• klik klas

Workaholic, Salah Ga Sih?



Hai, apakah kamu senang menyibukkan diri sampai-sampai lupa istirahat? Teman-temanmu bahkan udah sering banget mengingatkanmu untuk lebih menikmati hidup, jalan-jalan, main-main, atau bahkan tidur dengan ukuran yang sehat?


Karena begitu seringnya orang menyarankan kamu untuk istirahat, kamu jadi berpikir ulang, “Apakah aku salah kalau senang dengan kesibukan ini?”


Kamu akhirnya memutuskan untuk lebih santai dan tidak sesibuk sebelumnya. Tapi, setelah mengurangi kesibukan kok jadi merasa nggak puas dengan hidup yang kamu jalani ya. Di sisi lain, kalau kamu tetap sibuk, menurut banyak orang kamu terlalu over.


Wah kamu jadi serba salah, mau santai dan istirahat tapi kok jatuhnya nggak bahagia. Kalau sibuk, kok menurut banyak orang itu nggak sehat. Jadi mana yang bener?


Bicara Bahagia, Bicara Subjektivitas



Klikers dan #TemanBaik dalam Psikologi Ilmiah, kita nggak mengenal istilah kebahagiaan. Bahagia itu istilah populer dari kesejahteraan subjektif (subjectivity well being/SWB).

Kesejahteraan subyektif (SWB) mengacu pada gimana sih kita mengalami dan mengevaluasi kehidupan kita sendiri, serta domain dan aktivitas spesifik dalam hidup kita (Krueger et al., 2009; Layard, 2006).


Komponen Penyusun Kebahagiaan

Lalu apa aja sih yang menyusun kesejahteraan subjektif itu? Ini dia penyusunnya...


Apakah Kita Puas Dengan Hidup Kita?


Kepuasan hidup secara keseluruhan adalah indikator yang pertama, kalau dibuat dalam bentuk pertanyaan kira-kira akan jadi seperti ini. “Secara keseluruhan, seberapa puaskah kita dengan kehidupan kita secara keseluruhan akhir-akhir ini?”. Baik secara pribadi, pekerjaan, studi, hubungan dengan keluarga, teman, pertetanggaan, semuanya itu kalau jadi satu, seberapa memuaskan kehidupan yang kamu punya?


Jawabannya pasti beda-beda. Ada yang lahir dari keluarga dengan orang tua yang lengkap, baik dan pengertian, tetap saja merasa nggak bahagia. Sebaliknya, ada yang terlahir dari banyak kekurangan materi, tapi sudah merasa puas dengan hidupnya. Artinya kebahagiaan merupakan sesuatu yang disusun dari evaluasi subjektif kita terhadap kehidupan kita. Yang nggak bisa disama-samain satu orang dengan orang lainnya. Jadi, kalau kamu merasa puas dengan kehidupanmu yang sibuk, kamu nggak perlu menyamakan kepuasanmu dengan orang lain. Kamu yang tahu titik mana kesibukanmu bersifat toksik bukan?


Apakah Emosi Positif Kita Lebih Dominan?


Indikator yang kedua untuk melihat apakah hidup kita bahagia adalah persentase emosi positif kita dibandingkan dengan emosi negatif kita. Kalau tadi ada yang bertanya, “Katanya terlalu sibuk itu nggak baik, jadi apakah aku harus berhenti dan jadi orang santai aja?”

Tapi, pas kamu mengambil hidup yang lebih santai, nyatanya kamu merasa lebih sedih, lebih bersalah, dan berbagai emosi negatif lainnya. Nah, makanya coba deh dirasa-rasain, apakah ketika kamu sibuk emosimu lebih positif atau negatif? Kalau lebih banyak emosi positifnya, meskipun ada masa ketika pekerjaan kita nggak menyenangkan, artinya tetap aja kesibukanmu membawa lebih banyak emosi positif.

Sementara, kalau kesibukanmu mulai membawa lebih banyak emosi negatif, kamu memang perlu mengevaluasi kembali, apakah kesibukanmu perlu dikurangi atau kamu perlu istirahat yang lebih lagi. Kamu bisa amat-amati kembali emosimu selama ini yaa…


Apakah Hidup Kita Bermakna?


Kebahagiaan menurut Psikologi disusun dari perasaan bermakna lho. Pertanyaan seperti, “Seberapa bermakna sih hidup kita?” “Seberapa berharga apa yang aku lakuin?” “Apakah pekerjaanku adalah hal yang sia-sia, atau, menuju tujuan akhir yang besar?”. Bicara kebahagiaan, kita bicara tentang perasaan bermakna, berharga, adanya tujuan besar dalam hidup kita, dan perasaan berkembang dari yang kita lakukan.


Kalau kita tahu bahwa kesibukan kita ini, bukan sibuk sekedar sibuk, kalau kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah cara untuk mencapai tujuan besar kita, artinya kita sibuk di jalan yang benar. Bukan sibuk sekedar sibuk. Karena kita tahu apa yang kita lakukan ini berharga. Jadi, kita nggak perlu merasa ciut dan mengikuti orang lain yang nggak tahu tujuan besar dan betapa kita merasa kesibukan kita begitu bermakna. Kesibukan kita punya tujuan besar yang bisa jadi hanya dipahami oleh diri kita sendiri. Orang lain bisa saja tidak merasakan betapa membahagiakannya menjadi sibuk. Atau, mereka merasa terjebak dalam kesibukan yang tidak mereka senangi. So, go ahead baby!


Sepatah Kata dari Klikers dan #TemanBaik

So, jika kita merasa kesibukan yang kita lakukan memuaskan, memberi banyak emosi positif, dan berharga artinya itu kesibukan yang membahagiakan. Meskipun demikian, tidak ada salahnya juga untuk mengambil jeda. Namun, kamu yang tahu, kapan kesibukan yang kamu lakukan bisa jadi positif dan negatif. Saat sudah mulai memunculkan emosi negatif, maka istirahat dulu. Kalau sudah lebih baik, lanjut lagi. Sesuaikan dengan pemahaman dirimu ya. Untuk #selalubertumbuh tidak perlu sama dengan orang lain. Keep that in mind 😊.


Baca Juga Sumber Aslinya

Krueger AB, Kahneman D, Schkade D, Schwarz N, Stone AA. National time accounting: The currency of life. Krueger AB, editor. Chicago: Chicago University Press; 2009. pp. 9–86. (Measuring the Subjective Well-Being of Nations: National Accounts of Time Use and Well-Being).

Layard R. Happiness and public policy: A challenge to the profession. Economic Journal. 2006;116(510):C24–C33.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir

Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.











2 views0 comments

Recent Posts

See All