• klik klas

Yuk, Bicara Asertif, Bukan Agresif



"Kenapa ya, kok aku sulit menyampaikan pendapatku, pas mencoba, malah jatuhnya marah-marah..."


Ini Kisah Lyana. Lyana merupakan seorang anak bungsu dari tiga bersaudara. Dibandingkan kakak-kakaknya, Ia merasa yang paling biasa saja. Kakak-kakaknya bersekolah di sekolah unggulan. Sementara, Ia bersekolah di sekolah dekat rumah saja.


Akhir-akhir ini, Lyana merasa mudah sekali emosi. Ia merasa orang lain sulit memahami maksudnya. Mungkin karena Lyana adalah anak bungsu, semua orang serasa lebih tahu tentang apa yang baik baginya. Ia jarang diberi kesempatan mengungkapkan keinginannya. Sekolahnya dipilihkan, kegiatan ekstrakurikuler juga diarahkan, cita-cita dan karirnya diarahkan.


Ia kesal. Kesal sekali. Kondisi yang terus menerus diarahkan membuat Lyana merasa kehilangan dirinya sendiri. Ia merasa tidak bebas dan tidak diberi kepercayaan untuk menentukan arahnya sendiri. Ia marah dengan orang lain yang memperlakukannya seperti anak kecil terus, padahal ia sudah berkuliah di tahun pertama. Nggak hanya marah dengan orang lain, Lyana juga membenci dirinya sendiri yang nggak bisa mengungkapkan keinginannya. Ia marah karena Ia tidak terlatih untuk mengungkapkan keinginannya.


Ia sudah berusaha berkomunikasi. Namun, ucapan yang keluar dari bibir Lyana selalu bernada tinggi yang memicu emosi orang tuanya. Segala kondisi ini membuat Lyana semakin bingung, kenapa Ia nggak bisa mengungkapkan dengan cara yang tepat ya. Rasanya sulit sekali mengkomunikasikan ketidaknyamanannya, perasaannya, dan pikirannya. Segala emosi itu campur aduk jadi satu membuat Lyana semakin pemurung dan mudah emosi.


 

Pernah ga sih, kamu berada di posisi Lyana yang merasa sulit mengungkapkan pikiran dan perasaanmu dengan cara yang tepat?


Atau, pernah ga kamu merasa bingung gimana cara menyampaikan pikiran dan pendapatmu dengan baik agar ga terkesan agresif?


Nah, Klikers dan Teman Baik bisa nih mencoba berlatih ngobrol dan menyampaikan pendapat secara asertif. Apaan tuh komunikasi yang asertif itu?


Komunikasi Asertif Itu Apa?



#Klikers dan #TemanBaik, komunikasi asertif itu adalah komunikasi yang jelas dan terbuka dengan keinginan serta perasaan kita, namun tetap mempertimbangkan perasaan lawan bicara kita. Tapi, ini bukan bicara yang nyablak dan dar der dor duar yaa… Komunikasi asertif itu sebuah usaha win-win solution, dimana kita menyampaikan maksud pikiran dan keinginan kita, tapi juga tetap mempertimbangkan dan menghormati kebutuhan orang lain.


Belajar berbicara dengan jelas tujuannya untuk menghormati kebutuhan dan hak semua orang—termasuk kebutuhan kita sendiri—serta mempertahankan batasan dalam hubungan orang lain, sambil membuat orang lain merasa dihormati pada saat yang sama. Langkah-langkah ini dapat membantu kita mengembangkan gaya komunikasi yang lebih sehat lho, dampak lainnya juga, bisa membantu kita menghilangkan stres dalam hidup kita.

Lalu, gimana sih caranya?


Tips Komunikasi Asertif


Berbasis Fakta Daripada Labelling

Apakah #Klikers dan #TemanBaik pernah ngerasa kesel ketika janjian sama temen tapi dia ngaret? Kamu sudah datang tepat waktu, eh dianya ngaret 20 menit. Kesel banget kan ya. Nah, saat dia datang pengen banget ngasih tahu betapa nyebelinnya menunggu tanpa kepastian dan nggak ada kabar sama sekali dari dia. Kamu ingin dia memahami perasaanmu dan kondisimu.


Kalau kamu dalam posisi ini, lalu, gimana nih cara menyampaikan kekesalanmu?


Apakah kamu akan langsung bilang, “Ih, kesel banget deh, kamu ini terlambat terus, nggak ngerti apa udah nungguin lama?”


Nah, kata terlambat terus, ini labelling. Terus itu dianggap selalu. Jadi, ibaratnya, kita langsung aja menganggap satu kesalahan itu adalah permanen dan selalu. Siapa sih yang ingin dicap terlambat terus? Kalau dia tersinggung, dia bisa aja malah balik melawan dengan mengungkit kesalahanmu juga,


Pada tips pertama ini, kamu diminta lebih berbasis fakta, seperti bilang deh sama dia, “Hem, aku udah 20 menit menunggu lho. Besok kalau terlambat, kabar-kabar aja, biar aku bisa ngapa-ngapain dulu. Aku bisa saving waktuku juga, jadi sama-sama enak,”


Tanggapan yang kedua ini, lebih berbasis fakta yaitu ’20 menit terlambat’ daripada ‘selalu’ terlambat. Saat kita mengucapkan dengan cara ini, kita bisa banget menghindari membabi buta menggeneralisir kesalahan orang lain.


Kalau balik lagi ke cerita Lyana, atau kamu yang berada di posisi serupa. Kamu bisa banget mencoba menjelaskan keadaanmu berbasis fakta, daripada menlabel orang lain dengan kata ‘selalu’.


Deskripsikan, Hindari Di-Lebay-Kan


Klikers dan #TemanBaik, kalau kita ingin menyampaikan pikiran dan pendapat kita, jangan mendramatisir dengan generalisasi berlebihan. Kata-kata yang lebay dan penuh drama itu misalnya yang generalisir ekstrim, seperti “Kamu nggak pernah mengerti perasaanku,” “Kamu itu selalu nggak mendengarkan aku,”. Kata seperti “Selalu”,“Sama sekali”, dan “Semua” ini adalah kata-kata yang mengandung unsur drama eh maksudnya berlebihan.


Balik lagi aja ke konsep sebelumnya yaitu ucapkan sesuatu yang berbasis fakta. Hindari generalisasi saat menjelaskan maksudmu dan menjelaskan kondisi orang lain. Menjelaskan fakta secara deskriptif tentang apa yang nggak kita sukai dalam perilaku seseorang, tanpa mendramatisasi atau menghakimi, adalah awal yang penting dalam komunikasi asertif, lho. Hal yang sama berlaku untuk menggambarkan efek dari perilaku mereka. Jangan melebih-lebihkan, memberi label, atau menilai perilaku kita dan orang lain.


Usahakan hanya menggambarkan saja. Misal, dalam konteks Lyana, sebagaiknya Lyana menghindari melabel semua orang selalu mengarahkannya, lebih baik diperjelas di arahan bagian mana yang Lyana merasa tidak nyaman. “Ibu, Bapak, Lyana merasa ingin menentukan jurusan kuliah sendiri, Lyana merasa senang menggambar dan mendesain, karena happy ngerjain itu, Lyana yakin Lyana bisa lulus dengan baik, dan bisa dapat pekerjaan yang sesuai minat. Kalau Lyana bahagia, kerjaan Lyana juga bisa cepet selesai, nggak emosian, dan lebih semangat pergi kuliah. Jadi, bapak ibu nggak usah cemas sama Lyana yang mogok kuliah,”


Yakin deh, nggak semua arahan orang tua itu buruk kan? Jadi, perlu diperjelas aja, sisi bagian mana dalam hidupmu yang ingin kamu kuasai dan dibebaskan dari intervensi dan arahan orang lain. Area mana yang kamu tetap memperbolehkan orang lain mengarahkanmu. Dengan seperti ini, kita jadi menghindari generalisasi, orang tua merasa jelas tentang area yang ingin kita jadi lebih mandiri, sementara itu orang tua juga merasa tetap bisa mengarahkan kita pada hal-hal lainnya. Kita senang, orang tua juga senang. Win-win solution.


Misalnya lagi nih, balik ke contoh temanmu yang terlambat datang pas janjian jalan-jalan. Kita mungkin tergoda untuk ngomel, “Duh, jadi ga asik kan karena kamu terlambat,”

Lebih baik jelaskan ga asik itu di bagian mananya? Misal “Karena terlambat, kita jadi antri tiket lebih panjang, karena sudah banyak orang yang datang untuk ngantri tiket masuk wahananya nih,”


Gunakan Sudut Pandang "Aku"


Saat kita memulai kalimat dengan "Kamu ...", kayaknya terasa sangat judgemental ya. Kayak Ibu guru lagi mengevaluasi muridnya. Bisa juga kayak lagi menyerang orang lain. Nah, untuk menghindari kesan mengevaluasi sepihak kayak gitu, kita bisa mulai dengan komunikasi dari sudut pandang kita, dan mencoba menarik empatinya terhadap kondisi kita, tanpa berusaha menghakimi orang lain.


Dalam cerita Lyana, atau kamu yang dalam posisi serupa, kamu bisa mulai dengan menjelaskan kondisimu secara deskriptif, jelas, spesifik dan nggak berlebihan, “Ibu, Bapak, Aku merasa kurang nyaman kalau diarahkan terus. Aku ingin belajar lebih mandiri, merasakan jatuh bangun di hal yang Lyana minati dari nol, jadi nanti kalau Lyana merasa butuh bantuan Lyana kabari ya.” Ini adalah cara menjelaskan yang berbasis pada diri kita dan menghindari menghakimi orang lain.


Beda banget sama sudut pandang “Kamu” seperti, “Ibu bapak selalu deh maksa Lyana kuliah di jurusan Sainteks, Ibu juga sering nuntut-nuntut Lyana sama seperti kakak-kakak.”

Kesannya jadi beda kan. Yang pertama lebih deskriptif, yang kedua lebih terkesan menghakimi.


Klikers dan TemanBaik bisa mencoba cara ini, ga apa-apa kalau masih kebawa sudut pandang kamu, dilatih aja pelan-pelan. Yang penting kita berprogress untuk #selalubertumbuh.


Gabungkan Semuanya

Inilah formula hebat yang menyatukan semua cara yaitu: jelaskan dengan sudut pandang “Aku”, hindari generalisasi, dan upayakan berbasis fakta (bukan judgement dan evaluasi membabi buta).


Kalau dibuat rumusnya, kayak gini nih… Jelaskan secara deskripsi apa yang terjadi lalu dampaknya pada diri kamu.


“Ketika kamu…., aku merasa … .”


Mari balik ke kisah Lyana, atau siapapun yang ada di posisi Lyana. Kita bisa memulai dengan menjelaskan perilaku mana yang kita kurang senangi, lalu menjelaskan perasaan kita terhadap perilaku itu.


“Ibu, Bapak, tahu nggak, kalau Ibu dan Bapak sering ngarahin Lyana untuk ikut-ikutan kakak, rasanya Lyana itu tertekan. Padahal, bakat Lyana itu beda sama kakak.”


“Ibu, terimakasih ya sudah mengarahkan Lyana. Sekarang Lyana pengen belajar mandiri, Ibu bantu Lyana mengambil keputusan sendiri ya, nanti kalau Lyana butuh bantuan Lyana pasti bilang sama Ibu,”


“Bapak, kalau Bapak nadanya tinggi, Lyana merasa takut dan jadi malah nggak mau ngomong sama Bapak. Lyana merasa lebih nyaman kalau dipanggil dengan nada yang rendah. Lyana pasti dateng kok.”


Bila kita bicara dengan berbasis deskripsi, bukan penilaian atau label, rumus ini membuat kita nggak terkesan menyerah, dan lebih jelas untuk memberi tahu orang-orang bagaimana perilaku mereka memengaruhi kita.


Sesuaikan Kondisi dan Norma yang Berlaku

Nggak dipungkiri, budaya Indonesia bukanlah budaya yang banyak menggunakan cara komunikasi asertif. Kita sering menggunakan symbol-simbol dan kalimat-kalimat tersirat. Kita diminta untuk lebih peka dan sensitif terhadap komunikasi tersirat orang di sekitar kita.

Maka, sesuaikan kondisinya. Jika memang orang yang kita ajak bicara bukanlah orang yang terbiasa dengan komunikasi terbuka, kita menakar, seberapa jauh kita perlu terbuka. Ibaratnya, kita jujur tapi dengan cara yang diterima oleh orang lain. Nah, ini memang butuh jam terbang. Namun, semua professional pasti memulai dari awal, yaitu menjadi amatir.


Jangan pernah ragu untuk berkomunikasi lebih terbuka. Karena percayalah, sebagian besar masalah di dunia ini adalah karena masalah komunikasi. Kalau kamu masih berlatih untuk lebih terbuka dengan perasaanmu dan merasa progressmu sangat lambat, nggak apa-apa, sesedikit apapun, kamu tetap #selalubertumbuh.


Pelan-pelan dilatih, tidak apa-apa jika tidak langsung berhasil. Kamu nggak sendirian dalam melalui proses untuk bisa mengungkapkan perasaan dan pikiranmu dengan lebih terbuka ini. Kita sebagai #TemanBaik akan terus berusaha mendukung semua insan muda yang punya tekad untuk terus bertumbuh setiap hari.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Dijkstra MT, Homan AC. Engaging in rather than disengaging from stress: Effective coping and perceived control. Front Psychol. 2016;7:1415. doi:10.3389/fpsyg.2016.01415


Eslami AA, Rabiei L, Afzali SM, Hamidizadeh S, Masoudi R. The effectiveness of assertiveness training on the levels of stress, anxiety, and depression of high school students. Iran Red Crescent Med J. 2016;18(1):e21096. doi:10.5812/ircmj.21096


Oana J, Ionica Ona A. Assertiveness in self-fulfillment and professional success. interpersonal dynamics in the didactic relation. Psychol. 2019;10:1235-1247. doi:10.4236/psych.2019.108079


Rogers SL, Howieson J, Neame C. I understand you feel that way, but I feel this way: the benefits of I-language and communicating perspective during conflict. PeerJ. 2018;6:e4831. doi:10.7717/peerj.4831


Yamasaki K, Nishida N. The relationship between three types of aggression and peer relations in elementary school children. Int J Psychol. 2009;44(3):179–186. doi:10.1080/00207590701656770


5 views0 comments

Recent Posts

See All