• klik klas

Kok, Aku Cocok Sama Semua Gangguan Mental?

“Setiap Ada Konten Edukasi Gangguan Mental, Kok Aku Cocok Semua Ya?”



Pernah nggak sih kamu merasa pas baca edukasi gangguan mental, kamu merasa semua gejala yang disebutin cocok sama kamu?


“Duh, apa aku depresi berat ya?”

“Hah, aku bipolar ya ternyata, karena bisa gampang sedih, gampang ketawa,”

“Apakah aku skizofrenia, karena aku udah mulai mengalami halusinasi, soalnya aku sering halu nikah sama biasku,”


Wait… Tunggu-Tunggu… hati-hati sama self-diagnose lho yaa…

Kamu mendiagnosa diri sendiri cuma dengan baca satu dua artikel, apalagi cuma cuplikan postingan Instagram? Aduh jangan begitu ya say…Padahal, para psikolog untuk bisa mendiagnosa para kliennya perlu belajar 6,5 sampai 7 tahun.


LALU KENAPA SIH KOK AKU COCOK SAMA SEMUA GEJALA?




Gangguan Mental Itu Kontinum

Gangguan mental itu bukan area hitam putih ya Klikers dan #TemanBaik, gangguan mental itu area yang kontinum. Kayak iman, hehe. Maksudnya adalah levelnya bisa bervariasi, terus bisa berfluktuasi, bisa banget kondisi kita berubah dari satu detik sebelumnya ke detik lainnya.


Makanya, perlu orang yang punya keahlian dalam menentukan kamu lagi di titik mana, level mana, dan dalam fluktuasi yang seperti apa. Kecuali kita sudah sangat terlatih (sepeti para psikolog itu sendiri, yang memang sudah tahu ilmunya, baru boleh mendiagnosa diri sendiri). Ibaratnya para dokter udah tahu berbagai ciri penyakit, jadi dia bisa mendiagnosa dirinya sendiri.


Friendly reminder nih, nggak boleh mencocok-cocokkan gelaja tanpa ilmu yang cukup. Ga Cuma berlaku buat psikologi sih, tapi buat segala hal. Kalau belum punya ilmu yang cukup, lebih baik berhati-hati yaa…Atau ketika ada konten edukasi banyak yang merespon "aku juga/aku banget". Nah apakah semua orang punya mental illness atau hanya stres umum? bagaimana bedanya?


Gangguan Mental Itu Saling Tumpang Tindih




Dear Klik.Klas dan #TemanBaik, gangguan mental itu nggak diskrit, alias terpisah-pisah. Satu gejala bisa jadi muncul di berbagai gangguan mental, misalnya penurunan mood, nggak bersemangat, dan lain sebagainya bisa jadi indikator dan gejala di berbagai variasi gangguan mental. Makanya, bisa jadi, satu psikolog dan psikolog lainnya mendiagnosa secara berbeda.


Sebuah acara seminar dan konferensi psikologi klinis di Indonesia yang dihost oleh Univesitas Gadjah Mada di tahun 2021 mendiskusikan hal penting ini. Yaitu, apakah perlu ada indikator yang lebih umum di antara gangguan kesehatan mental yang seringkali tumpah tindih. Artinya, perlu ada petunjuk baru mana gangguan mental yang berpotensi saling tumpeng tindih dan mana yang jelas tidak perlu tumpeng tindih.

Mendiagnosa itu rumit dan perlu kehati-hatian. Jadinya perlu ilmu.


Gangguan Mental Itu Berspektrum


Kalau denger kata spektrum, apa yang terbayang di benakmu?


Kalau aku langsung ke inget spektrum warna. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata spektrum adalah rentetan warna kontinu yang diperoleh apabila cahaya diuraikan ke dalam komponennya.


Nah, gangguan mental ini juga berspektrum. Karena dia kontinu dan berspektrum ini, maka variasinya akan sangat beda satu dengan lainnya. Tergantung kondisi kita masing-masing.


Misalnya, gangguan yang sudah disepakati bersama spektrumnya adalah autisme. Autisme punya nama ilmiah Austism Spectrum Disorder (ASD). Yep, artinya autisme ini ga Cuma punya satu varian. Ada banyak banget variannya.


Apa aja variasi dari 5 spektrum autism itu? Misal ada asperger's syndrome, rett syndrome, childhood disintegrative disorder, Kanner's syndrome, dan pervasive developmental disorder.


Apaan tuuh…


Hahahaha… udahlah penjelasan detailnya nanti aja. Tapi, yang perlu dihighlight adalah ada gejala yang sama di antara semua itu, misalnya, sulitnya berinteraksi secara sosial dan mudah kehilangan fokus.


Wadidaw…


Langsung ga pada evaluasi diri yang sulit fokus pas ngerjain tugas atau kerjaan. Haha. Padahal, untuk menegakkan seberapa perlu gejala mudah kehilangan fokus ini masuk ke varian austisme, kita ga punya modal ilmu dan pengalaman yang cukup kan. Makanya, hati-hati ngediagnosa diri sendiri.


Tapi, Buat Apa Edukasi Psikologi Kalau Ga Boleh Diagnosa Diri Sendiri?


Edukasi dilakukan supaya kamu bisa aware, “Eh, ada yang salah ternyata sama gue, eh ada gejala yang gue rasain,”


Untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, kamu bisa banget datang ke layanan konsultasi terdekat. Misalnya, Klik.Klas menyediakan layanan gratis, bisa diklik di kanan atas yaa…

Berarti gimana sikap yang tepat ketika membaca edukasi psikologi di berbagai konten-konten? Nah, jadikan ini pemahaman awal, lalu kalau gejala-gejala itu semakin menganggumu, kamu bisa segera mencari professional untuk memastikan apakah gejalamu berbahaya dan perlu ditindaklanjuti.


Sebagaimana kalau kita sakit demam, kita bisa aja mengabaikan “Alah Cuma demam,” atau malah over panik, karena ada banyak penyakit mematikan yang emang ditandai dengan demam. Yang tahu kontinumnya adalah dokter, bukan kita. Tapi, dengan tahu bahwa demam itu adalah reaksi pertahanan diri saat dimasuki oleh benda asing yang berbahaya seperti virus.


Dengan semakin maraknya pemahaman soal kesehatan, kita jadi tahu bahwa demam itu gejala umum, belum spesifik. Kita tahunya, “Oh ada benda asing nih di tubuh gue yang nggak bisa diterima oleh badan. Kira-kira apa yaa…?” Langsung deh kita pastiin ke dokter.


Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan #TemanBaik

Untuk bisa #selalubertumbuh kita perlu ilmu yang cukup. Makanya, terus aja belajar, terutama belajar caranya merawat diri sendiri biar lebih bisa produktif dan bersinar dengan cahaya kita sendiri. Kalau kita pas baca-baca artikel kesehatan mental dan menu penjelasan soal gangguan kesehatan mental yang rasanya semua gejala cocok sama kita, jadiin ini peringatan ke diri sendiri. Tanyakan gejala ini ke professional, siapa tahu kita ini masih cetek ilmunya, dan takunya salah diagnosa.Terus semangat, semoga perjalanan bertumbuhmu menyenangkan.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Kamu Suka Baca Jurnal Aslinya? Bisa Visit Ini

Payton, A. R. (2009). Mental health, mental illness, and psychological distress: same continuum or distinct phenomena?. Journal of health and Social Behavior, 50(2), 213-227.

Westerhof, G. J., & Keyes, C. L. (2010). Mental illness and mental health: The two continua model across the lifespan. Journal of adult development, 17(2), 110-119.

Sulis, W. (2021). The continuum from temperament to mental illness: dynamical perspectives. Neuropsychobiology, 80(2), 135-147.





1 view0 comments

Recent Posts

See All