• klik klas

Melawan Cemas Berlebihan Karena Pandemi


Teman baik, apakah kamu terus menerus khawatir terpapar Covid sehingga membuat dirimu tidak bisa fokus melakukan kegiatan lain dalam hidupmu?



Ketika pembatasan sosial udah mulai dilonggarkan bisa jadi ada beberapa dari kita yang merasa sulit untuk kembali ke kehidupan "normal". Kembali keluar dan berbaur dengan orang lain akhir-akhir ini adalah konsep yang dalam benak kita masih sangat riskan. Apalagi kita terus menerus menerima kabar jenis Covid-19 variasi baru.


Pertanyaan seperti “Bener ga sih ini udah aman?” “Duh, takut, jangan-jangan habis ini ada outbreak Covid-19 lagi,”


Kondisi saat ini adalah kondisi yang membuat kita terus merasa was-was dan cemas. Cemas akan terkena Covid-19 bagi yang belum terpapar atau terkena paparan ulang bagi yang sudah terpapar. Ini disebut Covid Anxiety Syndrome atau (CAS).


Apa itu Covid Anxiety Syndrome (CAS)?



Sebagian besar dari kita pada awalnya sangat waspada, mengalami ketakutan dan kekhawatiran atas dampak yang ditimbulkan oleh virus ini. Namun, para peneliti telah memperhatikan bahwa orang mengembangkan serangkaian gejala tertentu dalam skala yang besar. Banyak orang mulai mengalami apa yang oleh para ahli sebagai Covid Anxiety Syndrome (CAS).


Covid Anxiety Syndrome (CAS) memiliki gejala-gejala sebagai berikut.


Pertama, Kita terus menerus mengecek diri apakah kita terkena Covid secara obsesif kompulsif. Kalau kita mengalami obsesif kompulsif, biasanya kita mengecek dalam jumlah dan intensitas yang nggak wajar. Contohnya kalau kita mengalami obsesif kompulsif terhadap pintu yang belum dikunci, kita bisa aja mengecek pintu hingga belasan kali dalam satu jam. Sama seperti hasil tes yang tidak kita percayai. Kita seperti ada dorongan terus menerus dengan intensitas yang nggak wajar untuk mengecek apakah kita benar-benar positif Covid.


Kedua, kita menghindari tempat umum secara ekstrim. Selain kita terus menerus mengecek keadaan diri kita, sesepele apapun gejalanya, kecemasan lainnya adalah kita menghindari tempat umum secara ekstrim bahkan pada saat yang nggak perlu. Misal, kita sama sekali takut berinteraksi dengan orang lain bahkan saat di tempat terbuka yang tidak ada orang sama sekali (misal kamu pergi ke taman yang sepi). Ada rasa ketakutan yang teramat sangat saat berpapasan dengan orang lain.


Ketiga, bersih-bersih secara obsesif. Teman baik, kalau kita terus menerus merasa harus membersihkan lingkungan kita secara obsesif, bahkan saat kita sudah melakukannya beberapa saat yang lalu. Artinya kita bisa saja terserang gejala CAS.


Keempat, perilaku maladaptif lainnya. Perilaku maladaptif artinya perilaku yang biasanya biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari guna memenuhi berbagai kebutuhan kita, tiba-tiba menjadi sesuatu yang tidak bisa lakukan dan akhirnya hidup kita jadi terganggu. Seperti kita menolak menggunakan transportasi umum sama sekali, mendesinfektan rumah kita berkali-kali sehingga tidak bisa melakukan pekerjaan lain, dan berbagai perilaku lainnya yang mengganggu keberlangsungan hidup kita selama pandemi.


Pada intinya adalah semua gejala yang disebutkan diatas mengandung perilaku obsesif-kompulsif, dimana kita jadi tidak bisa melakukan hal lain karena pikiran dan tubuh kita terasa ingin melakukan hal-hal yang bisa menyelamatkan diri kita dari Covid secara obsesif dan kompulsif. Pikiran yang obsesif ini akhirnya bisa mengganggu kehidupan sehari-hari kita, seperti kita kesulitan memikirkan hal lain selain COVID-19, kecemasan kita mengganggu kehidupan sehari-hari kita, seperti merasa sulit untuk pergi bekerja atau bahkan pergi beli hal-hal kecil ke toko kelontong, kita mengisolasi diri dari orang lain saat nggak diperlukan, kita merasa putus asa tentang pandemic ini, kita sulit tidur, kita mengalami gejala fisik yang nggak biasa, seperti sering sakit kepala atau sakit perut.


Penyebab Covid Anxiety Syndrome (CAS)




Teman baik, saat kita bicara penyebab, kita bicara faktor internal dan eksternal. Maksudnya gimana?


Faktor internal adalah kecenderungan alamiah kita yang sudah Tuhan kasih kepada kita secara berbeda-beda, misalnya kepribadian, genetic dan lainnya. Ada nih yang memang Tuhan kasih lebih mudah cemas daripada yang lain, dalam teori Big 5 (baca: big five), adalah tipe kepribadian neurotisisme. Yaitu, kita yang memang lebih mudah tegang terhadap segala sesuatu. Sementara, ada memang orang-orang yang diberi anugerah lebih tenang daripada yang lain.


Apalagi kalau sebelumnya sudah memiliki kecenderungan untuk obsesif sejak dini. Kecenderungan seperti ini juga bisa berpengaruh meningkatkan kecemasan selama pandemic ini. Misalnya, ada teman saya yang sejak kecil merasa tidak bisa belajar jika penghapus pensilnya yang berwarna putih itu kotor, jadi setengah jam bisa dihabiskan sebelum belajar hanya untuk membersihkan penghapus pensilnya. Tipe seperti ini selama pandemic bisa lebih mudah terkena CAS daripada mereka yang nggak punya bawaan obsesif.


Selain itu, mereka yang memiliki gangguan obsesif-kompulsif juga mungkin lebih berisiko, karena kekhawatiran COVID-19 dapat memperkuat kondisi tersebut. Peneliti berharap akan ada sekelompok orang (divaksinasi atau tidak) yang terus-menerus mengkhawatirkan COVID dan menghindari apa pun yang dapat meningkatkan risiko mereka. Namun, penelitian hanya dalam tahap awal, dan berbagai faktor kompleks perlu dipertimbangkan.


Selain itu, ada juga orang-orang yang tidak tahan dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan. Kalau kita memiliki toleransi rendah terhadap ketidakpastian kita akan semakin cemas dengan kondisi Covid-19 yang serba tidak pasti ini.


Lalu, faktor eksternal yang berasal dari luar diri kita apa saja yang bisa membuat kita jadi terserang CAS?


Paparan pemberitaan Covid-19 yang mengerikan terus menghantui kita. Suara sirine ambulan dimana-mana. Nah, bagi kalian yang mengalami CAS, kalian bisa mengurangi paparan berita-berita negatif. Bukan berarti jadi bodo amat dan nggak peduli, tapi lebih kepada melakukan regulasi informasi yang kita konsumsi.


Hal lain yang bisa menyebabkan CAS adalah kita mengalami dan melihat peristiwa tidak menyenangkan di sekitar kita. Selama pandemi ini banyak sekali berita duka di sekitar kita. Berita-berita ini juga bisa memantik rasa cemas kita.


Teman baik, dalam salah satu prinsip psikologi, salah satu cara mengurangi kecemasan adalah dengan memahami apa saja yang hal-hal yang mengganggu kita. Dengan memahami dan membuat daftar apa saja yang mengganggu kita, selanjutnya kita akan lebih mudah mengatasinya. Ibaratnya kita sudah tahu apa yang harus kita hindari. Jadi, coba list dengan keadaanmu sendiri, apa saja yang membuatmu semakin cemas di masa pandemi ini.


Bagaimana Mengatasi CAS?




Teman baik, ada beberapa cara untuk mengatasi dan mengelola gejala Covid Anxiety Syndrome (CAS).


Tingkatkan Asupan Kabar Baik

Teman baik, sudah membaca berita positif apa hari ini? Kita bisa memulai hari dengan mencari pesan positif tentang seberapa banyak dari kita yang telah sembuh dari Covid, berapa banyak orang telah divaksin, dan berbagai berita baik lainnya.


Cerita Ke Teman Baik

Teman baik, kalau kecemasan sudah mulai menguasai pikiran. Coba hubungi sahabat terdekat. Sampaikan perasaan cemas kita dengan orang yang kita percaya bisa saling menguatkan. Ada seseorang yang membersamai kita, bisa menyediakan dukungan sosial yang kita perlukan.


Merawat Diri Sendiri Sebelum Lainnya

Teman baik, meningkatkan mood positif dan mengurangi kecemasan bisa dengan dimulai dari bersikap baik pada diri sendiri. Seperti, luangkan waktu ekstra untuk merawat diri. Sering-seringlah beristirahat, berolahraga, dan lakukan hal-hal yang kita sukai untuk membantu menghilangkan stres.


Kalau Sudah Tidak Bisa Mengatasi Sendirian, Hubungi Profesional

Teman baik, jika kita merasa gejala Covid Anxiety Syndrome (CAS) mulai nggak bisa kita atasi sendiri, berlangsung selama berbulan-bulan, dan sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari kita, nggak ada salahnya untuk menghubungi terapis atau konselor baik di kantor atau online.


Sepatah Kata dari Temani Teman

Temaniteman x Klik.Klas melalui program temaniteman.com sudah menyediakan layanan psikologi secara gratis. Kita bisa berkonsultasi dengan psikolog langsung. Kamu bisa langsung cari di bagian layanan ya. Atau, terus pantau Instagram kami dan hadiri webinar yang kami buat untuk membersamaimu selama menghadapi masa pandemic ini. Jangan malu untuk mencari pertolongan. Mencari pertolongan artinya merawat diri sendiri untuk bertumbuh setiap hari. Selamat mencari pertolongan! (Fakhirah Inayaturrobbani)

Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya


Nikčević AV, Spada MM. The COVID-19 anxiety syndrome scale: Development and psychometric properties. Psychiatry Res. 2020;292:113322. doi:10.1016/j.psychres.2020.113322


Smith LE, Mottershaw AL, Egan M, Waller J, Marteau TM, Rubin GJ. The impact of believing you have had COVID-19 on self-reported behaviour: Cross-sectional survey [published correction appears in PLoS One. 2021 Feb 25;16(2):e0248076]. PLoS One. 2020;15(11):e0240399. Published 2020 Nov 4. doi:10.1371/journal.pone.0240399


5 views0 comments

Recent Posts

See All