• klik klas

Romantisisasi Gangguan Mental (Diagnosa Diri Sendiri)

Updated: Sep 23, 2021

Hai, Klikers dan Teman Baik!

Akhir-akhir ini, semakin ramai kampanye tentang kesehatan mental, tak jarang muncul orang-orang yang mudah mendiagnosis dirinya terkena gangguan mental tertentu. Apa kamu pernah menemukan orang yang seperti itu?

Sebenarnya, kesadaran akan kesehatan mental dan gangguan mental sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Dengan kesadaran tersebut, kamu dan orang-orang di sekitarmu jadi lebih aware dengan kondisi diri dan mampu menilai apa yang sedang terjadi dalam diri, pun dalam diri orang lain.


Akan tetapi, bukan berarti kamu malah jadi mudah mendiagnosis diri sendiri, ya! Apalagi, melabel diri mengalami gangguan mental tertentu supaya terlihat keren dan kekinian.


Kalo sampai melakukan hal itu, berarti kamu udah terpengaruh sama yang namanya romantisisasi gangguan mental.


Eh, apaan itu romantisisasi gangguan mental?

Kalo kita lihat dari segi bahasa, romantisisasi sendiri berarti membuat sesuatu yang sebenarnya bukan hal wajar menjadi suatu hal yang terlihat keren untuk dimiliki/dilakukan.


Secara konteksnya, romantisisasi gangguan mental berarti kamu menggunakan gangguan mental itu sebagai alat untuk membuat dirimu terlihat keren, kekinian, dan berbeda supaya dapat perlakuan spesial dan perhatian orang lain.


Apakah salah?


Ingin menjadi berbeda dan keren tentu tidak salah. Hanya saja, jika kamu menggunakan gangguan mental sembarangan dan melabel dirimu tanpa ada konfirmasi dari profesional, itu salah.


Meromantisisasi gangguan mental dapat membuat kondisi ini terlihat biasa saja dan wajar sehingga bisa ditanggapi selewat lalu. Padahal, seseorang yang benar-benar mengalami gangguan mental hidupnya tak semudah itu, lho.



Mirisnya, fenomena romantisisasi gangguan mental membuat orang lain merasa seseorang yang menyuarakan kondisi diri yang sedang depresi hingga ingin bunuh diri hanyalah sebagai alasan untuk mencari perhatian.


Persepsi ini muncul karena banyak yang mengatakan dirinya depresi—padahal sebenarnya hanya sedang sedih saja—untuk mendapat perhatian orang lain.


Menyepelekan gangguan mental bukanlah solusi. Melabel diri mengalami gangguan mental tanpa konfirmasi profesional pun bukan hal yang baik—apalagi karena ingin terlihat keren dan kekinian.


So, kalau kamu memang sedang tidak baik-baik saja, mending konfirmasikan kondisimu ke profesional agar bisa #SelaluBertumbuh jadi lebih baik.


Jangan sampai, kamu dan kita semua malah jadi meremehkan gangguan mental karena munculnya fenomena ini.


Seseorang yang mengalami gangguan mental sangat ingin pulih dan mampu berfungsi normal lagi dalam hidupnya. Namun, mereka butuh bantuan untuk bisa kembali pulih.


Daripada meremehkan kondisi orang lain dan justru meromantisisasi gangguan mental, kamu pun bisa #TemaniTeman yang memang sedang tidak baik-baik saja. Mereka butuh teman, butuh bantuan, bukan untuk disepelekan apalagi diabaikan.


Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza.

11 views0 comments

Recent Posts

See All