• klik klas

Otak Kita Aja Adaptif, Masa Kita Gak?



“Pernah ga sih kamu udah buru-buru menyerah saat baru aja mencoba sesuatu yang baru?”

“Pernah ga sih kamu menyerah, bahkan sebelum kamu mencoba?”

“Pernah ga kamu merasa gak bisa beradaptasi dengan baik dalam suatu lingkungan baru?”


Dear Klikers dan #TemanBaik, setiap perkembangan hidup, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang baru, kondisi yang baru dan berbagai permasalahan hidup yang baru. Nggak heran, salah satu kemampuan penting kita adalah kemampuan untuk beradaptasi. Adaptasi jadi poin penting keberhasilan individu dalam suatu lingkungan baru. Adaptasi jadi skill penting yang terus harus diupgrade dalam setiap fase hidup kita.


Si penemu teori evolusi itu bilang, siapa yang mampu bertahan, dialah yang paling bisa beradaptasi. Lagi-lagi gara-gara manusia harus bisa beradaptasi ini, muncul berbagai teori penting, kayak daya tahan, ketangguhan, fleksibilitas, dan berbagai teori lainnya yang intinya mencari formula gimana caranya kita bisa beradaptasi.


Sekarang pertanyaannya, apakah semua manusia bisa dengan mudah beradaptasi? Sayangnya nggak. Ada banyak hal yang harus kita ketahui tentang karakter dasar hidup di bumi dan menjadi manusia ini. Apa itu? Manusia itu kompleks dan sederhana pada saat yang bersamaan.


Kompleksitas ini adalah perwujudan dari berbagai hal yang bisa aja mempengaruhi kita, termasuk daya adaptasi kita. Misalnya karakter dan kecenderungan bawaan serta pengaruh lingkungan. Ada karakter-karakter yang emang sulit beradaptasi. Seperti si perfeksionis yang seringkali memang sulit beradaptasi karena dia punya set peraturan pribadi yang kadang beda sama apa yang kenyataan tawarkan. Lalu, apakah karakter perfeksionis ini bawaan atau apakah sebuah hasil didikan? Bisa interaksi keduanya.


Kembali ke kalimat suci tadi, bahwa, manusia itu adalah bentukan pengaruh internal dan eksternal. Maka, ga ada satu pun perilaku kita yang murni banget dari salah satunya aja. Tapi, kalau mau lihat karakter bawaan seseorang, lihatlah perilakunya di berbagai konteks, tarik 1 hal yang selalu konsisten. Misalnya, apakah dia seorang yang punya kecenderungan mudah bergaul? Seharusnya dalam hampir semua kondisi, mau di berbagai situasi, dia akan mudah bergaul. Apakah seseorang itu memang seorang introvert? Harusnya dalam segala kondisi dia akan menunjukkan kecenderungan itu.


Lalu, apakah karakter bawaan ini adalah sebuah titik akhir yang nggak bisa berubah?

Ada banyak aliran dalam membicarakan perubahan kecenderungan bawaan, tapi pendapat yang terkuat adalah karakter bawaan nggak bisa diubah seratus persen, bisanya dilatih menjadi lebih adaptif.


Nah nemu lagi nih kata kunci adaptasi. Kita bisa kok berlatih lebih adaptif. Hanya saja hal itu nggak akan mengubah kita jadi Cinderella dalam semalam, alias menjadi orang yang berbeda hanya dalam waktu semalam. Dan, seperti, alamiahnya kehidupan, semua Latihan itu berat.


Dalam proses menjadi lebih adaptif, dalam semua teori, harus dimulai dari mindset dulu. Mindset yang nggak adaptif ini harus diganti dengan mindset yang lebih adaptif. Namun, sekali lagi. Ini ga semudah yang dibayangkan ferguso. Dalam sebuah Latihan, kita harus membuat habit baru untuk melawan habit yang lama. Menjadi fleksibel, bagi si introvert artinya dia kudu bisa lebih adaptif berinteraksi dengan berbagai macam orang dalam waktu yang lebih lama.


Sementara, bagi si ekstrovert, menjadi adaptif, artinya saat nggak ada orang yang bisa diajak ngobrol, kerja bareng, gimana caranya Ia tetep bisa berfungsi dengan baik, bisa bekerja dan berkarya sebaik biasanya.


Bagi si perfeksionis, dia artinya harus bisa mentolerir semua hal yang nggak sesuai dengan standar dan rulesnya. Sementara, kalau si santai, gimana caranya dia adaptif ketika ketemu lingkungan yang lebih terstruktur dan sistematis.


Otak Kita Adaptif

Aku suka banget sama konsep neuroplastisitas otak ini. Yaitu kemampuan otak kita yang sangat adaptif ketika kita mempelajari hal baru. Meskipun kecepatan setiap orang akan beda-beda, selama nggak ada kecacatan otak, kita dibekali kemampuan neuroplastisitas yang sama.


Mari Belajar Plastisitas Otak


Apa itu Plastisitas Otak?

Otak kita ini terdiri dari sekitar 86 miliar neuron. Neuro itu artinya syaraf, sementara plastisitas itu adalah kemampuan elastis otak. Meskipun teori awalnya nih, otak kita berhenti menghasilkan neuro baru saat kita lahir. Yang artinya, ketika ada kerusakan pada neuron, otak kita ga bisa menghasilkan neuron baru, namun teori terbaru membantah bahwa otak kita ini udah fiks jumlah neuronnya segitu.


Penelitian tentang otak menunjukkan bahwa otak kita ini punya kapasitas luar biasa untuk membuat koneksi-koneksi baru, membuat jalur baru saat kita belajar, bahkan membuat neuron baru, sebuah konsep yang disebut neuroplastisitas, atau plastisitas otak. Nah, kamu tahu kan plastisin atau playdoh. Ibaratnya otak kita ini begitu hebatnya jadi dia bisa menyesuaikan diri, ibarat plastisin, yang dibentuk apa aja bisa. Pada dasarnya, plastis itu artinya fleksibel. Sehingga, secara bahasa, plastisitas otak bisa juga diartikan fleksibilitas otak.


Otak kita yang fleksibel ini punya dua jenis fleksibilitas. Ada yang fungsional dan ada yang structural. Maksudnya gimana nih? Pertama, plastisitas fungsional tuh artinya otak kita itu punya kemampuan untuk memindahkan fungsi dari area otak yang rusak ke area lain yang tidak rusak. Contoh yang terkenal banget yaitu orang yang terlahir cacat tanpa kedua tangan, kemudian saat dia bertambah besar dia berlatih melakukan apa-apa yang bisa dilakukan tangan ke kaki, maka secara fungsinya, otak sudah memindahkan fungsi tangan ke kaki.


Yang kedua, ada Namanya plastisitas struktural. Apaan tuh? Yaitu, kemampuan otak untuk benar-benar mengubah struktur fisiknya sebagai hasil pembelajaran. Strukturnya itu diubah sama otak karena kita belajar. Misalnya nih, contoh yang terkenal adalah, kalau awalnya otakmu sehat, terus kamu kebanyakan dan kecanduan nonton pornografi, otakmu bakal berubah tuh strukturnya. Jadi, tayangan dan apa-apa yang kita lakukan bisa banget bikin otak kita berubah struktur fisiknya.


Apa Hubungannya Dengan #SelaluBertumbuh Setiap Hari?


Gini, Klikers dan Teman Baik, karena otak kita ini fleksibel, maka banyak banget manfaat fleksibilitas otak yang dianugerahkan pencipta kepada kita. Kemampuan otak buat fleksibel jadi memungkinkan kita untuk beradaptasi, berubah, mempelajari hal-hal baru, meningkatkan kemampuan diri, sembuh dari cedera (misal kecelakaan) dan traumatisme otak lainnya, area yang menurun fungsinya bisa diperkuat lagi jika beberapa fungsi otak hilang atau menurun, dan kita jadi punya kemampuan untuk belajar apa aja yang kita mau.


Termasuk saat kita masuk ke lingkungan yang baru, belajar hal yang baru, menemui masalah baru, membuat karakter kita lebih adaptif, atau bergaul dengan orang baru, kalau kamu mulai cemas dan merasa nggak bisa, please, tenang otak kita bisa mengakomodasi semua itu. Setiap kita mau nyerah untuk melakukan penyesuaian dan pengen berhenti berusaha, inget-inget aja bahwa kita memang terlahir untuk terus beradaptasi. Otak kita dirancang untuk terus mudah beradaptasi. Otak kita dikasih modal kemampuan penting yaitu plastisitas otak.


Klikers dan Teman Baik, karena salah satu tugas kita adalah beradaptasi, maka, Allah udah kasih bekal kita otak dan kemampuan plastisitasnya yang war biyasa mantap jiwa sangat adaptif. Sekali lagi, kalau mau nyerah beradaptasi, ingat aja, kita udah punya modal yang super keren yaitu otak kita. Bisa yuk bisa.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.



Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Li W, Ma L, Yang G, Gan WB. REM sleep selectively prunes and maintains new synapses in development and learning. Nat Neurosci. 2017;20(3):427-437. doi:10.1038/nn.4479

Liu PZ, Nusslock R. Exercise-mediated neurogenesis in the hippocampus via BDNF. Front Neurosci. 2018;12:52. doi:10.3389/fnins.2018.00052

Vemuri P, Lesnick TG, Przybelski SA, et al. Association of lifetime intellectual enrichment with cognitive decline in the older population. JAMA Neurol. 2014 Aug;71(8):1017-24. doi:10.1001/jamaneurol.2014.963

Voss P, Thomas ME, Cisneros-Franco JM, de Villers-Sidani É. Dynamic brains and the changing rules of neuroplasticity: implications for learning and recovery. Front Psychol. 2017;8:1657. doi:10.3389/fpsyg.2017.01657










1 view0 comments

Recent Posts

See All