• klik klas

"Ketika Aku Dendam Dengan Mereka!"

“Kak, aku marah dengan semua orang di luar sana yang nggak taat protokol kesehatan, keluargaku sudah berusaha sehati-hati mungkin tapi tetap kena. Sementara, mereka yang nggak taat, malah sehat-sehat saja. Tuhan adil ga sih kak? Kenapa hidup ini nggak adil?”


“Aku juga marah kepada mereka yang nggak taat prokes, ayahku yang seorang tenaga medis, juga akhirnya gugur karena Covid. Apa mereka tahu betapa beratnya kehilangan ayah saat semua bergantung pada ayah,” kata Anta dengan geram, seorang mahasiswa akhir di sebuah universitas di Bandung.


Ini adalah curhat Wino dan Anta tentang betapa marahnya mereka dengan lingkungan yang nggak menjaga protokol kesehatan. Apalagi sejak orangtua mereka terenggut bergantian karena Covid-19. Semua peristiwa terjadi begitu cepat. Rasanya masih segar dalam ingatannya mereka sangat berhati-hati berkegiatan di luar rumah. Tapi, takdir berkata lain. Orang tua mereka adalah salah satu dari korban dari keganasan Covid-19.


Ada begitu banyak rasa marah dan dendam yang begitu menggelegak pada diri Wino dan Anta. Ada kalanya semua itu terasa menggumpal kuat di dada mereka. Wino ingin sekali meneriaki semua orang yang nggak patuh terhadap protokol kesehatan dan berkata keras-keras, “Apakah kalian tahu, aku harus jadi yatim piatu karena kalian nggak taat protokol. Apakah kalian tahu betapa tindakan kalian ini berbahaya. Apa kalian tahu sakitnya kami yang ditinggal. Sana pergi, bubar nongkrongnya, bubaar…”


Sementara Anta, rasanya ia nggak ingin menyapa semua orang yang Ia tahu nggak taat pada protokol. Ia ingin mengabaikan semuanya. Ia ingin menghukum mereka yang nggak taat protokol dengan mengacuhkannya. Namun, dengan melakukan acuh dan mendiamkan mereka yang ia anggap terus nggak taat pada protokol, ia sendiri juga marah kepada dirinya sendiri atas tingkahnya yang mudah marah dengan semua itu. Ah, rasanya serba salah. Kepala Anta mau pecah dengan segala rasa marah dan dendam yang ada di hatinya.


**

Saat Marah Menjadi Dendam




Klikers dan Teman Baik, meskipun kita sering nggak suka mengakuinya, menyimpan dendam seringkali adalah suatu kondisi yang nggak kita sadari saat kita merasa dicurangi.

Lalu bagaimana kita menandai diri kita sedang menyimpan dendam? Coba amati ke dalam diri kita sendiri, apakah kita masih menyimpan kemarahan, kepahitan, kekesalan atau perasaan negatif lainnya setelah seseorang melakukan sesuatu yang menyakiti kita. Baik orang itu menyakiti kita dengan sengaja atau tidak, kita menyimpan kekesalan yang amat sangat dan ada rasa ingin membalasnya. Dendam juga sering muncul saat kita terus-menerus berpikir tentang orang yang menyakiti kita dan ingin dia merasakan hal serupa dengan yang kita alami.


Klikers dan Teman Baik, dendam berbeda dengan kesal pada tahap intensitas dan lamanya perasaan benci itu ada. Dendam tetap ada selama kita belum bisa memaafkan pihak yang menyakiti kita, sementara kesal akan berlalu begitu saja. Dendam juga bisa timbul dan tenggelam. Kadang muncul kadang nggak, namun ia selalu ada bila kita teringat kejadian-kejadian itu lagi. Bisa saja karena kita mengingat beberapa tindakan buruk di masa lalu dan menghidupkan kembali pengalaman itu setiap kali kita memikirkan atau berinteraksi dengan orang itu. Selain itu, bisa saja kita nggak sengaja menyimpan dendam tanpa kita sadari.


Efek Kesehatan Mental


Pada akhirnya, dendam adalah perasaan ingin membalas yang sangat intens ketika kita merasa disakiti dan diperlakukan tidak adil. Tapi apapun keadaan kita, siapa yang menyakiti kita, dan apa alasan-alasannya, menyimpan dendam pada akhirnya dapat menyakiti kita diri kita sendiri.


Klikers dan Teman Baik, menyimpan dendam dapat berdampak buruk pada kesehatan mental kita dalam berbagai sisinya. Mungkin kamu nggak tahu, atau kamu sudah tahu, bahwa semakin kita menyimpan kemarahan, seringkali kita malah menjadi merasa lebih marah karena kita menyimpan kemarahan itu dan nggak bisa memaafkan serta melepaskan kejadian itu dengan lapang dada. Alih-alih menerima semua hal yang telah terjadi dan move on dari pengalaman negatif atau berusaha menemukan resolusi untuk hidup dengan perasaan positif, menyimpan dendam dapat menjebak kita dalam lingkaran kebencian, kepahitan, keputusasaan, kekosongan, dan kemarahan.


Sederhananya, menyimpan perasaan negatif mau kita akui atau nggak akan membuat kita lebih terpapar pada emosi dan pikiran negatif yang lebih dalam. Kita jadi terus menerus berada di pusaran energi negatif. Karena kita terus menerus berpikiran dan menyimpan emosi-emosi negatif, kebahagiaan kita bisa aja berkurang secara keseluruhan.


Klikers dan Teman Baik, kalau kamu terus menerus mengingat kembali peristiwa yang menyakitkan itu, kamu akan berulang kali juga berkutat dengan emosi negatif yang melelahkan. Gimana emosi nggak melelahkan? Saat emosi negatif itu seperti Voldemort di kisah harry potter yang menyedot semua kebahagiaan kita, apalagi membuat kita mudah kesal, mudah terkuras energinya untuk sesuatu yang nggak perlu, dan bisa membuat frustrasi, karena nggak ada yang bisa diselesaikan atau diubah, kecuali, mungkin, kita akhirnya merasa lebih marah atau terluka. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa merenungkan peristiwa yang nggak menyenangkan membuat kejadian itu terasa seperti baru-baru ini terjadi, terlepas dari berlalunya waktu.


Selain itu, jika kita merasa pengalaman yang terjadi kepada kita sangat menyakitkan hingga kita sulit hidup setelahnya, tindakan menyimpan dendam bahkan mungkin membuat hidupmu jauh lebih menyakitkan daripada peristiwa itu sendiri. Kebencian yang menumpuk dan kemarahan internal yang nggak dikelola akan menciptakan stress yang besar, aka nada kekhawatiran, perasaan ingin menyerang /agresi, dan dikelilingi pikiran negatif, yang juga dapat meningkatkan kecenderungan kita terkena gangguan mental.


Tips Melepaskan Dendam




Lalu harus bagaimana? Pasti rasanya sulit ya, ketika kita disakiti dan kehilangan banyak hal dalam hidup kita. Rasanya ada rasa marah yang menggelegak dan ingin orang lain memahami betapa marahnya kita terhadap segala hal yang terjadi. Pasti berat merasakan semua itu. Itu manusiawi.


Namun, kita juga tahu bahwa menyimpan dendam adalah suatu kesalahan. Dengan kesadaran ini, lalu dari mana kita harus memulai berdamai dengan dendam yang telah lama berkerak di dasar hati kita? Jika kita memang merasa sulit untuk memendam semua rasa sakit ini sendiri, kita bisa lho mencari orang-orang yang mau mendengarkan kita apa adanya. Atau, jika itu sulit, kamu bisa mencari kelompok-kelompok dukungan online sehingga kamu bisa bebas bercerita apa saja tanpa khawatir orang itu akan mengenal siapa kamu dan siapa orang-orang di sekitarmu.


Mengeluarkan unek-unek yang lama mengendap di pikiran kita juga dapat membantu kita menjernihkan pikiran dan membuat rencana untuk mencari resolusi yang lebih baik. Kita juga bisa menghubungi konselor dan tenaga kesehatan mental professional. Berbicara dengan mereka yang profesional akan memberi kita wawasan tentang mengapa kita menyimpan dendam dan mereka akan membantu kita mengembangkan keterampilan untuk merespons situasi yang sulit atau menyakitkan secara lebih efektif.


Selain itu, sebelum kita mengambil kesimpulan atau mengutuk perilaku seseorang, ada baiknya kita menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Bisa jadi rasa curiga dan prasangka kita nggak sepenuhnya akurat. Faktanya, seringkali tindakan negatif orang lain sama sekali bukan tentang kita. Mungkin mereka hanya mengalami hari yang sangat buruk. Mungkin mereka hanya perlu bertahan hidup di tengah situasi ini. Mungkin mereka juga mengalami situasi yang lebih berat. Mungkin kondisi mereka lebih buruk daripada yang kita duga. Penelitian membuktikan prasangka kita jarang sekali benar seratus persen, lho.


Klikers dan Teman Baik, ada baiknya kita menyisihkan mulai belajar untuk melepaskan apa yang diluar kendali kita, kita berusaha untuk benar-benar memaafkan mereka yang telah menyakiti kita dan mempraktikkan teknik manajemen stres yang sehat.


Tarik nafasmu, lepaskan semua hal yang membuat napas kita berat bersamaan dengan hembusan napas. Mari kita belajar untuk menerima apa yang terjadi, melepaskan masa lalu, mendengarkan sudut pandang orang lain, lebih menikmati hidup yang dianugerahkan saat ini, sesekali bisa juga berlatih olahraga yang melibatkan latihan pernafasan untuk membantu kita rileks, kita juga bisa menghabiskan waktu untuk menilai lagi perasaan kita, menerimanya, dan memprosesnya dengan lebih sehat.


Klikers dan Teman Baik, menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai atau bahkan dengan hewan peliharaan bisa membuat kita lebih baik. Apalagi jika ditambah dengan bicara dan dikelilingi orang-orang yang mendukungmu. Dan bisa juga ditambahkan dengan menuangkan perasaan lewat medium hobi, seperti seni melukis, atau lainnya.


Sepatah Kata Untuk Klikers dan Teman Baik




Klikers dan Teman Baik, meskipun kita merasa pantas untuk sakit hati dan menyimpan dendam atas segala ketidakadilan yang terjadi dalam hidup kita, tapi mempertahankan perasaan itu biasanya nggak sehat untuk dirimu sendiri. Kehidupan yang sudah melelahkan ini akan semakin terasa melelahkan jika kita menambahnya dengan dendam yang nggak berkesudahan. Maka, untuk bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi, menjadi manusia yang lebih lapang jiwanya, memaafkan dan melepaskan semua emosi positif ini adalah cara yang paling melegakan. Mari kita belajar lebih banyak memaafkan. Memaafkan diri kita sendiri, memaafkan orang lain, dan memaafkan segala kepahitan hidup yang terjadi.


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya


Curhan KB, Sims T, Markus HR, et al. Just how bad negative affect is for your health depends on culture. Psychol Sci. 2014;25(12):2277-2280. doi:10.1177/0956797614543802


Ford BQ, Lam P, John OP, Mauss IB. The psychological health benefits of accepting negative emotions and thoughts: Laboratory, diary, and longitudinal evidence. J Pers Soc Psychol. 2018;115(6):1075-1092. doi:10.1037/pspp0000157


Garfinkel SN, Zorab E, Navaratnam N, et al. Anger in brain and body: the neural and physiological perturbation of decision-making by emotion. Soc Cogn Affect Neurosci. 2016;11(1):150-158. doi:10.1093/scan/nsv099


Harty SC, Gnagy EM, Pelham WE Jr, Molina BSG. Anger-irritability as a mediator of attention deficit hyperactivity disorder risk for adolescent alcohol use and the contribution of coping skills. J Child Psychol Psychiatry. 2017;58(5):555-563. doi:10.1111/jcpp.12668


https://doi.org/Einstein EH, Klepacz L. What Influences Mental Illness? Discrepancies Between Medical Education and Conception. J Med Educ Curric Dev. 2017;4:2382120517705123. doi:10.1177/2382120517705123


Leibenluft E, Stoddard J. The developmental psychopathology of irritability. Dev Psychopathol. 2013;25(4 Pt 2):1473-1487. doi:10.1017/S0954579413000722


National Center for Complementary and Integrative Health. Stress. Updated January 2020.

National Institute of Mental Health. 5 things you should know about stress.


Orzechowska A, Zajączkowska M, Talarowska M, Gałecki P. Depression and ways of coping with stress: a preliminary study. Med Sci Monit. 2013;19:1050-1056. doi:10.12659/MSM.889778


Sahu A, Gupta P, Chatterjee B. Depression is More Than Just Sadness: A Case of Excessive Anger and Its Management in Depression. Indian J Psychol Med. 2014;36(1):77-79. doi:10.4103/0253-7176.127259


Shallcross AJ, Troy AS, Boland M, Mauss IB. Let it be: Accepting negative emotional experiences predicts decreased negative affect and depressive symptoms. Behav Res Ther. 2010;48(9):921-929. doi:10.1016/j.brat.2010.05.025


Siedlecka E, Capper MM, Denson TF. Negative emotional events that people ruminate about feel closer in time. PLoS One. 2015;10(2):e0117105. doi:10.1371/journal.pone.0117105


Struthers CW, van Monsjou E, Ayoub M, Guilfoyle JR. Fit to Forgive: Effect of Mode of Exercise on Capacity to Override Grudges and Forgiveness. Front Psychol. 2017;8:538. doi:10.3389/fpsyg.2017.00538


Toussaint LL, Shields GS, Slavich GM. Forgiveness, Stress, and Health: a 5-Week Dynamic Parallel Process Study. Ann Behav Med. 2016;50(5):727-735. doi:10.1007/s12160-016-9796-6


Williams R. Anger as a Basic Emotion and Its Role in Personality Building and Pathological Growth: The Neuroscientific, Developmental and Clinical Perspectives. Front Psychol. 2017;8:1950. doi:10.3389/fpsyg.2017.01950


Yamaguchi A, Kim MS, Akutsu S, Oshio A. Effects of anger regulation and social anxiety on perceived stress. Health Psychol Open. 2015;2(2):2055102915601583. doi:10.1177/2055102915601583


12 views0 comments

Recent Posts

See All