• klik klas

"Ketika Aku Dibully Teman-Temanku,"



“Saat SMP, entah kenapa ada saja yang bisa jadi bahan ejekan dari teman-temanku. Dari fisikku, keluargaku, sampai caraku bicara yang agak gagap. Sepertinya semua bisa jadi bahan ejekan oleh teman-temanku. Aku berusaha mengabaikannya, karena mereka bercanda, tapi entah kenapa lama-lama rasanya sakit hati juga. Aku berusaha melaporkan ke guru sekolah, tapi mereka jadi bilang aku tukang adu. Mereka makin menjauhiku dan semakin terang-terangan mengejekku saat aku jalan dengan teriakan-teriakan, “Ih anak mama, suka ngadu!”


“Rasanya ingin menangis setiap mendengar teriakan dari mereka di lorong sekolah. Apalagi saat teman-teman lain hanya bisa melihatku dan nggak membantu apa-apa. Aku merasa sangat sendirian, nggak berdaya, dan nggak bisa cerita ke siapa-siapa.”


“Lama-lama mereka suka menyembunyikan buku tulisku, aku jadi sering ga bisa mencatat pelajaran karena buku-bukuku disembunyikan. Aku ingin bercerita ke guru, tapi takut ejekan mereka semakin menjadi-jadi. Aku bingung. Jadinya aku pendam sendiri sampai aku lulus sekolah,”


“Dampaknya gede banget peristiwa itu. Meskipun aku udah nggak bertemu dengan mereka lagi, aku merasa diriku jadi nggak ada yang bisa dibanggakan. Aku sering marah ke diriku sendiri, kenapa aku jelek, aku bodoh, nggak kaya, dan sulit bergaul. Semua kelemahanku ini yang sering jadi bahan ledekan teman-temanku. Aku sering berandai-andai, kalau aja, aku nggak seburuk itu, bisa jadi aku nggak dibully,”


“Aku jadi punya trust issue, aku sulit bicara dengan orang lain, aku takut mereka akan jahat padaku dan membullyku lagi. Aku takut membuka diri, takut semakin aku terbuka, semakin banyak kelemahan yang bisa dijadikan bahan ejekan. Aku takut cerita ke orang lain soal keluargaku, aku takut nanti ada apa-apa lagi. Aku merasa serba salah. Aku butuh teman, tapi aku takut berteman. Aku juga jadi takut memulai hal baru, takut bertemu orang baru, takut mencoba sesuatu yang baru. Pikiran-pikiran seperti ‘gimana kalau aku ga diterima lagi?’ ‘gimana kalau aku diejek lagi?’ terus menerus muncul. Aku bingung harus apa…”


***

Ada yang Punya Kisah Serupa?

Klikers dan Teman Baik, adakah kalian yang mengalami kisah serupa dengan Dhiya?


Kalau kalian mengalami hal serupa, atau lebih berat dari itu, pasti berat melalui semua hal itu. Tidak pernah mudah bersikap baik-baik saja setelah semua kata-kata dan perilaku yang menyakitkan itu menimpamu. Apapun tipe perundungannya, kamu para penyintas tentu akan mengalami dampak pada sisi emosi dalam jangka pendek atau panjang. Jadi aku ingin mengucapkan, “Terimakasih telah bertahan, dan, terimakasih telah melanjutkan hidup hingga hari ini. Kamu hebat!”


Lalu, apakah ada di antara Klikers dan Teman Baik, yang masih berhadapan dengan perundungan dalam kehidupan sehari-hari kalian saat ini? Jika ya, dan kamu mencari cara untuk menyelesaikan masalah itu, bagaimana jika kamu menyimak saran-saran dari kita? Siapa tahu ada yang cocok denganmu dan berguna.


Memahami Mengapa Orang Lain Menindas


Pernahkah kamu berpikir seperti ini, “Apa yang terjadi dengan hidup mereka ya, kok sampai nggak bisa bersikap baik ke orang lain?”


Atau, pernah ga kamu berpikir, “Masa lalu apa yang membuat mereka harus berusaha sok berkuasa, mengganggu, dan menindas, agar terlihat lebih superior dibandingkan yang lain ya?”


Pertama, Bisa Jadi Mereka Korban Juga

Klikers dan Teman Baik, ada banyak alasan mengapa orang terlibat dalam perilaku menyakiti orang lain. Kadang ia sendiri terbiasa menerima ejekan. Jadi, ia merasa semua orang harusnya biasa saja saat diejek, sebab dirinya juga menerima hal yang sama. Kenapa harus ada yang baper dan lebay? Bukannya ejekan itu becandaan aja?


Pernah ga melintas di benakmu, begitu terbiasanya mereka dengan cara berteman yang saling mengejek, atau mereka besar di lingkungan yang melihat ejekan verbal itu begitu biasa, jadi mereka nggak punya gambaran berteman yang sehat itu seperti apa. Dengan cara melihat seperti ini, kamu akan melihat dengan kacamata yang lebih luas. Kamu yang awalnya mengasihani dirimu sendiri, bisa jadi malah menjadi empati kepada mereka, sehingga saat kamu mendapatkan ejekan, kamu bisa berbisik ke dirimu sendiri, “Alangkah kasihannya mereka, nggak punya empati, sulit berteman dengan cara yang sehat, dan nggak punya pandangan yang luas,”


Kalau kamu berada di dalam posisi Dhiyah dan kamu punya keluasan hati yang lebih besar daripada rasa sakit hatimu. Katakan pada dirimu sendiri, “Aku mencoba memahami mereka,” lalu maafkan mereka yang belum tahu. Maafkan mereka yang tidak punya pandangan seluas dirimu. Dan, maafkan mereka yang tidak selapang dirimu.


Kedua, Harga Diri Rendah

Selain itu, kadang-kadang para penindas berperilaku jahat karena mereka cemburu atau iri pada orang yang mereka targetkan. Di lain waktu, mereka menggertak karena mereka ingin bersikap lebih berkuasa. Ada dua alasan mengapa hal ini terjadi jika dipandang dari harga diri para perundung. Pertama, mereka yang merundung adalah mereka dengan harga diri yang rendah.


Kok bisa sih harga diri yang rendah?


Karena kita yang punya harga diri yang tinggi nggak merasa perlu mengorbankan orang lain untuk merasa baik-baik saja. Kita yang punya harga diri yang tinggi akan selalu bisa mencari cara untuk berdiri tegak tanpa harus menginjak orang lain.


Mereka yang senang menindas karena harga diri yang rendah sebenarnya berusaha untuk terlihat lebih baik dengan memperjelas kesalahan orang lain sehingga mereka terlihat baik. Misalnya pada kasus Dhiyah, mereka ga bisa mengalahkan Dhiyah dalam pelajaran, akhirnya menyembunyikan buku Dhiyah. Kasihan mereka harus melakukan itu agar terlihat hebat, agar orang lain jatuh dulu, baru mereka terlihat hebat.


Ketiga, Kurang Empati

Sementara itu, anak-anak lain mungkin terlibat dalam perilaku menindas karena mereka suka membuat drama, menganggapnya menyenangkan, atau menganggapnya lucu. Kalau dilihat-lihat lagi, kenapa mereka bisa kurang empati begitu ya. Pernahkah bertanya-tanya, kenapa mereka sulit berbuat baik, apakah karena mereka kurang terbiasa menerima kebaikan dan empati dari orang lain?


Kalau kamu melihat mereka memang kurang empati. Kamu bisa bereksperimen dengan menunjukkan kebaikan hatimu pada mereka. Sesekali kamu bisa mentraktir mereka jajanan dan lihat apa reaksi mereka menerima kebaikan hatimu. Ada yang mengatakan, kebaikan hati akan meluluhkan bahkan batu yang keras sekalipun.


Cara-Cara Lainnya



Salah satu tips yang selalu manjur untuk menghadapi perundungan adalah dengan membuat kita sudah yakin dan bahagia dengan diri kita sendiri. Artinya, kita punya harga diri yang tinggi dan kita jadi nggak mudah dibully.


Kita yang punya harga diri yang tinggi, bukan artinya tinggi hati. Tapi, harga diri yang tinggi berarti kita percaya dengan diri kita sendiri. Kita tahu apa kelebihan kita, apa kekurangan kita, dan kita tahu bahwa kita berharga. Pikiran bahwa kita berharga dan kita istimewa ini adalah bagian dari harga diri yang tinggi. Kita yang punya harga diri yang tinggi cenderung lebih percaya diri, nggak mudah goyah dan down ketika dikritik dan diejek oleh orang lain.


Lalu gimana sih caranya bisa naikin harga diri? Tekunilah sesuatu yang kamu senangi. Fokus pada kelebihanmu. Saat kita tahu, kita punya kelebihan, kita cenderung lebih nggak mudah minder. Terus aja fokus mengasah kelebihanmu. Abaikan mereka yang mengolok-olok dirimu, fokus pada mereka yang menyemangatimu. Chayoo! Kamu bisa!


Oh ya, saat mendapatkan ejekan dan olokan dari orang lain rasanya pasti malu banget yaa... Apalagi kalau dilakukan di depan umum. Mau ngadu ke guru dan ortu, takut dibilang si pengadu. Duh, serba salah rasanya.


Kalau kamu punya teman baik, kamu bisa bercerita pada mereka. Bisa mencari support group di dunia maya, atau kamu mau ikut konseling di temaninet yang disediakan oleh Klik.Klas juga bisa. Intinya adalah selalu cari cara untuk menyalurkan emosi negatif. Memendam terus menerus tidak baik juga untuk jiwa dan ragamu. Jika dirimu merasa sudah nggak tahan lagi dengan tindakan mereka. Kamu bisa mengambil pilihan untuk melaporkan mereka ke orang-orang yang bisa membantumu. Sebelum melakukan hal ini, konsultasikan dengan orang tua dan gurumu.


Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan Teman Baik



#Klikers dan #Temanbaik menyelami sudut pandang mereka yang merundung dan senang menindas orang lain kadang membuat kita jadi lebih bisa memaafkan mereka. Seringkali mereka yang menindas biasa ditindas. Mereka yang terbiasa menindas, seringkali juga para penyintas dan penerima perundungan di masa lalu. Memahami mereka dan mengasihani mereka, bisa membuatmu lebih berani bersikap saat mereka melakukan hal-hal yang menyebabkan.


Kalau kamu sedang menghadapinya sekarang dan belum perlu merasa mencari bantuan ke guru atau orang tuamu, kamu bisa meregulasi dirimu dengan menaikkan harga dirimu dan mencari cara untuk menuangkan emosimu secara sehat.


Perundungan adalah fenomena yang sulit untuk diurai. Saat perlakukan yang kamu alami semakin memburuk, segera minta pertolongan kepada orang yang bisa membantu ya.

Semoga sedikit cara ini bisa membantumu #selalubertumbuh.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Lets’ opha, M. M., & Jacobs, L. (2017). “He doesn’t like it, but I do it anyway”: listening to the voices of learners who bully others. Acta Criminologica: African Journal of Criminology & Victimology, 30(3), 87-102.


Burns, S., Maycock, B., Cross, D., & Brown, G. (2008). The power of peers: Why some students bully others to conform. Qualitative health research, 18(12), 1704-1716.


Brunstein Klomek, A., Stanley, B., & Sourander, A. (2014). The Bullying Prevention Plan: An Approach to Youth who Bully Others. Adolescent Psychiatry, 4(3), 185-193.








3 views0 comments

Recent Posts

See All