality among the intellectually gifted: A critical review and recommendations. Gifted Child Quarterly, 41(1), 5-15.

  • Hindari Terus Menerus Lari Dari Masalah

    Hai Klikers dan Teman Baik, pernah nggak kamu melakukan ini ketika menghadapi masalah? Kamu menolak untuk membicarakan masalah tersebut. Kamu menemukan cara untuk membenarkan perilakumu yang menolak bicara masalah yang kamu hadapi. Kamu menyalahkan orang lain atas masalah yang kamu hadapi. Kamu menunda-nunda untuk mengatasi masalah yang sudah harus segera selesaikan. Kamu menghindari memikirkan masalahmu. Selain tanda-tanda di atas bisa saja kamu merasa putus asa dan tidak berdaya. Pada tingkat tertentu, kamu tahu ada masalah yang perlu ditangani, tetapi kamu merasa bahwa nggak ada yang bisa kamu lakukan atau katakan untuk menangani masalah itu. Ketika orang lain mencoba menawarkan nasihat atau bantuan, kamu mungkin cuma berpura-pura setuju atau menyuruh mereka untuk mengurusi urusan mereka sendiri. Kalau kamu melakukan hal ini, kamu bisa dimungkinkan sedang melarikan diri dari masalah yang sedang kamu hadapi alias denial. Penolakan adalah jenis mekanisme pertahanan yang cirinya adalah kita dengan sengaja mengabaikan realitas di depan mata kita untuk menghindari kecemasan yang mungkin akan muncul saat berhadapan dengan realitas tersebut. Oh ya, mekanisme pertahanan diri adalah strategi yang digunakan oleh kita saat mengatasi perasaan tertekan. Saat kita lari dari masalah, artinya kita berusaha menghindari kecemasan yang nggak kita sukai, terutama saat proses menyelesaikan masalah yang memang seringkali nggak menyenangkan dalam prosesnya. Klikers dan Teman Baik dalam jangka pendek, lari dari masalah bisa saja terasa bermanfaat. Jeda ini dapat memungkinkan kita untuk memiliki waktu menyesuaikan diri dengan perubahan mendadak dalam hidup kita. Dengan memberi diri kita waktu, kita mungkin bisa menerima, beradaptasi, dan akhirnya mau berhadapan dengan masalah tersebut. Namun, jika kita terus menerus beralasan sedang memberi jeda pada diri sendiri, padahal pada dasarnya kita hanya menyangkal. Bisa jadi akan semakin banyak masalah yang muncul, terutama jika hal itu membuat masalah kita semakin besar dan berlarut-larut. Tidak Boleh Ya Lari Dari Masalah? Klikers dan Teman Baik, bisa jadi ada beberapa di antara kamu yang bertanya. Mengapa Tuhan menciptakan salah satu mekanisme pertahanan diri manusia adalah melarikan diri dari masalah (denial). Pada dasarnya seperti mekanisme pertahanan lainnya, penolakan berfungsi sebagai cara kita untuk melindungi diri dari kecemasan. Dalam beberapa kasus, penolakan bisa jadi adalah cara untuk menghindari rasa sakit yang menyakitkan yang mungkin akan kita hadapi. Dengan menolak untuk menghadapi atau bahkan mengakui bahwa ada sesuatu yang salah, kita bisa jadi mencoba untuk mencegah menghadapi stres, konflik, ancaman, ketakutan, dan kecemasan. Namun, sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Lari dari masalah adalah satu strategi menghadapi masalah secara emosional, namun tidak menyelesaikan secara praktikal. Masalah tetap harus dihadapi. Masalah harus tetap dihadapi dengan dan diselesaikan, jangan sampai dibiarkan berlarut-larut. Lalu Bagaimana Cara Membuang Kebiasaan Lari Dari Masalah? Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan, bagaimana caranya aku bisa berhadapan dengan orang yang pernah menyakitimu di masa lalu, sementara kamu takut akan tersakiti jika berhadapan dengannya? Maka pertanyaan lanjutannya adalah memulai dari mindset kita terlebih dahulu. Kita bisa saja memiliki asumsi dan prasangka negatif yang irasional. Kita bisa saja sangat takut bahwa akan banyak hal buruk yang muncul ketika kita memberanikan diri menyelesaikan masalah tersebut, bisa jadi kita juga takut akan tanggapan orang saat kita mulai mencoba menyelesaikan diri kita perlahan-lahan. Semua ketakutan ini semakin membuat kita merasa enggan untuk menyelesaikan masalah kita. Padahal bisa jadi semua itu hanya asumsi, semua persepsi negatif bisa jadi tidak seburuk yang kita pikir. PIkiran-pikiran negatif ini harus kita lawan. Misalnya saat kamu berusaha menyelesaikan suatu masalah. Kamu diserang pikiran seperti.. Gimana nanti kalau aku dibenci semua orang saat berani mengakui kesalahanku? Gimana kalau rasanya akan lebih sakit berhadapan sama orang yang menyakiti kita? Gimana kalau ternyata memutuskan menghadapi masalah akan membuat banyak pihak jadi ga enak hati? Apapun ketakutanmu, apapun kecemasanmu, bisa jadi sebenarnya tidak seburuk yang kamu kira. Apa benar semua orang akan membencimu? Belum tentu. Apa benar rasa sakitnya akan semakin bertambah saat kita memutuskan menghadapi masalah kita? Belum tentu. Apa benar semua orang akan jadi tidak enak hati ketika kita berusaha membuka masalah kita? Bisa jadi benar bahwa konflik akan menimbulkan ketidaknyamanan, tapi sering kali hal ini lebih baik daripada berusaha menabur garam sedikit demi sedikit di atas luka. Singkirkan semua perasaan negatif itu dan putuskan. Putuskan untuk menghadapinya dengan berbagai resikonya. Karena, berani menghadapi masalah adalah bagian dari proses bertumbuh. Semangat untuk selalu bertumbuh setiap hari ya… Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya 1. Costa RM. Denial (Defense mechanism). In: Zeigler-Hill V, Shackelford TK, eds. Encyclopedia of Personality and Individual Differences. Springer International Publishing; 2017:1-3. doi:10.1007/978-3-319-28099-8_1373-1 2. Bailey R, Pico J. Defense Mechanisms. In: StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. Updated December 9, 2020.

  • Cara Memandang Peristiwa Negatif yang Sehat

    Pernah nggak kamu ngalamin kejadian yang nggak menyenangkan secara beruntun? Misalnya kamu telat ngumpulin tugas kuliah, terus pas kamu cek lagi, eh baru sadar kalau banyak banget hal yang masih kurang oke di tugas yang sudah kamu kumpulin itu, seperti banyak tulisan typo dalam paper kamu dan ada detail lainnya yang rasanya masih belum dibenerin. Duh rasanya pasti kecewa dan kepikiran banget. Belum lagi, di saat yang bersamaan, kamu lagi ada konflik sama temen satu kelompok, misal karena ada perbedaan cara kerja. Eh setelah ini kamu perlu nyiapin ujian lagi, padahal masih bad mood. Ugh sepertinya masalah datang bertumpuk-tumpuk pada saat yang sama ya.. Pada saat seperti ini, apa pikiran yang berkecamuk dalam benak kamu ? *** Atau mengalami hal yang nggak sesuai harapan padahal udah berusaha sedemikian rupa? Misal kamu takut banget sama statistik. Supaya bisa meningkatkan nilai, kamu udah ngereview semua catatan kuliah kelompok-kelompok belajar, selain itu kamu udah tentoring sama kakak tingkat yang dapat nilai A dengan harapan kamu makin terlatih. Dengan segala macam yang kamu lakuin, kamu berharap seenggaknya kamu dapat nilai minimal B supaya nggak ngulang mata kuliah statistik semester ini. Pada hari dilaksanakannya ujian, kamu juga sudah tidur cukup, nggak lupa menjaga kesehatan diri, serta sarapan sebelum ujian. kamu ngerasa sudah mempersiapkan secara maksimal untuk mengerjakan ujian statistika hari ini. Pas ngerjain soalnya, kamu merasa hampir semua soal mampu kamu kerjakan dengan baik, dan kamu juga telah mengumpulkan tepat pada waktu yang telah ditentukan. 30 hari kemudian, pas nilai kamu muncul, ternyata eh ternyataa… hasilnya kurang memuaskan. Dengan segala usaha yang kamu usahain, kamu dapat B-. Padahal harapan kamu , minimal dapat nilai B lah. Lalu kalau kamu mendapatkan hasil yang nggak sesuai harapan, apa hal pertama yang terlintas di pikiran kamu ? Apakah kamu akan kecewa? *** Kita bisa aja mengalami hari-hari buruk dan berat. Bisa aja, suatu saat, kita ngumpulin tugas meskipun udah hati-hati banget tetep aja banyak salahnya. Pertanyaannya adalah setelah mengalami serangkaian kejadian yang kurang menyenangkan, bagaimana cara kita menyikapinya? Apa yang kita pikirkan? Misal, setelah dapat feedback tajem dari dosen bahwa kerjaan kamu kurang rapi dan teliti. Apakah kamu akan merasa bahwa kamu adalah orang yang paling nggak teliti sedunia? Lalu, merasa diri kamu adalah orang terceroboh di sedunia akhirat? Saat kamu kecewa dengan hasil presentasi kamu yang kurang maksimal, apa yang kira-kira kamu pikirkan? Apakah seperti ini? “Duh, kenapa sih kita bodoh banget!” atau “Kenapa ya kita selalu mengalami kejadian kayak gini saat kita presentasi? Kayaknya kita orang tersial sedunia!” Saat kamu bikin kesalahan-kesalahan dalam beberapa hal. Apakah kamu juga sering merasa menjadi orang yang selalu membuat kesalahan dalam mengerjakan tugas? Apakah kamu merasa bahwa kamu adalah orang tersial sedunia? *** Kalau kamu mengangguk dan menjawab pertanyaan di atas dengan “Iya kayaknya aku SELALU merasa paling ceroboh” Waduh hati-hati! Cara menjelaskan sesuatu yang terjadi dalam hidup tanpa kita sadari akan berkontribusi terhadap kebahagiaan kita lho. Kok bisa? Oke stay tune terus, karena kita akan coba bicara sebuah bernama “Explanatory Style” atau “Gaya Kita Menjelaskan Sesuatu dalam Hidup Kita” *** Explanatory Style? Explanatory style adalah sebuah cara untuk merasionalisasi apa yang terjadi dalam hidup kamu (Peterson & Seligman, 1987). Lebih gampangnya, explanatory style merupakan gaya kamu menjelaskan sebab akibat dari berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Secara sederhana adalah “Mengapa hal ini terjadi?” Secara umum ada dua gaya menjelaskan sesuatu yaitu gaya optimis versus pesimistik. Pesimis Oke kita akan mulai dari gaya pesimis. Kalau kamu seorang pesimis, biasanya saat kamu mengalami suatu hal yang negatif, kamu merasa bahwa apa yang kamu alami itu sifatnya global, durasinya stabil dan dan tanggungjawab kejadian itu ada di internal diri kamu. Sementara, kalau kamu seorang optimis, kamu akan melihat suatu peristiwa negatif sebagai sesuatu yang kamu lokal, waktunya tidak stabil dan penyebabnya bisa jadi dari orang lain eksternal dan nggak melulu salah kamu (Peterson & Buchanan, 1995). Biar lebih jelas lagi akan membawa tiga konsep ini, yaitu pertama: global versus lokal, kedua: stabil versus tidak stabil, dan ketiga: internal versus eksternal. Supaya lebih jelas lagi, kita akan kaitkan dengan cerita kita di awal. Misalnya pas kamu presentasi, kamu memiliki beberapa kesalahan dan bisa jadi beberapa typo yang nggak dia harapkan. Kalau Kamu, orang yang pesimis, dia akan melihat satu kesalahan kecil yang harusnya cuma local aja, jadi super gede dan global. Lokal itu ibaratnya sesuatu yang kecil dan lokasinya di situ-situ aja. Misal dalam masalah awal tadi, kamu cemas karena typo (salah ketik) yang kamu alami sebenarnya nggak segedhe itu alias lokal, dan nggak ngaruh-ngaruh amat sama presentasi kamu, kalau kamu seorang pesimis, kamu akan anggap seluruh presentasinya adalah kegagalan. Padahal, belum tentu, karena itu adalah kesalahan kecil yang nggak perlu digedein. Misalnya lagi, kamu merasa bahwa penampilanmu tadi nggak maksimal. Okelah, memang kenyatannya demikian. Tapi, ingat, presentasi 10 menit yang kurang maksimal tadi, cuma satu dari sekian banyak presentasi yang terjadi dalam hidup. Jangan sampai satu presentasi yang kurang maksimal mengalahkan memori belasan kali presentasi kamu yang baik-baik saja. Misalnya lagi, kamu kurang bisa di salah satu mata kuliah sebab kamu seringkali dapat nilai yang kurang memuaskan dalam mata kuliah tersebut. Saat kamu berpikiran pesimistik, kamu akan menghukumi dan ngejudge bahwa kamu gagal kuliah di jurusan itu. Padahal, satu mata kuliah hanyalah satu dari sekian banyak mata kuliah yang kamu ambil di jurusan itu, jadi jangan bikin peristiwa negative yang bisa kamu Kita kalisir jadi gede dan global. Seorang pesimis akan mencoba menggenalisasi kegagalan jadi terasa super gedhe dan global, sementara seorang optimis akan mencoba melokalisir kegagalan itu. Stabil versus Tidak Stabil Selanjutnya… Seorang pesimis merasa kejadian negatif bersifat stabil, akan terus hadir, dan nggak akan pernah berubah. Sementara seorang optimis merasa kejadian yang negatif itu nggak stabil, bisa aja besok berubah. Misal, kalau kita seorang yang pesimistik, apabila suatu hari kita mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam hidup, kita akan menganggap bahwa peristiwa negatif yang terjadi dalam hidup dengan kita adalah peristiwa yang selalu terjadi secara stabil. kita bisa aja memberi label ke hidup kita “hidup yang selalu sial”, “Pasti deh, kayak gini kejadiannya,” Kalau kita seorang yang optimis, kita akan menarik hal ini sebagai peristiwa yang nggak stabil, ibaratnya kita kamu lokalisir, jadi “Oke cuma hari ini doang kok, biasanya baik-baik saja,” Misal lagi, saat kita presentasi dan hasilnya kurang maksimal karena kita punya banyak kejadian kurang menyenangkan lainnya secara bersamaan, kita akan menjelaskan bahwa apa-apa yang terjadi hari ini, adalah sebuah hal yang tidak stabil. Artinya nggak selamanya kita akan mengalami kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan secara bersamaan. Nggak selamanya kita akan terus buruk dalam menyampaikan sesuatu. Atau kalau kita gagal dalam matakuliah, sebagai seorang optimis, kita paham bahwa kita nggak selamanya akan dapat B- di mata kuliah statistic, tapi bisa aja suatu saat akan jadi lebih baik, karena kegagalan itu bukan sesuatu yang stabil terjadi. Pasti ada kesempatan asal kamu mau mencoba lagi-lagi dan lagi. Internal vs Eksternal Selanjutnya, tipe penjelasan yang terakhir kepada siapa kamu menyandarkan tanggung jawab atas kejadian-kejadian negatif yang menimpa diri kamu? Apakah kamu menyalahkan dirimu sendiri (internal) atau di luar dirimu (eksternal)? Jika kamu mengaitkan tanggung jawab dengan diri kamu sendiri, maka kontrolnya adalah internal. Jika tanggung jawab dikaitkan dengan orang lain atau faktor lain, maka kontrolnya eksternal. Yang sehat adalah kamu secara adil memahami bahwa nggak selalu peristiwa negatif itu karena kita atau sebaliknya, nggak selalu peristiwa negatif itu karena orang lain. Pemahaman yang toksik adalah saat kamu merasa bertanggungjawab atas seluruh peristiwa negatif dalam hidup kamu. Toksik juga kalau kamu nyalahin orang lain terus. Seorang optimist adalah orang yang bisa dengan adil melihat kapan memang dirinya yang bertanggungjawab dan kapan bukan. Bagi sebagian kita yang muslim, ada konsep dalam Islam bahwa ada ranah yang memang perlu kamu usahain secara maksimal, ada juga peristiwa-peristiwa dalam hidup kamu yang kamu nggak punya kendali. Kayak kita lahir dari siapa, jenis kelamin apa, dan kita dilahirkan di kota dan banyak hal lainnya yang di luar kuasa kita. Pada ranah-ranah seperti itu, kamu kudu melepaskan tanggungjawab dari dirimu. Kesimpulan Klikers, sebagai muda yang selalu bertumbuh setiap hari, kamu harus belajar jadi seorang optimis yang sehat. Orang yang optimis menganggap kejadian negatif itu nggak stabil, local dan penyebabnya ga selalu diri sendiri. *** Sepatah Kata dari Kami Klikers yang selalu mencoba selalu bertumbuh setiap hari. Peristiwa negatif akan selalu hadir di dalan hidup kita. Tetapi, bagaimana kita melakukan penjelasan atas peristiwa negatif itulah yang akan berdampak banget ke kehidupan kita. Percayalah bahwa peristiwa negatif itu lokal, tidak stabil dan eksternal! Jangan overgeneralisir, jangan merasa akan terus terjadi dan nggak selalu semua salah diri sendiri. Ikuti terus update informasi untuk membantu kamu bertumbuh setiap hari di @KlikKlas. Jangan lupa like, subscribe dan komen yaa... *** Yuk Baca Jurnal Aslinya Beck, A. T., Steer, R. A., & Brown, G. K. (1996). Beck depression inventory (BDI-II) (Vol. 10, p. s15327752jpa6703_13). Pearson. Beck, A. T., & Weishaar, M. (1989). Cognitive therapy. In Comprehensive handbook of cognitive therapy (pp. 21-36). Springer, New York, NY. https://positivepsychoKita gy.com/find-a-silver-lining/ https://positivepsychoKita gy.com/optimistic-explanatory-style/ Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir

  • Katanya Kontributif Itu Tanda Sehat Mental? Kok Aku Malah Stress?

    “Katanya indikator sehat mental dari WHO itu mengenali diri sendiri, mampu mengatasi stress harian, produktif dan kontributif, tapi kok aku ikut banyak organisasi malah stress sendiri ya, apanya yang sehat mental sih?” *** Wadududuh… Ada ga yang mengalami hal serupa? Aktif di sana sini, ikut organisasi bejibun, volunteering dan kegiatan masyarakat dimana-mana, tapi eh malah stress, nggak bahagia, dan bikin banyak masalah lagi. Alih-alih produktif bikin sehat mental, malah bikin stress sendiri ya…? Baiklah mari bicara sehat mental, produktif, dan memahami kapasitas diri. INDIKATOR SEHAT MENTAL Apa sih indikator sehat mental itu? Yup, menurut WHO, ada empat indikator dasar sehat mental yang gampang banget dihapal. Pertama, tahu diri sendiri. Tahu diri sendiri ini apa sih maksudnya? Maksudnya kita tahu apa sih kelebihan dan kekurangan kita. Setiap manusia PASTI punya kelebihan, aku yakin nggak ada yang nggak. Soalnya, Allah aja udah bilang, kalau ciptaannya nggak ada yang nggak punya manfaat di bumi ini. “Tapi, aku ga tahu kelebihanku apa?” Nah, ini bukan nggak ada kelebihan lho. Berarti masih PR untuk mencari kelebihan kita tuh apa. Atau, paling nggak apa sih minat kita. Serta apa sih tujuan besar kita dalam hidup ini. Kalau masih bingung, bisa berkontemplasi terlebih dahulu hehe. Atau, tanya deh ke orang-orang sekitarmu apa sisi positif dan negatifmu. Temukan satu hal yang paling banyak disebut oleh banyak orang lainnya. Apakah itu karakter baik misal kamu terkenal sabar, dan kalem, atau kemampuan hardskillmu seperti kemampuan desain atau memasak. Catat baik-baik dan kembangkan mana yang paling sering disebut oleh orang lain. Itu artinya your signature strength! Kedua, Mampu Mengatasai Stress Harian Kenapa sih Lembaga kesehatan dunia seperti WHO meletakkan memahami potensi diri itu sebagai bekal awal sebelum masuk ke indikator selanjutnya? Karena oh karena, memahami potensi diri berikut kelebihan dan kelemahannya adalah cara efektif yang penting banget digunakan pas kita mengalami stress harian. Misalnya, kita nih tiba-tiba ketemu temen keren, eh, kita jadi minder dengan segala pencapaian dia. Nah, minder ini bisa bikin stress kalau ga dikelola dengan baik. Bisa mengganggu kualitas kebahagiaan kita. Namun, kalau kita tahu apa kelebihan kita, kita bisa berbisik ke diri sendiri, “It’s okay, aku tahu, kelebihanku dan dia berbeda. Kita berjalan di karpet merah yang beda, kita adalah individu yang beda,” Dan, insecure ini bisa agak dikontrol, dibandingkan mereka yang nggak tahu dirinya sama sekali. Contoh lainnya, kalau kita stress di usia awal 20 an, mau nentuin karir dan mau memutuskan kerja di bidang apa. Stress atas banyaknya pilihan ini bisa banget diatasi pakai pemahaman diri sendiri. Selling point, atau, titik jual diri kita kebaca dari kelebihan kita. Kita mau ambil karir apa, bisa berdasarkan kelebihan kita juga. Ini yang disebut sebagai mengatasi stress dengan memahami diri sendiri. Ketiga, Aktif Orang yang udah tahu dirinya sendiri, tahu bakat dan minatnya, serta mampu mengatasi stress harian bakal jadi orang yang lebih aktif nggak? Iya dong. Karena dirinya udah nggak belibet lagi sama pikiran-pikiran yang kusut dan stress yang nggak bisa diatasi. Karena itu, penting sekali untuk tahu diri sendiri, lalu pemahaman diri ini dibuat untuk mengatasi stress harian, supaya kita bisa berlari lebih cepat lagi. Aktif itu bukan berarti kamu jadi super aktif dan nggak bisa diem ya. Aktif ini secara sederhana adalah lawan dari statis. Kalau kamu berkegiatan hari itu, misal bersih-bersih rumah, memasak, bantuin ibu ke pasar, bantuin ayah cuci kendaraan, lalu kamu siap-siap sekolah atau ngampus, lalu bisa kuliah, melewati hari itu dengan kegiatan, kamu aktif. Orang yang depresi, biasanya lebih tidak aktif. Menarik diri dan berdiam diri. Makanya, kalau kita masih bisa berkegiatan dengan normal, kita masih terbilang aktif. Keempat, Produktif dan Kontributif Ujung-ujungnya, kalau kita sudah bisa memahami diri sendiri, mampu mengatasi stress harian, serta berkegiatan seperti biasa, kita lebih bisa punya kesempatan untuk berkontribusi di masyarakat. Kalau temen-temen mengambil bagian dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, jadi relawan, berorganisasi, dan membantu sesama, selamat kamu sudah berkontribusi dan kamu kontributif. Jangan dipikir kalau berkontribusi kepada masyarakat itu kayak jadi superhero menyelamatkan dunia. Oh tidak seperti itu. Berkontribusi itu levelnya sangat subjektif dan tergantung poin satu, poin memahami diri sendiri. Kamu tahu batasan dirimu, kamu tahu, di bagian mana kamu bisa berperan secara aktif, dan kamu tahu kapan harus berhenti. Semua ini sangat subjektif. Know yourself, Klikers dan teman baik sekalian. Jadi, Kok Bisa Aktif Di Berbagai Kegiatan, Malah Jadi Nggak Sehat Mental? Jawabannya, apakah kamu sudah mengukur dirimu sendiri? Apakah kegiatanmu berdasarkan pemahaman akan dirimu sendiri, akan tujuan besarmu, atau, karena ikut-ikutan temen, nggak enakan, menyenangkan orang lain, atau gengsi? Kamu yang tahu dirimu sendiri. Kamu yang tahu jawabannya. Kegiatan yang bejibun akan bikin happy dan kamu bersemangat menjalaninya, jika ini sesuai dengan pemahaman akan dirimu sendiri. Kamu juga akan happy dan mengalami stress yang baik (yang mendorong kita berkembang dan bertumbuh) kalau kita tahu ukuran diri sendiri, seberapa banyak kegiatan yang harus kita ambil dan seberapa batas kita untuk mengatakan “Oke, kayaknya aku ga bisa ambil lebih dari ini,” Atau bisa aja, urusan ini nggak serumit itu, kamu hanya butuh istirahat sejenak. Sebelum berlari lagi. Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan #TemanBaik Klikers dan #TemanBaik, menentukan progress dan proses bertumbuh itu harus bin kudu dari memahami diri sendiri. Menentukan jumlah kegiatan dan batasan diri, juga berasal dari paham diri sendiri. Kalau kita terus mengambil kesibukan tanpa mengevaluasi apakah ini sudah sesuai dengan diri kita, tujuan kita, dengan batasan kita, wajar bukan kalau kita jadi berlari tanpa semangat dan tujuan, jadi mudah lelah dan uring-uringan. Untuk #selalubertumbuh, membuat baseline pertumbuhan dengan memahami diri ini super penting banget. Semoga produktivitas kita bukan sekedar sibuk, tapi benar-benar produktif. Semoga kegiatan kita ini bukan sekedar ikut-ikutan. Tapi, bener-bener berbasih tujuan besar kita. Selamat bertumbuh dan menjadi produktif. Kamu Suka Baca Referensi Aslinya? Ini Dia … Wicklund, R. A. (1979). The influence of self-awareness on human behavior: The person who becomes self-aware is more likely to act consistently, be faithful to societal norms, and give accurate reports about himself. American scientist, 67(2), 187-193. Peter Hartung, M. B. A. (2020). The impact of self-awareness on leadership behavior. Journal of Applied Leadership and Management, 8, 1-21. Gerbrandt, S. (2006). Self-awareness: Its relationship to personal effectiveness and success in the workplace. Library and Archives Canada= Bibliothèque et Archives Canada, Ottawa. Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir

  • Apa Sih Tanda Kita Semakin Sehat Mental?

    Pernah nggak sih kamu bertanya-tanya ke diri sendiri, “Apakah kesehatan mentalku membaik setelah segala upaya perawatan diri yang dilakukan?” Klikers dan ##TemanBaik, kalau kita sedang mengalami sakit fisik, lalu kita periksa ke dokter, dan meminum obat, kita pasti kerasa ya bedanya kondisi kita pas sakit sama pas kita sembuh. Nah, sekarang kalau kesehatan mental kita udah meningkat, apa nih ciri-cirinya? Sebab, rasanya nggak tanda-tanda yang jelas kayak pas sakit fisik, apakah kita sudah mulai sehat secara mental atau malah sebaliknya. Padahal kita udah mencoba melakukan konseling, relaksasi, dan berbagai upaya lainnya. Karena kesehatan mental ini emang gangguan yang ga langsung terlihat mata, tapi seringkali terasa. Mari kita cek gimana sih tanda bahwa segala upaya menjaga kesehatan mental kita itu berbuah hasil apa nggak… Gejala Kita Berkurang Salah satu tanda yang bisa kita amati adalah intensitas dan gejala kita berkurang. Misalnya kita mengalami insomnia yang parah, sekarang kita sudah mulai tertidur sebentar, barang cuma 1 atau 2 jam. Atau, kita mengalami gangguan kecemasan, biasanya kita bisa kambuh hampir setiap hari, sekarang sudah berkurang dan lebih sedikit. Contoh lainnya adalah melihat dari intensitas. Misal kita mengidap gangguan emosi, saat emosi kita naik turun, kita bisa seharian merasa terkurung dan tidak berfungsi, atau bahkan lebih lama dari itu, maka jika terapi kita mulai berhasil, bisa jadi kita tidak lagi begitu lama terjebak dalam emosi yang naik turun dengan intens sampai berhari-hari. Bisa jadi kambuh dan melumpuhkan kita dalam beberapa saat saja. Namun, jangan putus asa kalau kita masih punya gejala itu. Jangan putus asa jika kemajuan kita tidak stabil. Semua itu butuh proses. Tujuan utama kita adalah terus bertumbuh dan berprogress, maka sekecil apapun progressnya, jangan lupa dirayakan. Selamat kamu sudah semakin sehat dari hari kehari. Ciri-Ciri Umum Lainnya Lalu, gimana cara mengidentifikasi diri kita yang nggak punya gangguan mental berat. Misal nih, saya nggak punya gangguan panik, insomnia, atau gangguan lainnya yang levelnya berat. Tapi, tetap saja kan kadang stress dan tekanan hidup membuat kita jadi down dan banyak pikiran. Kita nih yang paham bahwa kesehatan mental itu perlu diusahakan, pasti ngelakuin beberapa usaha untuk mengatasi hal-hal yang mengancam kesehatan mental dalam hidup kita. Nah, setelah serangkaian upaya dilakukan, apa sih tanda-tanda umumnya selain pengurangan intensitas dan gejala gangguan yang dialami? Kualitas Tidur yang Semakin Baik Bagi yang menjalani terapi atau sesi konseling lanjutan. Salah satu pertanyaan pertama yang akan ditanyakan oleh para profesional kesehatan mental kepada kita adalah seperti apa jadwal tidur kita. Tidur dan kesehatan mental itu saling berkaitan lho. Karena indikator penting kita mengalami stress yang nggak bisa kita atasi adalah gangguan tidur. Bisa jadi kita jadi susah tidur, mimpi buruk, atau tidur yang tidak dalam dan mudah terbangun (insomnia atau kesulitan tidur); atau; kita jadi terus menerus merasa kelelahan dan jadi terus menerus tidur meski kita sudah cukup banyak tidur (hipersomnia (terlalu banyak tidur)). Makanya, jaga bener-bener deh tidurmu. Tidur cukup dan berkualitas sangat penting untuk diupayakan sekuat tenaga, seperti kita sekuat tenaga nyicil uang liburan akhir tahun hehe. Peningkatan pola tidur adalah ukuran kemajuan yang baik. Misalnya, kalau kita mengalami gangguan tidur berupa insomnia, apakah kita sudah mulai bisa tidur lebih banyak? Kalau gangguan tidur kita berupa hypersomnia, apakah kita sudah mulai bisa tidur pada waktunya dan pada jam tidur yang wajar? Kalau kita mengalami gangguan tidur berupa tidur yang tidak dalam (Light sleep) dan gampang mimpi buruk, apakah kita sudah mulai bisa tidur tanpa mimpi dan lebih nyenyak? Jadi pola tidur ini indeks penting kesehatan mental kita yaaa.. Emosi Kita Lebih Stabil “Siapa nih yang habis melakukan perawatan diri dan kesehatan mental emosinya makin stabil?” Salah satu tanda peninkatan kesehatan mental kita adalah emosi kita udah nggak naik turun ekstrim kayak lagi main roller coaster. Emosi kita jadi nggak berubah secara ekstrim dalam waktu yang cepat dan kita lebih bisa mengendalikan emosi kita. Emosi kita nggak mengambil alih kesadaran kita lagi. Kesadaran kita ga dibajak oleh emosi kita, kita lah yang bisa mengendalikan emosi kita. Misalnya kita telah mengalami kedukaan yang sangat panjang, kita merasa kita tidak punya emosi apapun, tidak ada bahagia, sedih, atau emosi lainnya. Kedukaan kadang membuat kita mengalami emotional numbness atau mati rasa emosi. Hidup kita terasa kosong dan hampa, artinya emosi inilah yang mengendalikan kita. Kalau kesehatan mental kita semakin baik, kita semakin bisa mengontrol emosi kita. Kita tidak lagi diarahkan oleh emosi, tapi kitalah yang memegang kontrol. Nafsu Makan Stabil Apa sih ciri kesehatan mental kita lagi terganggu? Salah satunya adalah kita jadi mengalami gangguan nafsu makan. Bisa aja, kita jadi nggak nafsu makan sama sekali, atau, jadi nafsu makan banget. Nafsu makan kita nggak stabil dan di luar kebiasaan kita. Makanya, hal-hal penting lain yang bisa menjadi indikator penting dalam indeks kesehatan mental kita adalah apakah nafsu makan kita stabil dan tidak ada perubahan yang ekstrim. Stabil itu bisa beda-beda ya untuk setiap orang. Ada yang setengah porsi hingga beberapa piring hehe. Yang penting adalah kita sudah kembali ke pola biasa kita. Kita Lebih Punya Batasan yang Sehat Batasan yang sehat itu seperti apa? Batasan yang sehat itu adalah saat kita tahu bahwa diri kita bisa kok punya batas (boundary) dengan orang lain. Kita tidak harus selalu seperti yang lain, atau kita tidak selalu harus terlalu berbeda dengan yang lain. Kita lah yang menetapkan batasan diri kita secara sehat. Misalnya dulu kita nggak berani menolak orang lain, sekarang kita lebih sehat dalam menentukan batasan kapan mengiyakan kapan tidak. Dulu, bisa jadi kita terlalu berjarak, sehingga orang lain sulit mendekati kita, sekarang kita tahu kapan harus menarik dan mengulur batasan pribadi dan orang lain. Kenapa memiliki batasan diri dan lingkungan itu penting? Karena pada dasarnya, manusia adalah campuran antara makhluk individualis dan sosial, maka kadang perlu ada waktu untuk menjadi diri sendiri tanpa intervensi juga waktu untuk bersama orang lai Kita Lebih Percaya pada Diri Sendiri Jika kita adalah tipe orang yang sangat bergantung pada pendapat orang lain untuk membuat keputusan, kemampuan baru untuk memercayai penilaian kita sendiri, dapat menjadi pencapaian besar dalam perjalanan kesehatan mental kita. Bayangkan perasaanmu ketika mengenakan pakaian baru? Menyenangkan bukan? Nah, sekarang bayangkan kamu sedang membuat keputusan untuk meninggalkan dirimu yang sebelumnya dan menjadi diri yang lebih percaya diri. Kita tidak lagi mencari validasi dari luar (orang lain), karena kita tahu apa yang sedang kita jalani, dan bagaimana kecepatan kita sendiri. Kecerdasan Emosional Kita Meningkat Meskipun kita nggak bisa mengukur kecerdasan emosional kita sebagaimana kita bisa mengukur IQ kita, tapi kerasa kok kalau kecerdasan emosional kita meningkat. Misalnya, kita bisa merespon berbagai hal yang tidak menyenangkan dalam hidup dengan lebih baik. Beberapa tandanya adalah kita nggak menginternalisasi, atau menyimpan emosi kita terlalu dalam, seperti dulu. Tingkat kecerdasan emosional kita yang tinggi juga bisa ditunjukkan dengan kita untuk mengekspresikan diri sendiri secara asertif daripada menjadi agresif atau pasif-agresif. Kita mungkin juga lebih bisa bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Gimana Kalau Kondisi Saya Kronis? Jika kita memiliki kondisi kesehatan mental yang kronis, kita bisa jadi merasa frustrasi karena harus hidup dengan diagnosis gangguan mental selamanya, tapi sebenarnya ada tanda-tanda yang lebih jelas yang mungkin dapat kita ambil untuk mengukur kemajuan kita saat kita berjuang untuk sembuh. Pertama, penurunan episode gangguan. Kalau kita memiliki gangguan depresi berat, kita biasanya akan memiliki beberapa kali episode kambuh dalam setahun. Kalau kita berobat dan terjadi peningkatan kesehatan mental, episode ini akan berkurang. Kedua, perilaku sehat kita akan meningkat. Jika kita berurusan dengan penyakit mental yang parah seperti skizofrenia atau gangguan bipolar, episode kambuhnya gangguan dengan sangat berat, mungkin selalu menjadi bagian dari kenyataan kita. Bahkan, jika kita datang untuk terapi secara teratur, bisa saja kemajuan kita nggak terlalu banyak. Tapiii, kesediaan kita untuk minum obat setiap hari dan tidak pernah bolong saja adalah tanda positif lainnya yang harus kita rayakan. Sepatah Kata Dari Klik.Klas Dear Klikers dan #TemanBaik, tanda-tanda yang kita bicarakan di atas adalah sedikit ciri-ciri saja dari kesehatan mental kita yang membaik. Namun, kalau kita belum membaik dan nggak melihat adanya kemajuan apapun, bukan berarti nggak ada kemajuan sama sekali. Seringkali, kita terlalu ingin cepat selesai dan terburu-buru. Bisa juga kita nggak melihat perubahan dalam diri kita karena kita ingin perubahan yang begitu besar. Padahal ada perubahan yang tipis dan itu positif kea rah yang lebih baik. Atau, bisa jadi orang lain lah yang melihat perubahan dalam kesehatan mental kita. Semoga kita semua tetap semangat untuk #selalubertumbuh setiap hari. Referensi Compton RJ. The Interface Between Emotion and Attention: A Review of Evidence from Psychology and Neuroscience. Behavioral and Cognitive Neuroscience Reviews. 2003;2(2):115-129. doi:10.1177/1534582303002002003 Scott AJ, Webb TL, Rowse G. Does improving sleep lead to better mental health? A protocol for a meta-analytic review of randomised controlled trials. BMJ Open. 2017;7(9):e016873.

  • Jerawat dan Pesan Tersembunyi

    “Apakah kamu pernah sakit tapi pas ke dokter, eh ternyata nggak ada apa-apa?” Mari kita dengar cerita salah satu temanbaik yang bersedia membagi ceritanya di sini. Namanya Zakiyah dan Ia anak psikologi. Zaki bercerita ia sudah jerawatan nggak karuan selama 2 minggu terakhir ini. Ia merasa aneh, sebab jerawatnya gedhe-gedhe banget. Zakiyah adalah pemilik kulit kering dan Ia nggak pernah jerawatan sebanyak ini. Zakiyah bahkan menghitung jerawat di dahinya itu sampai ada sejumlah 11 butir lho. Aneh benar katanya. Seumur hidup, Ia mengakui bahwa Ia nggak pernah jerawatan sebanyak ini. Zakiyah tipikal yang kalau jerawatan cukup 1 buah, sudah tidak ada lagi, dan biasanya Ia hanya jerawatan saat akan menjelang menstruasi. Sementara saat ini Zakiyah dalam masa suci, tapi jerawatnya mengalahkan masa-masa itu. Pola hidup Zakiyah sudah jauh lebih sehat daripada sebelumnya. Zakiyah makan sayur setiap hari, tidur malam di bawah 23.00. Zakiyah juga sering di rumah sejak kuliah online ini, Ia jarang motoran keluar, air di daerah Zakiyah juga termasuk bening dan bersih, udara bagus karena ia hidup di pegunungan, makanan bergizi (Ia mengkonsumsi lemon dan vitamin setiap hari) dan Zakiyah berolahraga. Apalagi sebagai orang yang (bangga) jarang menggunakan kosmetik dan bukan maniak skincare apapun, Zakiyah menjamin muka Zakiyah nggak kena kontaminasi kosmetik khusus. Lalu apa dong yang menyebabkan Zakiyah jerawatan sedemikian parah? Ia mencoba mencari penyebab jerawat di area dahinya yang parah itu ke dokter. Setelah itu, dokternya cuma tertawa dan mengatakan, “Ah mbak lagi stress aja ini, coba relaksasi dan atasi stressnya, selain pola hidup juga dijaga,”. Nah, lho! Zakiyah langsung ingat kalau kulitnya sensitif. Karena Ia juga seorang anak Psikologi, Ia tahu benar bahwa stress akan menghantam bagian fisik Zakiyah yang terlemah. Rasanya masuk akal. Pola hidup Zakiyah semakin sehat, tapi sejujurnya banyak hal yang akhir-akhir ini membebani pikiran Zakiyah. Dari tugas organisasi yang menumpuk, tugas kuliah yang deadlinenya makin dekat, sama beberapa hal lainnya yang rasanya jadi satu di kepala. Meskipun Zakiyah diam saja dan terlihat tertawa-tawa saja, tapi banyak yang membebani kepalanya. PSIKOSOMATIS Klikers dan TemanBaik, mari bicara tentang gejala yang dialami Zakiyah. Ia mengeluh jerawatan (fisik) yang ternyata disebabkan oleh faktor psikis atau mental, seperti stres, depresi, takut, atau cemas. Gejala fisik ini akan sering muncul pada salah satu titik atau beberapa titik terlemah dalam tubuh kita. Dalam psikologi ini disebut sebagai psikosomatis. Psikosomatis terdiri dari gabungan pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Artinya soma (sel tubuh Zakiyah dipengaruhi oleh psike (gejala mental)). Meskipun Zakiyah menolak, seperti Zakiyah yang menolak mengakui bahwa Zakiyah stress, tubuh Zakiyah lebih jujur. Dalam kepala Zakiyah bisa jadi berpikir seperti ini, “Ah, mana ada aku stress, setiap hari yang dialami juga kayak gini. Emang aku ngapain? Wong nggak berhadapan sama apa-apa.” Tapi, tampaknya tubuh Zakiyah nggak mau bekerjasama dengan otaknya. Zakiyah sebenarnya tahu bahwa kulitnya sensitif (ini juga alasan nggak mau pakai kosmetik dan skincare, sering banget Ia ga cocok, jadi Ia nyerah sama sekali), terbukti kalau Zakiyah habis berwudhu (dimanapun) muka Zakiyah akan terasa gatal-gatal, kalau tidak segera dikeringkan, Zakiyah sering tersangkut masalah kulit, dari tangan dan kaki bentol-bentol, kalau salah pakai detergen, kaki akan auto gatal, kalau sandal nggak bersih Zakiyah. Sebenarnya bukan hanya dirinya saja. Beberapa adik Zakiyah punya gejala yang sama dengan Zakiyaj. Ia akan gatal-gatal dengan berbagai bentuknya, saat Zakiyah terkena stress. Jadi, Ia sudah lebih aware dengan gejala gatal-gatal yang muncul padahal tidak terjadi perubahan pola hidup khusus. Namun, Zakiyah tidak menyangka bahwa kulit yang sensitif ini sekarang unjuk rasa di bagian wajah. Biasanya kalau Zakiyah stress, unjuk rasa si stress ini via lambung, bagian lain dari Zakiyah yang sensitif. Tapi ternyata, kali ini lewat wajahnya. Ia nggak menyangka sama sekali. Si Stress ini seakan berkata. “Hai, perhatikan aku, perhatikan aku, jangan abaikan aku. Apakah aku harus muncul dalam bentuk fisik dulu, biar aku diperhatikan oleh Tuanku?” Setelah Zakiyah menyadari bahwa jerawat yang lagi unjuk rasa ini disebabkan oleh stress. Keesokan harinya Zakiyah melakukan regulasi emosi lewat olahraga dan relaksasi, dan tahu nggak hasilnya apa? Beberapa hari setelahnya jerawatnya mulai mengering sampai 50%. Tinggal beberapa saja yang tersisa. Benar-benar ya regulasi emosi mempengaruhi kemunculan jerawat ini. Zakiyah masih mencoba mengelola stressnya sampai tulisan ini ditulis. Mari kita doakan agar setelah ini jerawat stressnya jauh berkurang lagi. Apa yang bisa kita pelajari? Zakiyah yang anak psikologi saja, sering sekali telah mendiagnosa psikosomatis yang Ia alami. Padahal, Zakiyah sudah sering melakukan observasi diri sendiri. Tapi, tetap saja, cara stress berunjuk rasa bisa muncul dalam berbagai cara. Zakiyah baru sadar bahwa gejala psikosomatis adalah gejala dengan ketiadaan ada gejala medis khusus/asimptomatis medis dari dokter. Jadi, Ia memasukkan hari ini ke dalam buku tabungan emosinya. Ia akan mengingat-ingat untuk kemudian hari, bahwa jika dirinya stress, Ia bisa juga muncul dalam bentuk jerawat. Atau, karena kulit Zakiyah sensitive, Ia bisa muncul dalam berbagai bentuk sakit kulit lainnya. Bisa tiba-tiba gatal-gatal sebadan, biduran tidak jelas, merah-merah, biru-biru, dan lain sebagainya. Zakiyah akan mencatat baik-baik kemunculan si jerawat hari ini. Bukan sebagai penggila skincare, tapi sebagai sosok yang mencoba terus memahami dirinya sendiri dengan segala catatan-catatan penting yang harus dimasukkan dalam buku besar “Self-Awareness” diri sendiri. Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan TemanBaik Kata kunci dari cerita hari ini adalah “stress akan menyerang titik terlemah kita”. Maka, amatilah baik-baik diri kita sendiri saat kita mengalami sakit-sakit yang berada pada area lemah kita. Periksakan ke dokter untuk memastikan apa itu adalah gejala medis atau tidak. Jika tidak ada gejala medis apapun, artinya ada gejala kesehatan mental yang harus kita cek kembali. Klikers dan temanbaik, kenalilah diri kita sendiri dengan baik. Semoga dengan ini, kita akan semakin paham bahwa stress kita butuh ditindaklanjuti, karena tubuh kita sudah mencoba memberi tahu kita. Semoga tulisan ini membantumu #selalubertumbuh Tentang Penulis Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir