• klik klas

Membiasakan Diri Meminta Maaf Tanpa Tapi

Halo, Klikers dan Teman Baik!

Pernah nggak, sih, kamu marahan sama seseorang tapi nggak ada yang berani minta maaf duluan?

Biasanya, itu terjadi kalau bukan karena gengsi, keduanya sama-sama merasa benar dan ingin dimengerti. Pada akhirnya, ketika ada yang mengajukan diri untuk meminta maaf duluan, tidak jarang disertai alasan-alasan yang seolah mewajarkan perbuatannya.


Memang, setiap perbuatan memiliki alasan tertentu dan terkadang satu sama lain perlu memahami sebab dan akibat dengan hati yang lapang. Namun, tujuan dari bermaafan bukanlah hanya untuk mendapatkan pewajaran atau pemakluman atas perbuatan yang menyakiti orang lain.


Kalau versi #TemaniTeman, salah satu tujuan bermaafan adalah untuk kembali membuka lembar baru dengan pemahaman bahwa satu sama lain memiliki batas-batas yang tidak disukai dan perlu diperhatikan. Tentunya, pengertian ini diharapkan membuat hubungan ke depannya lebih baik lagi tanpa perlu ada kesalahan yang sama.


Hanya, namanya juga manusia. Kamu dan orang lain pun sangat mungkin melakukan kesalahan yang sama. Nah, di sinilah diperlukannya keberanian dalam meminta maaf tanpa berbagai alasan yang menuntut pembenaran.


Kamu sendiri suka sebel nggak, sih, ketika ada yang minta maaf ke kamu tapi ujung-ujungnya beralasan banyak hal yang membuatnya seolah-olah tak bersalah? Contohnya saja kalimat serupa ini,


“Maaf, ya. Tapi... aku gini soalnya...”

“Iya, deh. Aku minta maaf. Tapi kan aku ...”


Semoga kamu tidak termasuk yang sering beralasan saat meminta maaf, ya. Sangat boleh menjelaskan kondisimu yang menyebabkan kamu berbuat salah. Namun, alangkah lebih baik penjelasan itu disimpan dulu setelah semuanya mereda. Beranilah meminta maaf tanpa tapi. Cukup dengan mengatakan,


“Maaf, ya. Aku tahu mungkin kamu nggak suka sama sikapku. Aku minta maaf. Semoga kita bisa baikan lagi, ya.”

Berani mengakui bahwa diri ini secara sadar atau tak sadar telah menyakiti orang lain dan berbuat salah adalah salah satu ciri seorang yang berhati besar. Ketulusan dalam meminta maaf pun akan lebih terasa dibandingkan dengan permintaan maaf berekor “tapi”.


Yuk, #SelaluBertumbuh menjadi pribadi yang berhati besar. Salah satunya dengan berani meminta maaf lebih dulu tanpa mencari pembenaran atas sikapmu yang mungkin sudah menyakiti orang lain. Tetap semangat!


Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza.

4 views0 comments

Recent Posts

See All