• klik klas

Menerima dan Melupakan, Apakah Sama?

Ada saatnya selepas kejadian tak terduga terjadi dalam hidupmu, laci-laci memori terbuka tanpa izin dan membuatmu mengingat banyak kenangan yang terikat pada kejadian itu. Kehilangan orang yang dicintai misalnya. Selepas dia pergi, nggak jarang kamu mengingat kenangan bersamanya dan ingin menceritakan hal itu pada orang lain.

Namun, saat kamu bercerita atau mengenang memori itu, justru mendapat tanggapan seperti,


“Udah, ikhlasin aja. Nggak usah diinget-inget lagi, nanti kamu sedih.”

“Lho, katanya kamu udah nerima, kok masih diinget-inget terus?”


Atau tanggapan serupa yang justru membuatmu bertanya-tanya, apakah jika kamu sudah berusaha menerima kehilanganmu, lantas kamu harus melupakan kenangannya juga?

Tentu tidak.


Menerima dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Kamu bisa saja menerima kondisi tidak enak yang kamu alami dan sudah berusaha bangkit dari keterpurukan, tetapi kenangan itu masih teringat. Wajar, dan hal itu manusiawi karena yang kita miliki dari sebuah kehilangan adalah kenangan-kenangan sebelum kehilangan itu datang dalam hidup.

Hampir sama seperti memaafkan. Ketika ada yang menyakitimu dan dia meminta maaf perihal itu, mungkin kamu bisa memaafkannya. Tetapi kejadian yang menyakitimu masih teringat jelas dalam memori. Bukan, bukan berarti kamu belum menerima dan memaafkan. Hanya saja, mungkin emosi yang terlibat dalam kenangan itu tidak sekuat saat kejadian itu baru saja kita alami.


Ketika kehilangan, emosi sedih, kecewa, dan rasa tak percaya mungkin hadir. Membuncah sampai rasanya sesak ketika teringat memori-memori di masa lalu. Namun, saat kamu sudah mencoba menerima dan mengikhlaskan, mengingat memori itu tidak lagi semenyedihkan atau semengecewakan seperti saat pertama kali terasa.


Intensitasnya berkurang karena kamu sudah menerimanya dengan penuh kesadaran.

Bahkan, ketika menceritakan tentang kehilangan itu, kamu bisa tetap tersenyum tanpa paksaan. Mengingat kenangan menjadi tidak begitu buruk, justru menenangkan karena hanya dengan ingatan itulah kamu bisa mengenang orang yang kamu sayangi. Mungkin juga, ingatan itu menjadi motivasimu untuk hidup lebih baik lagi.

Maka, melupakan bukanlah kesimpulan yang tepat dari sebuah penerimaan.

Kamu bisa saja sudah menerima tanpa harus melupakan.

Lagipula, keduanya adalah pilihan bukan?

Kamu bisa memilih untuk menerima dan melupakan, atau menerima tanpa melupakan. Satu sama lain tidak harus terjadi bersamaan.


Dan mungkin, mereka yang menganggap bahwa menerima berarti sudah melupakan belum benar-benar memahami keduanya. Kamu pun bisa menjelaskan hal ini pada mereka agar semakin memahami bahwa menerima tidak harus diiringi dengan melupakan.


Semoga kamu tidak memaksakan diri untuk kedua hal ini, ya, Klikers dan Teman Baik!

Take your time untuk mencapai tahap penerimaan dan don’t force yourself untuk melupakan hal yang berharga dalam hidupmu.

0 views0 comments

Recent Posts

See All