• klik klas

Saat Teman Kita Berduka, Kita Harus Apa?



“Min, Ayahku meninggal…”

Pagi itu, Zahra mengirim pesan ke salah satu tim psikologi Klik.Klas.

“Rasanya duniaku runtuh dan hidupku hancur, aku ingin mati saja… Buat apa aku bertahan hidup kalau nggak ada ayah…” Zahra menangis sesenggukan bercerita.

Zahra baru saja kehilangan ayahnya setelah berjuang 4 hari di ruang ICU berjuang untuk sembuh dari Covid-19.


Zahra bercerita lagi, “Semua tempat mengingatkanku pada Ayah. Teras, ruang tamu, dan segala sudut rumah. Aku bisa tiba-tiba menangis setiap mengingat ayah yang biasanya ada di sana,”


Kliker dan Teman Baik, apa yang kamu lakukan, ketika mendapati orang terdekatmu sedang kehilangan orang yang mereka sayang?


Apa respon yang harus kamu berikan?


Berikut adalah beberapa saran untukmu yang tiba-tiba mendapati temanmu kehilangan orang yang disayang.


Pahami Proses Berduka


Menurut Kubler Ross, saat seseorang berduka, mereka akan mengalami beberapa tahapan. Tahap yang pertama adalah pengingkaran (denial). Pada tahap ini rasanya kematian orang yang disayang adalah sebuah ketidakmungkinan. Bisikan seperti “Nggak mungkin jatuh sakit, ayah kan sehat.” “Nggak mungkin, ayah nggak mungkin meninggal, ayah cuma berangkat kerja dan belum pulang kan,”. Segala hal terasa tidak nyata dan kita mengingkarinya. Maka, jika ada teman yang baru memasuki bulan bahkan minggu pertama kehilangan, pahamilah mereka sedang berusaha menyangkal bahwa orang yang mereka saya telah pergi selamanya. Jangan kesal atau marah, jika teman kita terus menerus bercerita dan menyangkal kematian orang yang disayang. Pahamilah, semuanya butuh waktu.


Tahap kedua adalah tahap marah. Saat orang yang dicintai telah pergi untuk selamanya, teman kita yang sudah bisa menerima kenyataan akan mulai menganalisis mengapa kematian itu terjadi. Pada tahap ini, mereka akan menjadi hakim yang paling kejam untuk dirinya sendiri. Mereka yang kehilangan akan terus menghukumi dan mengevaluasi dirinya. Ujung-ujungnya, akan ada rasa marah dan rasa bersalah yang sangat tinggi.


Pada saat seperti ini, pahamilah mereka sedang sangat menyalahkan keadaan dan dirinya sendiri. Yakinkan mereka bahwa kematian itu kehendak pencipta dan nggak semua hal adalah tanggungjawab kita serratus persen. Ketika mereka bercerita padamu bahwa mereka sangat merasa bersalah atas kematian orang tersayang mereka, sebagai teman baik terus yakinkan bahwa dia sudah melakukan yang terbaik.


Tahap ketiga adalah sebuah negosiasi dan tawar menawar (bargaining). Pada tahap ini orang yang kehilangan akan mulai memahami bahwa tidak ada yang bisa dilakukan. Mereka harus bertahan dengan keadaan yang menyakitkan ini. Fase tawar menawar ini akan dipenuhi dengan pikiran untuk hidup normal kembali. Mereka akan dipenuhi oleh keinginan untuk bergerak maju, beraktivitas seperti sedia kala, tapi pada saat yang sama, mereka belum baik-baik saja. Ada perasaan konstan ingin baik-baik saja, tapi belum sepenuhnya baik-baik saja.


Sebagai teman yang baik, kita bisa membantunya secara perlahan. Katakan padanya, tidak apa-apa untuk masih menangis tiba-tiba, tidak perlu merasa bersalah dengan rasa rindu yang begitu kuat muncul, dan tidak perlu merasa tiba-tiba harus menjadi kuat serratus persen lagi. Sebagai kawan baik, kita bantu mereka yang kehilangan dengan berjalan pelan-pelan, memberi tahunya kapan harus istirahat dan tidak perlu memaksakan diri untuk sepenuhnya normal jika memang belum baik-baik saja. Semuanya adalah proses yang butuh waktu. Kita berperan untuk membersamainya dalam waktu yang panjang ini.


Tahapan keempat adalah fase depresif. Saat ini adalah saat-saat yang akan dilalui jika pada fase bargaining (tawar menawar) gagal membawa mereka yang kehilangan sampai ditahap normal kembali. Fase ini akan terjadi jika mereka yang kehilangan masuk ke fase sadar bahwa ide untuk menjadi baik-baik saja ternyata begitu sulit. Akhirnya rasa bersalah, marah, dan merasa gagal akan menguasai. Disinilah rentan masuk ke fase yang sangat depresif. Mereka yang kehilangan akan rentan pula terkena depresi jika emosi negative ini semakin menetap dan memburuk.


Lalu apa yang bisa dilakukan sebagai seorang teman?


Saat menyadari mereka yang kehilangan telah memasuki masa terberatnya. Semua tips pencegahan depresi mulai dilakukan. Seperti siap siaga jika teman kita butuh teman bicara, jika ada pikiran-pikiran ingin mengakhiri hidup, segera singkirkan semua benda-benda yang berpotensi menjadi alat untuk bunuh diri. Sebagai teman baik, kita bisa juga cari cara untuk membuat dia bisa lebih bahagia, ajak refreshing, bermain atau hal-hal lain yang menyenangkan untuknya. Masa ini adalah masa yang paling panjang. Jika kamu adalah teman baiknya, kamu pun perlu menyadari semua proses ini membutuhkan waktu yang lama. Kamu pun harus bisa mengelola emosi dan stressmu sendiri sembari menguatkan orang-orang yang kita sayangi.


Terakhir adalah fase penerimaan (acceptance). Jika mereka yang kita sayang sudah berhasil melalui tahap depresif dalam hidupnya. Pelan-pelan, Ia akan bisa menerima bahwa orang yang disayangi telah pergi selamanya.


Tapi, ingat ya Klikers dan Teman Baik, setiap orang mengalami proses yang berbeda-beda. Kadang ada yang sangat lama hingga sangat cepat. Semua sangat bergantung dengan kondisi mental, sosial dan hal-hal lain yang membantu seseorang bisa bertahan melewati waktu yang sulit ini.


Manfaat Memahami Fase Orang yang Sedang Berduka


Dengan memahami tahapan berduka, kita akan jadi lebih memahami bahwa pada fase ini, mereka yang berduka sedang tidak butuh nasihat. Mereka hanya butuh didengar dan dikuatkan. Mereka sedang berusaha menerima dengan mengeluarkan segala emosinya. Mereka hanya butuh orang yang memahami betapa sakit dan beratnya kondisi ini. Tanpa diberi nasihatpun mereka tahu kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja. Lalu, bagaimana? Cukup jadi pendengar yang baik, atau, cukup hadir di sana. Jika kamu adalah orang yang bisa berinteraksi dengannya. Cukup duduk disampingnya, berikan senyuman hangat, usap-usap, hanya untuk menunjukkan bahwa kamu di sana, tanpa perlu banyak kata-kata.


Tidak perlu bertanya padanya tentang detail kronologis kematian orang tersayang mereka. Sangat melelahkan untuk menjawab hal yang sama kepada semua orang. Jadi, simpan keingintahuanmu dahulu. Tahan segala pertanyaan yang bisa mengungkit kembali ingatannya tentang orang yang meninggal tersebut. Karena, tanpa kamu bantu mengingat, mereka masih sangat mengingat setiap detail kenangan mereka dengan orang yang mereka sayang.


Memvalidasi emosinya artinya membenarkan bahwa apa yang dialami teman kita adalah hal yang sangat manusiawi. Jika ia melakukan kesalahan, ini bukan waktunya untuk memarahinya habis-habisan. Bukan waktu untuk mengungkit-ungkit lagi apa yang telah terjadi. Semisal, “Kenapa kamu nggak lebih sigap? Kenapa kamu nggak berjuang lebih lama untuk mencari oksigennya, padahal aku udah kasih kontaknya ke kamu?” Dan berbagai percakapan yang sifatnya mengevaluasi. Tahan untuk mengevaluasi dan mengkritisi apa yang telah terjadi. Fokus saja jadi si pendengar dan orang yang siaga berada di sana.


Berikan nasehat jika diminta. Cukup dengarkan saat ia bercerita. Dengarkan dengan hati. Semoga niat dan sikap baik kita membantu mereka untuk bertumbuh setiap hari.


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir



Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya


Diagnostic criteria for complicated grief disorder. AJP. 1997;154(7):904-910.


Newson RS, Boelen PA, Hek K, Hofman A, Tiemeier H. The prevalence and characteristics of complicated grief in older adults. Journal of Affective Disorders. 2011;132(1-2):231-238.

Publishing HH. Complicated grief can be treated with traumatic grief therapy. Harvard Health.


Shear MK. Complicated grief treatment: the theory, practice and outcomes. Bereave Care. 2010;29(3):10-14.


Shear MK. Grief and mourning gone awry: pathway and course of complicated grief. Dialogues Clin Neurosci. 2012;14(2):119-128.


The columbia center for complicated grief. The Center for Complicated Grief.









26 views0 comments

Recent Posts

See All