• klik klas

Cabin Fever: Demam Psikologis Saat Terlalu Lama Di Rumah Aja



“Setiap aku masuk kamar kok rasanya sesak, pengap, dan badmood gitu ya…”


“Kalau aku tuh bawaannya cepat marah, begitu masuk kamar gitu jadi sensitif,”


“Ih, iya banget, sama deh… Aku malah jadi nggak ada energinya buat ngelakuin apapun, rasanya pengen ambil kunci motor dan keluar kamar, entah kemana kek, pokoknya pergi aja dari rumah..”


Apakah kamu pernah merasakan hal serupa selama anjuran untuk berkegiatan di rumah saja?


Perasaan-perasaan seperti saat masuk rumah/kamar/ruangan yang itu-itu aja, kamu langsung merasakan emosi negatif yang tak terjelaskan, ada yang jadi susah konsentrasi, bawaannya marah, kesel, eh tapi pas keluar ke depan rumah aja, kamu langsung happy, lega, lebih positif dan energimu langsung balik?


Nah ini nih, jangan-jangan kamu kena sindrom cabin fever. Serupa demam panggung, tapi ini demam karena kamu berada di dalam ruangan (yang itu lagi, itu lagi). Cabin fever adalah istilah psikologi populer (jadi bukan ilmiah ya) ketika seseorang merasakan emosi negatif setelah berada dalam suatu ruangan dalam jangka waktu yang lama. Cabin fever ini bukanlah diagnosis klinis spesifik, tapi bisa banget adalah indikasi dari gejala lain, seperti stress, depresi, dan lain-lainnya.


Klikers dan teman baik, cabin fever ini bedanya sama claustrophobia, yang lebih menekankan pada ruangan yang sempit. Cabin fever ini lebih kepada gejala psikologis yang muncul karena berada di sebuah ruangan terlalu lama. Istilah ini lahir di daerah empat musim ketika mereka terkunci di rumah saja mengalami musim dingin. Sebenarnya, mengalami cabin fever ini adalah reaksi wajar semua orang. Karena, kita wajar kan merasa jenuh, bosan, ketika kita harus beraktivitas di tempat yang itu lagi itu lagi. Biasanya kita bisa dengan mudah mengganti suasana dengan memilih kafe yang berbeda-beda, mengerjakan di tempat yang berbeda-beda, atau main ke rumah teman yang berbeda-beda.


Tapi, bagaimana jika seperti saat ini (pandemi) dan kita dianjurkan berada di rumah saja. Semua aktivitas jadi ada di situ-situ saja. Belajar, refreshing, nggak ada bedanya, ya di situ lagi, di situ lagi.


Gejala Cabin Fever



Saat ada anjuran berada di rumah saja dari pemerintah. Mungkin awalnya kita merasa baik-baik saja, tapi waktu yang lama dengan terkurung di rumah kita saja, pada akhirnya dapat menyebabkan perasaan negatif seperti kecemasan, kesepian, dan suasana hati yang buruk muncul.


Kalau sudah seperti ini, atau untuk jaga-jaga agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, Klikers dan teman baik bisa mempelajari cara mengenali tanda-tanda cabin fever ini agar dapat membantu kita mencari cara untuk mengatasinya. Oh ya, sebelum kita belajar soal apa itu cabin fever. Perlu diingat ya Klikers dan Teman Baik, nggak semua orang yang mengalami cabin fever memiliki gejala yang persis sama. Karena, setiap orang punya daya tahan mental (sebagaimana daya tahan fisik) yang berbeda-beda. Namun, ada gejala-gejala umum yang sering dilaporkan oleh mereka yang telah merasakan cabin fever. Apa saja itu?


Perubahan Pola Tidur

Yak siapa nih di sini yang sekarang jadi sulit tidur atau malah kebanyakan tidur. Perubahan pola tidur ini bisa juga diikuti oleh gangguan tidur. Seperti, sering mimpi buruk, tidur kurang nyenyak dan mudah terbangun. Selain itu, bisa jadi sebaliknya, yaitu sulit bangun dari tidur. Mungkin kamu akan segera menuduh, itu mah pemalas bos!. Bedaaa… Nggak mau bangun dari tidur karena malas sama karena kehilangan energi itu sesuatu yang mirip tapi kalau kamu lihat lebih dalam itu nggak mirip sama sekali. Sulit bangun dari tidur karena cabin fever ini disertai dengan perasaan kehilangan energi. Rasanya lelah banget, padahal belum ngapa-ngapain. Bangun tidur pun merasa nggak ada gunanya dan merasa pekerjaan dan aktivitas kamu nggak seseru biasanya. Intinya, ada semacam kelelahan yang nggak terjelaskan dan membuat kamu merasa kesulitan untuk bangun dari tidur. Nah, kalau sudah seperti ini, kamu perlu menandai bahwa ada yang salah dengan dirimu.


Motivasi Menurun

Bisa juga ada perubahan pada motivasi yang sangat ekstrim. Kamu biasanya bisa begitu produktif, eh tapi kalau di kamar, atau di rumah, entah kenapa bawaannya nggak semangat. Target harian terlewat, kerjaan jadi menumpuk, dan semua jadi berantakan. Tapi, begitu kamu mencoba mengerjakan pekerjaanmu di tempat terbuka, semisal membuat area belajar di kebun belakang, atau bahkan memutuskan untuk mencari tempat terbuka seperti taman yang bisa digunakan untuk bekerja dari layar laptop, semua keresahan itu hilang. Kalau sudah begini artinya kamu benar-benar terkena cabin fever. Karena, saat berada di luar ruangan, kamu tiba-tiba merasa mendapat energi baru!


Keputusasaan

Ada juga yang tandanya adalah mengalami keputusasaan yang nggak terjelaskan. Saat berada di dalam ruangan, entah mengapa hidup terasa berat dan kamu mudah putus asa. Kamu mudah marah, tidak sabar, dan menyerah. Rasanya begitu berat melanjutkan kehidupan dari ruangan tempat kamu tinggal. Rasanya semuanya begitu berat dan tidak ada jalan keluar. Tapii, begitu kamu melangkahkan kaki keluar ruangan, sekedar membeli sesuatu di warung, atau sekedar berkeliling kompleks, dan tiba-tiba saja kamu merasa ada energi yang merasuki tubuhmu. Artinya kamu memang perlu angin segar di luar rumah.


Kesedihan atau Depresi

Apakah kamu merasa entah mengapa akhir-akhir ini gampang sekali sedih, mellow, dan menangis sendirian? Apakah kamu merasa akhir-akhir mudah mengasihani diri sendiri? Tapi, begitu kamu keluar ruangan. Kamu merasa kelegaan yang teramat sangat? Ketika kamu berjalan santai keluar rumah selepas kelas-kelas yang panjang di layar laptop, kamu langsung merasa fresh? Ini bisa jadi kamu mengalami cabin fever.


Kesulitan Berkonsentrasi

Nah, terakhir. Selama kamu di rumah saja, apakah kamu merasa jadi lebih sulit berkonsentrasi? Kamu merasakan berbagai pikiran sangat kuat mengganggu waktumu? Sebaliknya, saat keluar dari ruangan itu kamu bisa bekerja dengan lebih baik? Wah, ini juga indikasi kamu lagi bete di ruangan tersebut.


Perhatian-Perhatian

Klikers dan Teman Baik, gejala di atas sama banget sama gejala stress ringan. Bedanya cabin fever adalah stress yang berkaitan dengan ruangan yang sama dalam waktu lama. Karena gejala yang disebutkan tadi adalah gejala umum yang nggak spesifik, maka bisa jadi gejala-gejala tadi adalah pertanda adanya gangguan lain yang lebih serius. Nggak bosen-bosennya saya mengingatkan kalau gejala ini semakin memburuk, kamu bisa mencari professional untuk berkonsultasi untuk menentukan apakah gejala kita ringan atau gejala yang perlu segera diobati.


Klikers dan teman baik, penting juga untuk diingat bahwa kepribadian juga berpengaruh dalam gejala cabin fever ini. Berpengaruh dalam hal apa? Berpengaruh dalam memperburuk atau mengatasi gejala-gejala cabin fever ini. Kalau kamu cenderung memiliki kepribadian yang tidak terlalu membutuhkan interaksi dengan orang lain secara intens, kamu mungkin bisa lebih bertahan selama arahan untuk di rumah saja. Sementara, kalau kamu termasuk kepribadian yang ekstrovert dan sumber energimu adalah dengan berinteraksi dengan orang lain, maka bisa saja arahan selama di rumah saja membuatmu semakin tertekan. Maka, nggak heran, gejala satu orang dengan orang lainnya bisa jadi sangat berbeda.


Lalu, Gimana Cara Mengatasinya?



Klikers dan Teman Baik, untuk menjadi bertumbuh setiap hari meski di rumah saja, kita perlu untuk mengetahui kapan kita sedang tidak baik-baik saja. Termasuk ketika ternyata pembatasan kegiatan ini secara tak kita sadari mempengaruhi diri kita.


Kabar baiknya adalah cabin fever bisa diatasi secara mandiri jika gejalanya ringan atau dikurangi jika gejalanya menengah dan berat. Jika gejala kita relatif ringan, mengambil langkah aktif untuk memerangi perasaan kita mungkin cukup untuk membantu kita merasa lebih baik. Namun, jika gejala-gejala ini memengaruhi kita secara lebih signifikan, sebaiknya ditangani dengan bantuan terapis atau profesional kesehatan mental lainnya ya Klikers dan Teman Baik.


Kabar lebih baiknya lagi, kamu bisa konsultasi gratis di platform kami lho. Langsung klik https://www.temaniteman.net/layanan-psikologi-1


Tapi, gimana ya kalau masih ngantri konsultasi dan butuh mengatasi cabin fever ini segera?


Here we go!


Keluar dari Rumah Sekali-Kali



Yap yap keluar rumahlah. Kalau kamu merasa pengap dan jenuh di ruangan yang itu itu lagi. Keluar lah dari ruangan itu. Sesingkat apapun keluar dari sana akan sangat membantumu untuk memperoleh energi untuk beraktivitas kembali selama di rumah. Jalan-jalan pagi dan sore setiap hari bisa membantumu untuk bertahan selama pandemi ini. Dan lagi, penelitian menemukan bahwa menghabiskan waktu di luar dapat membantu menghilangkan stres, meningkatkan suasana hati, dan meningkatkan perasaan sejahtera secara keseluruhan. Jika kita tidak dapat meninggalkan rumah sama sekali, dekati jendela dan lihat pemandangan di luar rumah. Atau, kamu sedang kelas online? Gimana dengan ide camping? Kamu bisa memilih area terbuka di kotamu (misal taman bersama), dengan hanya menenteng laptop yang full baterai, handphone untuk mengakses sinyal dan selembar alas kain untuk duduk, dengan begitu kamu bisa mengadakan kelas online dimanapun kamu berada. Kamupun bisa mendapatkan energi dari luar rumah dan nggak kehilangan kelasmu. Kamu juga bisa mencari cara lainnya yang sesuai dengan dirimu.


Buat Rutinitas Utama



Saat kita terkurung di rumah (atau ruangan yang itu-itu saja) rasanya sudah membuat kita bosan setengah mati. Perasaan ini akan menjadi-jadi jika kamu nggak memiliki goal dan jadwal harian selama karantina. Ada nih sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa memiliki rutinitas yang teratur dapat membantu kita mengatasi perasaan cemas dan stres dengan lebih baik. Jadi, ketika kita mulai merasakan gejala cabin fever, coba deh buat jadwal yang membuat kita sibuk, terhubung secara sosial (meskipun lewat layar) dan bergerak aktif (seperti bersih-bersih rumah).


Makan Sehat Yaaa



Hai siapa nih yang ketika ada anjuran beraktivitas di rumah aja, malah jadi alasan untuk memanjakan diri dengan junk food. Nah, hati-hati nih, makan nggak bener bikin hormon kita terganggu. Padahal untuk beraktivitas dengan penuh keceriaan kita butuh suntikan dopamine yang cukup. Dopamin ini didapatkan salah satunya dari makanan yang banyak mengandung protein. Jadi, kalau kamu merasa tidak termotivasi, jaga asupan makan, pastikan kamu memiliki nutrisi yang cukup. Karena tubuh kita bukan hanya bentukan dari pola pikir tapi pola hidup juga.


Menentukan Tujuan




PPKM boleh membatasi gerak fisik kita, tapi jangan sampai membuat kita kehilangan tujuan besar. Kalau kamu ingin menjadi atlit yang membutuhkan fasilitas olahraga yang baik, tidak ada salahnya kamu menantang dirimu di tengah segala keterbatasan yang ada. Kamu malah bisa menginspirasi orang lain bahwa PPKM nggak menghalangi untuk berlatih dan meningkatkan kemampuan dengan alat-alat yang nggak memadai. Kamu bisa jogging, lari pagi, dan segala hal yang bisa dilakukan di tengah keterbatasan kita ini. Ingat tujuan besar akan menggerakkan kita. Keterbatasan bukan alasan bagi para pengejar mimpi besar.


Ketika kita terjebak di rumah, kita mungkin lebih cenderung menghabiskan waktu tanpa melakukan hal-hal penting. Banyak main handphone, game dan menonton film tanpa batas waktu dan tujuan yang jelas, akan membuatmu semakin mudah menyalahkan diri sendiri. Tetapkan tujuan harian dan mingguan, dan lacak kemajuan kita menuju goal itu. Oh ya, pastikan bahwa tujuan kita masuk akal, dan hadiahi diri kita sendiri untuk memenuhi langkah demi langkah itu. Percaya deh, sesedikit apapun progresnya akan membuatmu menjadi lebih bersemangat meski di rumah saja.


Olahraga Deh Biar Makin Happy




Klise sekali yaa… Setiap tips untuk meningkatkan kebahagiaan pasti ada poin olahraga. Ini bukan glorifikasi alias membesar-besarkan manfaat olahraga. Tapi, ini adalah sebuah cara untuk merawat hidup dari dalam dan luar. Dari dalam kita mencoba menata mindset dan pikiran dan berbagai cara lainnya untuk membuat kita bertumbuh sejak dari pikiran, namun pola pikir ini butuh ruang yaitu badan yang sehat untuk mencapainya. Menariknya lagi, kebahagiaan itu adalah kerja bareng-barengnya antara pola pikir yang sehat dan pola hidup yang sehat. Nggak bisa ditinggalkan salah satu.


Klikers dan Teman Baik, bahkan jika kita nggak bisa meninggalkan rumah, temukan cara untuk tetap aktif secara fisik saat berada di dalam ruangan. Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu membakar energi ekstra yang kita miliki karena terkurung di dalam ruangan. Olahraga dapat mengalihkan pikiranmu barang sejenak. Kamu bisa Latihan tanpa alat, tapi dengan berat badanmu sendiri (body lifting) atau zumba rutin dari video-video di internet.


Sepatah Kata Untuk Klikers dan Teman Baik




Ketika kita nggak bisa keluar rumah, cabin fever dapat berdampak serius pada suasana hati dan kebahagiaan kita. Untungnya, ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membantu diri kita merasa lebih baik. Keluar rumahlah walau sejenak, jika semakin suntuk, cari cara untuk beraktivitas di luar rumah namun dalam area yang aman. Sesedikit apapun kamu keluar ruangan ini akan memberikan manfaat yang luar biasa. Tapi, bagaimana jika harus karantina di rumah saja karena kamu sedang terjangkit gejala ringan Covid 19? Dekati jendela dan lihat dunia luar. Semoga hal ini membantu bertahan menghadapi pembatasan sosial yang kita belum tahu ujungnya kapan ini. Tetap semangat yaa Kliker dan Teman Baik!


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Hai, Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya


American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM–5). Fifth edition. American Psychiatric Association; 2013.


Bratman GN, Anderson CB, Berman MG, et al. Nature and mental health: An ecosystem service perspective. Sci Adv. 2019;5(7):eaax0903. doi:10.1126/sciadv.aax0903


Friedman DB, Laditka SB, Laditka JN, et al. Ethnically diverse older adults' beliefs about staying mentally sharp. Int J Aging Hum Dev. 2011;73(1):27-52. doi:10.2190/AG.73.1.b


Konis K, Mack WJ, Schneider EL. Pilot study to examine the effects of indoor daylight exposure on depression and other neuropsychiatric symptoms in people living with dementia in long-term care communities. Clin Interv Aging. 2018;13:1071-1077. doi:10.2147/CIA.S165224



38 views0 comments

Recent Posts

See All