• klik klas

Stop Berpikir Ini Saat Mengalami Peristiwa Negatif



Pernah nggak kamu ngalamin kejadian yang nggak menyenangkan secara beruntun?


Misalnya kamu telat ngumpulin tugas kuliah, terus pas kamu cek lagi, eh baru sadar kalau banyak banget hal yang masih kurang oke di tugas yang sudah kamu kumpulin itu, seperti banyak tulisan typo dalam paper kamu dan ada detail lainnya yang rasanya masih belum dibenerin. Duh rasanya pasti kecewa dan kepikiran banget. Belum lagi, di saat yang bersamaan, kamu lagi ada konflik sama temen satu kelompok, misal karena ada perbedaan cara kerja. Eh setelah ini kamu perlu nyiapin ujian lagi, padahal masih bad mood.

Ugh sepertinya masalah datang bertumpuk-tumpuk pada saat yang sama ya..

Pada saat seperti ini, apa pikiran yang berkecamuk dalam benak kamu ?


Atau mengalami hal yang nggak sesuai harapan padahal udah berusaha sedemikian rupa? Misal kamu takut banget sama statistik. Supaya bisa meningkatkan nilai, kamu udah ngereview semua catatan kuliah kelompok-kelompok belajar, selain itu kamu udah tentoring sama kakak tingkat yang dapat nilai A dengan harapan kamu makin terlatih. Dengan segala macam yang kamu lakuin, kamu berharap seenggaknya kamu dapat nilai minimal B supaya nggak ngulang mata kuliah statistik semester ini.


Pada hari dilaksanakannya ujian, kamu juga sudah tidur cukup, nggak lupa menjaga kesehatan diri, serta sarapan sebelum ujian. kamu ngerasa sudah mempersiapkan secara maksimal untuk mengerjakan ujian statistika hari ini. Pas ngerjain soalnya, kamu merasa hampir semua soal mampu kamu kerjakan dengan baik, dan kamu juga telah mengumpulkan tepat pada waktu yang telah ditentukan.


30 hari kemudian, pas nilai kamu muncul, ternyata eh ternyataa… hasilnya kurang memuaskan. Dengan segala usaha yang kamu usahain, kamu dapat B-. Padahal harapan kamu , minimal dapat nilai B lah.


Lalu kalau kamu mendapatkan hasil yang nggak sesuai harapan, apa hal pertama yang terlintas di pikiran kamu ?


Apakah kamu akan kecewa?


***


Kita bisa aja mengalami hari-hari buruk dan berat.


Bisa aja, suatu saat, kita ngumpulin tugas meskipun udah hati-hati banget tetep aja banyak salahnya.


Pertanyaannya adalah setelah mengalami serangkaian kejadian yang kurang menyenangkan, bagaimana cara kita menyikapinya? Apa yang kita pikirkan?


Misal, setelah dapat feedback tajem dari dosen bahwa kerjaan kamu kurang rapi dan teliti.


Apakah kamu akan merasa bahwa kamu adalah orang yang paling nggak teliti sedunia? Lalu, merasa diri kamu adalah orang terceroboh di sedunia akhirat? Saat kamu kecewa dengan hasil presentasi kamu yang kurang maksimal, apa yang kira-kira kamu pikirkan?


Apakah seperti ini? “Duh, kenapa sih kita bodoh banget!” atau “Kenapa ya kita selalu mengalami kejadian kayak gini saat kita presentasi? Kayaknya kita orang tersial sedunia!”


Saat kamu bikin kesalahan-kesalahan dalam beberapa hal. Apakah kamu juga sering merasa menjadi orang yang selalu membuat kesalahan dalam mengerjakan tugas? Apakah kamu merasa bahwa kamu adalah orang tersial sedunia?


***


Kalau kamu mengangguk dan menjawab pertanyaan di atas dengan “Iya kayaknya aku SELALU merasa paling ceroboh”


Waduh hati-hati!


Cara menjelaskan sesuatu yang terjadi dalam hidup tanpa kita sadari akan berkontribusi terhadap kebahagiaan kita lho.


Kok bisa? Oke stay tune terus, karena kita akan coba bicara sebuah bernama “Explanatory Style” atau “Gaya Kita Menjelaskan Sesuatu dalam Hidup Kita”


***

Explanatory Style?



Explanatory style adalah sebuah cara untuk merasionalisasi apa yang terjadi dalam hidup kamu (Peterson & Seligman, 1987). Lebih gampangnya, explanatory style merupakan gaya kamu menjelaskan sebab akibat dari berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Secara sederhana adalah “Mengapa hal ini terjadi?”


Secara umum ada dua gaya menjelaskan sesuatu yaitu gaya optimis versus pesimistik.


Pesimis

Oke kita akan mulai dari gaya pesimis.


Kalau kamu seorang pesimis, biasanya saat kamu mengalami suatu hal yang negatif, kamu merasa bahwa apa yang kamu alami itu sifatnya global, durasinya stabil dan dan tanggungjawab kejadian itu ada di internal diri kamu. Sementara, kalau kamu seorang optimis, kamu akan melihat suatu peristiwa negatif sebagai sesuatu yang kamu lokal, waktunya tidak stabil dan penyebabnya bisa jadi dari orang lain eksternal dan nggak melulu salah kamu (Peterson & Buchanan, 1995).


Biar lebih jelas lagi akan membawa tiga konsep ini, yaitu pertama: global versus lokal, kedua: stabil versus tidak stabil, dan ketiga: internal versus eksternal.


Supaya lebih jelas lagi, kita akan kaitkan dengan cerita kita di awal.


Misalnya pas kamu presentasi, kamu memiliki beberapa kesalahan dan bisa jadi beberapa typo yang nggak dia harapkan. Kalau Kamu, orang yang pesimis, dia akan melihat satu kesalahan kecil yang harusnya cuma local aja, jadi super gede dan global. Lokal itu ibaratnya sesuatu yang kecil dan lokasinya di situ-situ aja.


Misal dalam masalah awal tadi, kamu cemas karena typo (salah ketik) yang kamu alami sebenarnya nggak segedhe itu alias lokal, dan nggak ngaruh-ngaruh amat sama presentasi kamu, kalau kamu seorang pesimis, kamu akan anggap seluruh presentasinya adalah kegagalan. Padahal, belum tentu, karena itu adalah kesalahan kecil yang nggak perlu digedein.


Misalnya lagi, kamu merasa bahwa penampilanmu tadi nggak maksimal. Okelah, memang kenyatannya demikian. Tapi, ingat, presentasi 10 menit yang kurang maksimal tadi, cuma satu dari sekian banyak presentasi yang terjadi dalam hidup. Jangan sampai satu presentasi yang kurang maksimal mengalahkan memori belasan kali presentasi kamu yang baik-baik saja.


Contoh lainnya, kamu kurang bisa di salah satu mata kuliah sebab kamu seringkali dapat nilai yang kurang memuaskan dalam mata kuliah tersebut. Saat kamu berpikiran pesimistik, kamu akan menghukumi dan ngejudge bahwa kamu gagal kuliah di jurusan itu. Padahal, satu mata kuliah hanyalah satu dari sekian banyak mata kuliah yang kamu ambil di jurusan itu, jadi jangan bikin peristiwa negative yang bisa kamu Kita kalisir jadi gede dan global.


Seorang pesimis akan mencoba menggenalisasi kegagalan jadi terasa super gedhe dan global, sementara seorang optimis akan mencoba melokalisir kegagalan itu.


Stabil versus Tidak Stabil

Selanjutnya… Seorang pesimis merasa kejadian negatif bersifat stabil, akan terus hadir, dan nggak akan pernah berubah. Sementara seorang optimis merasa kejadian yang negatif itu nggak stabil, bisa aja besok berubah.


Misal, kalau kita seorang yang pesimistik, apabila suatu hari kita mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam hidup, kita akan menganggap bahwa peristiwa negatif yang terjadi dalam hidup dengan kita adalah peristiwa yang selalu terjadi secara stabil. kita bisa aja memberi label ke hidup kita “hidup yang selalu sial”, “Pasti deh, kayak gini kejadiannya,”

Kalau kita seorang yang optimis, kita akan menarik hal ini sebagai peristiwa yang nggak stabil, ibaratnya kita kamu lokalisir, jadi “Oke cuma hari ini doang kok, biasanya baik-baik saja,”

Misal lagi, saat kita presentasi dan hasilnya kurang maksimal karena kita punya banyak kejadian kurang menyenangkan lainnya secara bersamaan, kita akan menjelaskan bahwa apa-apa yang terjadi hari ini, adalah sebuah hal yang tidak stabil. Artinya nggak selamanya kita akan mengalami kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan secara bersamaan. Nggak selamanya kita akan terus buruk dalam menyampaikan sesuatu.


Atau kalau kita gagal dalam matakuliah, sebagai seorang optimis, kita paham bahwa kita nggak selamanya akan dapat B-di mata kuliah statistic, tapi bisa aja suatu saat akan jadi lebih baik, karena kegagalan itu bukan sesuatu yang stabil terjadi. Pasti ada kesempatan asal kamu mau mencoba lagi-lagi dan lagi.


Internal vs Eksternal

Selanjutnya, tipe penjelasan yang terakhir kepada siapa kamu menyandarkan tanggung jawab atas kejadian-kejadian negatif yang menimpa diri kamu?


Apakah kamu menyalahkan dirimu sendiri (internal) atau di luar dirimu (eksternal)?


Jika kamu mengaitkan tanggung jawab dengan diri kamu sendiri, maka kontrolnya adalah internal. Jika tanggung jawab dikaitkan dengan orang lain atau faktor lain, maka kontrolnya eksternal.


Yang sehat adalah kamu secara adil memahami bahwa nggak selalu peristiwa negatif itu karena kita atau sebaliknya, nggak selalu peristiwa negatif itu karena orang lain.


Pemahaman yang toksik adalah saat kamu merasa bertanggungjawab atas seluruh peristiwa negatif dalam hidup kamu. Toksik juga kalau kamu nyalahin orang lain terus. Seorang optimist adalah orang yang bisa dengan adil melihat kapan memang dirinya yang bertanggungjawab dan kapan bukan.


Bagi sebagian kita yang muslim, ada konsep dalam Islam bahwa ada ranah yang memang perlu kamu usahain secara maksimal, ada juga peristiwa-peristiwa dalam hidup kamu yang kamu nggak punya kendali. Kayak kita lahir dari siapa, jenis kelamin apa, dan kita dilahirkan di kota dan banyak hal lainnya yang di luar kuasa kita. Pada ranah-ranah seperti itu, kamu kudu melepaskan tanggungjawab dari dirimu.


Klikers dan #TemanBaik sebagai muda yang selalu bertumbuh setiap hari, kamu harus belajar jadi seorang optimis yang sehat.


Orang yang optimis menganggap kejadian negatif itu nggak stabil, local dan penyebabnya ga selalu diri sendiri.


***

Sepatah Kata dari Kami


Klikers yang selalu mencoba selalu bertumbuh setiap hari.

Peristiwa negatif akan selalu hadir di dalan hidup kita. Tetapi, bagaimana kita melakukan penjelasan atas peristiwa negatif itulah yang akan berdampak banget ke kehidupan kita.

Percayalah bahwa peristiwa negatif itu lokal, tidak stabil dan eksternal!


Jangan overgeneralisir, jangan merasa akan terus terjadi dan nggak selalu semua salah diri sendiri.


Ikuti terus update informasi untuk membantu kamu bertumbuh setiap hari di @KlikKlas. Jangan lupa like, subscribe dan komen yaa...


***

Yuk Baca Jurnal Aslinya


Beck, A. T., Steer, R. A., & Brown, G. K. (1996). Beck depression inventory (BDI-II) (Vol. 10, p. s15327752jpa6703_13). Pearson.


Beck, A. T., & Weishaar, M. (1989). Cognitive therapy. In Comprehensive handbook of cognitive therapy (pp. 21-36). Springer, New York, NY.


https://positivepsychoKita gy.com/find-a-silver-lining/


https://positivepsychoKita gy.com/optimistic-explanatory-style/





4 views0 comments

Recent Posts

See All