• klik klas

Lagi Berkonflik? Sebelum Saling Hantam, Baca Ini Dulu...

“Kalau bertengkar tuh, rasanya arrrghhhh. Bisa ga sih pertengkaran dihapuskan dari dunia ini? Biar hubungan aku tuh aman-aman aja, lancar jaya kayak jalan tol”


Pernah mengeluh hal serupa? Atau, ada nggak yang merasa pengen hubungannya tuh mulus kayak jalan tol, tanpa perlu ada konflik?


Lalu, siapa nih, yang kalau bertengkar rasanya pengen balik kanan bubar jalan, alias ga mau mempertahankan hubungan antara kamu dan dia?


Katanya sih, kalau bertengkar tuh bisa bikin hubungan retak. Soalnya, banyak banyak yang bilang kalau hubungan yang baik itu karena keharmonisan di antara orang-orang yang menjalin hubungan, sebaliknya, ketidakharmonisan yang sering dikaitkan dengan pertengkaran, bisa membuat sebuah hubungan jadi rusak.


Padahal, faktanya ga demikian. Berselisih pendapat dalam takaran yang tepat juga bisa meningkatkan kedekatan, kepercayaan, dukungan, dan hal-hal lain yang dibutuhkan dalam menguatkan hubungan.


Ga mungkin banget dalam sebuah hubungan kita akan terus adem ayem. Malah, dalam teori pembentukan hubungan, konflik adalah fase penting untuk ada dalam sebuah hubungan, guna menciptakan aturan dan kesepakatan bersama. Kalau dalam sebuah hubungan nggak pernah ada konflik, malah bisa jadi hubungan tersebut perlu dicurigai, apakah benar-benar terjadi interaksi atau nggak?


Lalu gimana sih caranya agar konflik kita itu masih dalam ‘takaran yang tepat’. Ibarat bumbu, nggak kelebihan, atau kekurangan. Atau, gimana sih, supaya konflik kita tetap dalam jalan yang tepat, nggak belok ke arah negatif?


Wokaay, mari kita bahas ya Klikers dan #TemanBaik dimanapun berada. Semoga bisa membantu menjalani relasi-relasi sosialmu.


KONFLIK ITU KENYATAAN HIDUP, GIMANA LAGI


Klikers dan #TemanBaik, kita ini hidup di dunia bukan di surga, hehe. Artinya, konflik itu bukan sesuatu yang bisa dilenyapkan begitu aja. Konflik adalah kenyataan yang akan selalu ada. Senyata kamu bernapas, senyata matahari yang menyinari dunia, dan senyata waktu yang berlalu. Meski nggak kelihatan, dia akan selalu ada di mana aja saat kita hidup. Dengan mengganti mindset, dari menghindari konflik sama sekali, dengan berdamai bahwa memang hidup ini penuh konflik, akan mempengaruhi cara kita melalui konflik, lho.


Lalu, maksudnya apa nih, kenapa kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa memang konflik itu alamiah, natural, dan keniscayaan? Aku pengen ngajak temen-temen untuk melihat bahwa apapun pilihan kita, tetap akan berpotensi menimbulkan gesekan dan konflik-konflik. Mau kamu mengkomunikasikan atau nggak, semuanya ada resiko konfliknya. Mau diem aja, mau bicara terbuka, pahamilah semuanya ada resiko konfliknya. Baik yang tersembunyi alias tersirat, atau konflik terbuka. Semuanya berpotensi mendatangkan konflik. So, buat apa menutup mata akan adanya konflik atau nggak. Sebab, kita akan selalu bertemu konflik, mau nggak mau. Namanya juga sedang hidup di dunia, hehe.


Misalnya, kita nggak senang nih saudara/pasangan/teman kita suka datang terlambat. Kalau kita tipe yang menghindari konflik, mungkin kita diemin aja daripada disampaikan ketidaknyamanan kita. Alih-alih mendiskusikan perasaan dan pikiran kita setiap kita merasa jengkel, kita memilih memendamnya. Kita bermaksud menghindari konflik dan membiarkannya berlalu begitu aja. Rasanya cara ini adalah cara yang paling nyaman dilakukan. Menghindari konflik. Tapi, pada saat yang sama. Sebenarnya kita sedang menimbun konflik. Entah kapan aksi diam ini akan meledak. Ini yang menakutkan, saat kita sudah nggak sanggup menahan dan meledak dalam kondisi emosi yang nggak bisa dikontrol lagi. Kalau sudah begini, resiko dari akibat konflik lebih tinggi lagi. Kita jadi bisa mengatakannya dengan nada marah dan perkataan yang lebih menyakitkan. Kita jadi semakin mudah tersulut dan merasa jengkel.


Orang yang kita sebelin juga bisa ikut marah, mereka bisa jadi merasa jengkel kenapa mereka tidak diberitahu dari dulu akan hal-hal yang kamu permasalahkan. Mereka bisa aja menuntut “Kenapa nggak dari dulu sih dikasih tahunya? Kenapa baru sekarang,” Kalau sudah begini, hubungan bisa aja menjadi tegang, kebencian jadi lebih dalam, dan pertengkaran bisa naik ke eskalasi yang tinggi.


So, Klikers dan TemanBaik, jauh lebih sehat, lho, untuk menangani dan menyelesaikan konflik daripada menimbunnya. Keterampilan komunikasi dibutuhkan dalam fase-fase seperti ini, yaitu gimana caranya kita bisa mengatakan sesuatu dengan cara yang lebih mungkin didengar, tanpa bersikap nggak hormat kepada orang lain.


Defensif, Seribu Jurus Melindungi Diri

Siapa yang kalau lagi berkonflik tiba-tiba mengeluarkan berbagai jurus seribu alasan melindungi diri alias defensif?


Kadang (meski tidak selalu), saat berkonflik kita jadi sulit objektif dan sulit untuk memandang sudut pandang orang lain. Kita yang lagi mode defensif bisa keras kepala menyangkal semua kesalahan apapun yang dijelaskan orang lain terhadap kita.


Saat sudah tahu sifat kita saat berkonflik, yang cenderung membela diri sendiri dan tidak ingin dipersalahkan), kita bisa tarik napas sejenak, mengatur napas, dan lebih banyak mendengarkan. Diam sejenak, mendengarkan semua masukan dari lawan konflik kita, kadang terasa menyakitkan, tapi ini lebih baik daripada tidak mencoba mendengarkan dan bersikap defensive. Tahan, sabar, dengarkan, cerna dulu, dan sampaikan sisi pandanganmu setelah dia selesai berbicara.


Please, No Drama-Drama Club


Siapa yang suka langsung mengungkit semua hal, termasuk kesalahan-kesalahan dari jaman prasejarah ke pertengkaran yang sebenarnya nggak ada hubungannya sama konflik yang dihadapi saat ini?


Ini artinya kita lagi jadi ahli sejarah dan ahli menggeneralisir berlebihan. Kalimat-kalimat seperti, “Kamu tuh ya dari dulu selalu begini,”


Weits, ini kalimatnya udah sangat berbahaya.


“Dari dulu,” artinya kamu mengungkit semua hal dari jaman dahulu kala dan sifatnya generalisir banget. Emang dari dulu ga ada satupun waktu di mana orang yang berkonflik dengan kita melakukan sesuatu yang tepat? Mungkin ga selalu ya. Pasti ada satu dua masa dia nggak seburuk itu. Apalagi ada kata ‘selalu’. Wosh, siapa yang yang nggak sebal, kalau kebaikan-kebaikan kita dilupakan dan kesalahan kita yang digeneralisir. Ini sama aja menambahkan minyak dalam bara api konflik.


Saat berkonflik, tahan diri, tahan agar nggak mengungkit masa lalu. Juga, tahan diri agar nggak menggunakan kata-kata yang mengandung unsur generalisasi berlebihan.


Merasa Sok Benar, Gadjah Di Pelupuk Mata Tak Tampak


Nah, siapa nih yang suka tiba-tiba defensive dan jadi merasa yang paling benar.


Semua kata-kata lawan bicara kita, kita mentahkan semua. “Nggak, nggak gitu. Yang bener itu aku. Kamu nggak ngerti semua ini. Kamu nggak paham,”


Wudududu… bukan hanya saat terjadi konflik, saat nggak terjadi konflik pun, cara bicara seperti ini bisa membuat orang lain kesal. Apalagi saat terjadi konflik, bisa-bisa, makin besar apinya.


Klikers dan Teman Baik, memutuskan secara sepihak bahwa cara kita memandang sesuatu itu adalah satu-satunya yang benar dan cara orang lain itu salah adalah sesuatu yang nggak bijak. Nggak semua orang berpikir dan berperilaku dengan cara dan pertimbangan yang sama dengan kita.


Lalu, kalau udah begini, harus bagaimana?


Carilah titik temu di antara pandangan-pandangan yang berbeda ini. Jangan pernah menuntut orang lain bisa benar-benar dalam posisi kita. Ingatlah bahwa tidak selalu ada yang "benar" atau "salah", dan dua sudut pandang bisa sama-sama valid.


Terkadang kita tidak menyadari gimana pikiran bisa meledakkan sesuatu di luar proporsi yang seharusnya. Generalisasi ini merupakan salah satu dari daftar distorsi kognitif umum yang dapat menghalangi hubungan yang sehat antara kita dengan orang lain dan dapat memperburuk tingkat stres. So, tahan diri, sekali lagi, Tarik napas, dan hindari menggeneralisir sesuatu.


Cenayang


Siapa nih yang suka begini, “Kamu ini nggak paham pikiran aku, aku aja paham apa yang kamu pikirin!”


Wait, tunggu, tunggu… Emang kita adalah cenayang yang bisa baca pikiranmu, dan apakah kamu juga cenayang yang bisa membaca pikiran orang yang berkonflik denganmu?

Kita bukan cenayang, dan nggak ada orang yang benar-benar bisa membaca pikiran orang lain secara sempurna. Semuanya perlu dibicarakan dan didiskusikan, meski kita merasa tahu. Seringkali kita malas, enggan, atau lupa, untuk menanyakan perasaan orang lain terhadap peristiwa yang sedang dialami. Kadang juga kita memutuskan apa yang berhak mereka putuskan dan diskusikan dengan kita. Pada posisi ini, kita merasa serba tahu, apa yang dipikirkan orang lain.


Jika berada dalam posisi seperti ini. Ketahuilah kecenderungan kita untuk jadi sok tahu ini. Melempar pertanyaan-pertanyaan terbuka kepada lawan bicara kita penting lho untuk dilakukan. Melakukan klarifikasi juga bisa dilakukan, misal, “Gimana perasaanmu terhadap peristiwa ini? Mau nggak kita bicara dan mencari solusi?” Dengan menanyakan perasaan dan pikiran orang lain, kita bisa saja jadi lebih empati dan meredam emosi kita.


Saling Menyalahkah

“Ini semua salah kamu, titik!”

“Nggak, ini gara-gara kamu, coba kamu nggak melakukan itu, aku nggak akan kayak gini,”

Hem… kapan ujungnya kalau saling menyalahkan begini. Klikers dan TemanBaik, bisa aja kita secara nggak sadar terbiasa menangani konflik dengan defensif, nggak terbiasa mendengarkan orang lain, dan tergoda untuk menyalahkan serta menyudutkan orang lain.

Mengubah kebiasaan itu emang sulit. Tapi, dengan tahu dan paham bahwa kita semua cenderung defensive dan ga mau disalah-salahkan, kita bisa mulai melatih menahan diri untuk baku hantam saling melempar siapa yang bertanggungjawab.

Kadang kita juga malu mengakui kesalahan kita, karena kalau ngaku, seringkali kita jadi merasa lebih lemah daripada lawan kita. Akibatnya kita menghindari mengakui kesalahan kita, dan berbalik memojokkan orang lain dengan segala cara.

Sebaliknya, mari kita coba untuk melihat konflik sebagai kesempatan untuk menganalisis situasi secara objektif, latihan buat kita untuk menilai kebutuhan kedua belah pihak dan menemukan solusi yang membantu kita berdua.


Mencoba Menang, Padahal …

Konflik emang seringkali terasa seperti ajang pembuktian siapa yang benar dan salah. Jadi, tanpa kita sadari, kita berusaha membuktikan bahwa kitalah yang benar, sehingga kita adalah sang pemenang dari konflik ini.


Well, Klikers dan TemanBaik, konflik bukan urusan menang kalah. Ini bukan pertandingan. Ini bukan perlombaan. Konflik adalah sebuah proses bersama antara dua belah pihak. Sekali lagi, konflik adalah proses bertumbuh di antara dua belah pihak. Ini bukan soal pihak siapa yang berhak dan pantas menang dan tidak. Jika konflik ini sukses membuat kedua belah pihak tumbuh bersama, artinya kedua belah pihak memenangkan proses ini bersama. Jika konflik membuat kedua belah pihak terluka secara negatif, terpukul, dan menyebabkan hubungan jadi nggak baik, artinya kedua belah pihak kalah bersama. Konflik sekali lagi adalah proses bersama. Nggak perlu ada mindset menang-kalah.


Dengan berubahnya pandangan kita dari konsep “aku menang/aku kalah” ke “kita harus menang bersama” akan membuat cara kita menyelesaikan konflik jadi berubah banget. Kita bisa mencoba berkonflik dengan positif, dan mengusahakan agar kedua belah pihak #selalubertumbuh dalam setiap prosesnya.


Sekali lagi, kalau kita fokus pada "memenangkan" argumen, jamin deh kita akan kehilangan relasi dan hubungan dengan orang itu. Dalam berkonflik pun kita harus saling pengertian dan mencapai kesepakatan atau resolusi yang menghormati kebutuhan semua orang. Jika kita membuat fokus tentang betapa salahnya orang lain, mengabaikan perasaan mereka, dan tetap berpegang pada sudut pandang kita, kita sedang mengarahkan konflik ke jurang yang salah.


Bagai Dinding, Diam Seribu Bahasa

“Aku nggak mau bahas ini lagi,” Hem… siapa nih yang suka lari dari konflik dengan diam seribu bahasa? Apakah kamu pernah dalam keadaan malas bahas konflik yang harusnya bisa segera didiskusikan pemecahan masalahnya?


Kalau iya, berarti kamu tipe yang nggak ingin menghadapi konflik dengan terbuka. Karena, diam seribu bahasa, menghindari pembahasan dan bungkam sebenarnya juga sedang merawat konflik. Padahal saat salah satu pihak ingin membicarakan masalah ini, artinya sudah ada iktikad baik lho untuk menyelesaikan masalah. Maka hindari untuk menolak membicarakan masalah yang ada, menolak untuk berdiskusi, dan menutup mata dengan masalah yang memang tidak bisa diabaikan.


Bungkam dan menolak bicara adalah sebuah Langkah yang nggak menyelesaikan apa pun selain menciptakan perasaan diabaikan dan merusak hubungan. Jauh lebih baik untuk mendengarkan dan mendiskusikan berbagai hal dengan sikap terbuka.


Sepatah kata dari Klik.Klas dan #TemanBaik


Konflik punya dua sisi mata uang. Kalau kita bisa memanajemen konflik dengan baik, kita akan mampu meraih kemampuan-kemampuan penting untuk selalu bertumbuh dalam situasi apapun. Sebaliknya, jika konflik nggak diatasi dengan baik, kita akan kehilangan hubungan penting yang sudah kita bina dan rawat selama ini. Perhatikan kecenderungan alami kita saat menghadapi konflik. Dengan memahami kecenderungan-kecenderungan alami kita, kitab isa menghindari apa yang perlu dihindari, seperti kecenderungan untuk defensif, menyalahkan orang lain, dan menolak bicara. Semoga dengan membaca ini, kita jadi punya modal untuk selalu bertumbuh, salah satunya belajar dari konflik.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

De Dreu, C. K. (1997). Productive conflict: The importance of conflict management and conflict issue. Using conflict in organizations, 9-22.

Longaretti, L., & Wilson, J. (2006). The impact of perceptions on conflict management. Educational Research Quarterly, 29(4), 3-15.


10 views0 comments

Recent Posts

See All