• klik klas

Stop, Aktif Banyak Kegiatan, Jika...


“Katanya indikator sehat mental dari WHO itu mengenali diri sendiri, mampu mengatasi stress harian, produktif dan kontributif, tapi kok aku ikut banyak organisasi malah stress sendiri ya, apanya yang sehat mental sih?”




***

Wadududuh… Ada ga yang mengalami hal serupa? Aktif di sana sini, ikut organisasi bejibun, volunteering dan kegiatan masyarakat dimana-mana, tapi eh malah stress, nggak bahagia, dan bikin banyak masalah lagi.


Alih-alih produktif bikin sehat mental, malah bikin stress sendiri ya…? Baiklah mari bicara sehat mental, produktif, dan memahami kapasitas diri.


INDIKATOR SEHAT MENTAL




Apa sih indikator sehat mental itu?

Yup, menurut WHO, ada empat indikator dasar sehat mental yang gampang banget dihapal.


Pertama, Tahu Diri Sendiri


Tahu diri sendiri ini apa sih maksudnya?


Maksudnya kita tahu apa sih kelebihan dan kekurangan kita. Setiap manusia PASTI punya kelebihan, aku yakin nggak ada yang nggak. Soalnya, Allah aja udah bilang, kalau ciptaannya nggak ada yang nggak punya manfaat di bumi ini.


“Tapi, aku ga tahu kelebihanku apa?”


Nah, ini bukan nggak ada kelebihan lho. Berarti masih PR untuk mencari kelebihan kita tuh apa. Atau, paling nggak apa sih minat kita. Serta apa sih tujuan besar kita dalam hidup ini. Kalau masih bingung, bisa berkontemplasi terlebih dahulu, hehe.


Atau, tanya deh ke orang-orang sekitarmu apa sisi positif dan negatifmu. Temukan satu hal yang paling banyak disebut oleh banyak orang lainnya. Apakah itu karakter baik misal kamu terkenal sabar, dan kalem, atau kemampuan hardskillmu seperti kemampuan desain atau memasak. Catat baik-baik dan kembangkan mana yang paling sering disebut oleh orang lain. Itu artinya your signature strength!


Kedua, Mampu Mengatasai Stress Harian

Kenapa sih Lembaga kesehatan dunia seperti WHO meletakkan memahami potensi diri itu sebagai bekal awal sebelum masuk ke indikator selanjutnya?


Karena oh karena, memahami potensi diri berikut kelebihan dan kelemahannya adalah cara efektif yang penting banget digunakan pas kita mengalami stress harian.


Misalnya, kita nih tiba-tiba ketemu temen keren, eh, kita jadi minder dengan segala pencapaian dia. Nah, minder ini bisa bikin stress kalau ga dikelola dengan baik. Bisa mengganggu kualitas kebahagiaan kita. Namun, kalau kita tahu apa kelebihan kita, kita bisa berbisik ke diri sendiri, “It’s okay, aku tahu, kelebihanku dan dia berbeda. Kita berjalan di karpet merah yang beda, kita adalah individu yang beda,”


Dan, insecure ini bisa agak dikontrol, dibandingkan mereka yang nggak tahu dirinya sama sekali.


Contoh lainnya, kalau kita stress di usia awal 20 an, mau nentuin karir dan mau memutuskan kerja di bidang apa. Stress atas banyaknya pilihan ini bisa banget diatasi pakai pemahaman diri sendiri. Selling point, atau, titik jual diri kita kebaca dari kelebihan kita. Kita mau ambil karir apa, bisa berdasarkan kelebihan kita juga. Ini yang disebut sebagai mengatasi stress dengan memahami diri sendiri.


Ketiga, Aktif

Orang yang udah tahu dirinya sendiri, tahu bakat dan minatnya, serta mampu mengatasi stress harian bakal jadi orang yang lebih aktif nggak? Iya dong.


Karena dirinya udah nggak belibet lagi sama pikiran-pikiran yang kusut dan stress yang nggak bisa diatasi. Karena itu, penting sekali untuk tahu diri sendiri, lalu pemahaman diri ini dibuat untuk mengatasi stress harian, supaya kita bisa berlari lebih cepat lagi.


Aktif itu bukan berarti kamu jadi super aktif dan nggak bisa diem ya. Aktif ini secara sederhana adalah lawan dari statis. Kalau kamu berkegiatan hari itu, misal bersih-bersih rumah, memasak, bantuin ibu ke pasar, bantuin ayah cuci kendaraan, lalu kamu siap-siap sekolah atau ngampus, lalu bisa kuliah, melewati hari itu dengan kegiatan, kamu aktif.


Orang yang depresi, biasanya lebih tidak aktif. Menarik diri dan berdiam diri. Makanya, kalau kita masih bisa berkegiatan dengan normal, kita masih terbilang aktif.


Keempat, Produktif dan Kontributif

Ujung-ujungnya, kalau kita sudah bisa memahami diri sendiri, mampu mengatasi stress harian, serta berkegiatan seperti biasa, kita lebih bisa punya kesempatan untuk berkontribusi di masyarakat.


Kalau temen-temen mengambil bagian dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, jadi relawan, berorganisasi, dan membantu sesama, selamat kamu sudah berkontribusi dan kamu kontributif.


Jangan dipikir kalau berkontribusi kepada masyarakat itu kayak jadi superhero menyelamatkan dunia. Oh tidak seperti itu. Berkontribusi itu levelnya sangat subjektif dan tergantung poin satu, poin memahami diri sendiri. Kamu tahu batasan dirimu, kamu tahu, di bagian mana kamu bisa berperan secara aktif, dan kamu tahu kapan harus berhenti.

Semua ini sangat subjektif. Know yourself, Klikers dan teman baik sekalian.


Jadi, Kok Bisa Aktif Di Berbagai Kegiatan, Malah Jadi Nggak Sehat Mental?

Jawabannya, apakah kamu sudah mengukur dirimu sendiri? Apakah kegiatanmu berdasarkan pemahaman akan dirimu sendiri, akan tujuan besarmu, atau, karena ikut-ikutan temen, nggak enakan, menyenangkan orang lain, atau gengsi?


Kamu yang tahu dirimu sendiri. Kamu yang tahu jawabannya.


Kegiatan yang bejibun akan bikin happy dan kamu bersemangat menjalaninya, jika ini sesuai dengan pemahaman akan dirimu sendiri.


Kamu juga akan happy dan mengalami stress yang baik (yang mendorong kita berkembang dan bertumbuh) kalau kita tahu ukuran diri sendiri, seberapa banyak kegiatan yang harus kita ambil dan seberapa batas kita untuk mengatakan “Oke, kayaknya aku ga bisa ambil lebih dari ini,”


Atau bisa aja, urusan ini nggak serumit itu, kamu hanya butuh istirahat sejenak. Sebelum berlari lagi.


Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan #TemanBaik

Klikers dan #TemanBaik, menentukan progress dan proses bertumbuh itu harus bin kudu dari memahami diri sendiri. Menentukan jumlah kegiatan dan batasan diri, juga berasal dari paham diri sendiri.


Kalau kita terus mengambil kesibukan tanpa mengevaluasi apakah ini sudah sesuai dengan diri kita, tujuan kita, dengan batasan kita, wajar bukan kalau kita jadi berlari tanpa semangat dan tujuan, jadi mudah lelah dan uring-uringan.


Untuk #selalubertumbuh, membuat baseline pertumbuhan dengan memahami diri ini super penting banget. Semoga produktivitas kita bukan sekedar sibuk, tapi benar-benar produktif. Semoga kegiatan kita ini bukan sekedar ikut-ikutan. Tapi, bener-bener berbasih tujuan besar kita.


Selamat bertumbuh dan menjadi produktif.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Kamu Suka Baca Referensi Aslinya? Ini Dia …

Wicklund, R. A. (1979). The influence of self-awareness on human behavior: The person who becomes self-aware is more likely to act consistently, be faithful to societal norms, and give accurate reports about himself. American scientist, 67(2), 187-193.

Peter Hartung, M. B. A. (2020). The impact of self-awareness on leadership behavior. Journal of Applied Leadership and Management, 8, 1-21.

Gerbrandt, S. (2006). Self-awareness: Its relationship to personal effectiveness and success in the workplace. Library and Archives Canada= Bibliothèque et Archives Canada, Ottawa.








0 views0 comments

Recent Posts

See All