• klik klas

Pengen Tahu Siapa Kamu Yang Sebenarnya? Perhatikan Responmu Terhadap Sesuatu

Hai, Klikers dan Teman Baik!

Hidup kita nggak pernah lepas dari yang namanya stimulus dan respons. Stimulus adalah suatu hal yang datang pada kita dan respons adalah cara kita menanggapi stimulus itu.


Banyak ahli yang mengatakan bahwa stimulus itu netral, yang menjadikannya hal positif atau negatif adalah persepsi dan respons dirimu sendiri.


Pernah denger ungkapan Respons adalah Cerminan Diri?

Kalo belum, berarti lewat #TemaniTeman kamu kenalan, nih, sama ungkapan itu.

Ungkapan itu hadir karena sejatinya cara diri merespons stimulus yang datang itu berasal dari pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan itu berdinamika dalam memberi penilaian atau anggapan diri terhadap stimulus sehingga muncullah tindakan berupa respons yang mencerminkan cara dirimu bersikap atas suatu stimulus.

Tentunya, karena pikiran dan perasaan setiap orang berbeda, kamu pun memiliki kemungkinan untuk memberi respons berbeda dari orang lain meski mendapatkan stimulus yang sama.


Jika kamu orang yang tidak sabaran, responsmu saat menunggu antrean berjam-jam dapat mencerminkan sikap itu. Mungkin kamu akan gelisah atau bahkan terpikir untuk menyerobot antrean.


Namun sebaliknya, jika kamu orang yang terbiasa bersikap tenang dalam segala situasi, hal itu pun akan tercermin dari sikapmu yang mampu menikmati dan tetap berpikir jernih dalam setiap kondisi.


Contoh lainnya, ketika ada orang yang membentak dan memarah-marahimu tanpa sebab, kamu menilai hal itu sebagai stimulus buruk yang perlu dilawan. Hal ini membuatmu membalas dengan marah-marah karena merasa tidak terima dan ingin melawan orang yang membentakmu itu. Ini menjadi bisa respons yang reaktif—langsung bereaksi tanpa berpikir panjang.

Di sisi lain, ada temanmu yang juga dibentak dan dimarah-marahi, tetapi diri menilai stimulus itu sebagai hal yang bisa dimaklumi.


Temanmu memaklumi itu karena mengetahui bahwa orang yang membentaknya memang sedang dalam kondisi yang kurang baik dan tanpa sadar melampiaskan emosi pada temanmu.


Hal ini membuat temanmu merespons dengan lebih proaktif—berpikir dan mencerna keadaan tenang serta tidak terpancing emosi.

Tentu penilaian terhadap stimulus dipengaruhi oleh kemampuan penerimaan dalam diri dan kemampuan untuk mengontrol perasaan.


Jika kamu terbiasa bersikap tenang dalam segala hal, tentu apa pun yang terjadi tidak akan terlalu mengusik pikiran dan perasaan. Ketenangan yang dibangun dapat membuatmu merespons dengan lebih santai dan jernih dalam memutuskan suatu tindakan.

Jadi, tidak ada salahnya untuk belajar bersikap tenang dan mengubah respons yang reaktif menjadi proaktif. Ingat, responsmu adalah cerminan dirimu. Memiliki respons yang tenang membuatmu memiliki hati yang lebih lapang.


Semoga #SelaluBertumbuh menjadi lebih baik setiap harinya!

Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza.

2 views0 comments

Recent Posts

See All