• klik klas

Kenapa Diagnosa Bisa Beda Antar Psikolog?

"Aku datang ke beberapa psikolog, Tapi, kenapa diagnosanya beda-beda?"




Klikers dan TemanBaik, apa kabar?


Beberapa waktu yang lalu datang seorang teman yang curhat bahwa Ia baru saja pulang dari luar negeri dan ketika dia harus kembali ke Indonesia, Ia merasa nggak bersemangat, apa-apa yang dilakukan rasanya nggak semenarik dulu, dan badan rasanya melayang.


Akhirnya ia datang ke tiga psikolog yang berbeda. Setelah datang ketiga psikolog yang berbeda, ia mendapatkan tiga diagnosis yang berbeda-beda.


Karena bingung, kenapa begitu akhirnya ia mengkontak saya teman lamanya yang belajar ilmu psikologi.


***


Ngobrol Dulu Apa Itu Gangguan Mental




Klikers dan teman baik, apakah kamu pernah merasakan dan mendengar keluhan serupa?


Misal, ganti-ganti psikolog, maunya supaya jadi lebih baik eh malah bingung karena malah dapat diagnosa yang berbeda-beda.


Sebelum kita membicarakan tentang diagnose, mari kita bicara tentang apa itu gangguan mental.


Gangguan Mental

Gangguan mental adalah sebuah kondisi kesehatan dimana emosi, pikiran, dan perilaku kita (seringkali kombinasi semua itu) berubah dari positif ke negatif secara signifikan dan disertai dengan perasaan tertekan serta gangguan fungsional dalam dunia sosial, lingkungan keluarga dan pekerjaan.


Setelah baca definisi di atas apakah kamu merasa tercerahkan?


Nggak ya… karena kalau dibaca-baca ambigu banget. Apa coba perubahan emosi itu? Bukannya emosi kita emang gampang banget berubah-ubah. Apalagi perubahan pikiran dan perilaku yang signifikan masa disebut sebagai gangguan mental? Aneh. Ya kali kalau definisinya kayak gini, semua orang bisa aja jadi disebut punya gangguan mental.


Nah, exactly ini adalah poinnya.


Semua Orang (Berpotensi) Mengidap Gangguan Mental

Lho, apa-apaan ini? Aku sehat-sehat aja kok disebut punya gangguan mental. Enak aja!


Mengapa bisa demikian? Mengapa kita semua berpotensi untuk punya gangguan mental sesehat apapun kita, dan kita semua juga berpotensi untuk sehat mental sesakit apapun kita?


Karena, gangguan mental itu bersifat kontinum dan tumpeng tindih.


Gangguan Mental Bersifat Kontinum

Gangguan mental bersifat kontinum itu kalau diibaratkan seperti gelombang, bisa geser ke kiri dan ke kanan, bisa naik dan bisa turun. Artinya, kadang kita bisa dalam kondisi sehat mental, kita berada di garis sebelah kiri, lalu begitu ada tekanan hidup, kesehatan mental kita bergeser ke kanan ke arah gangguan mental. Saat kita mengatasinya, bisa saja kesehatan mental kita membaik dan kita berada di posisi menuju sehat mental.


Artinya, siapapun kita, sesehat apapun, akan selalu punya potensi mengalami gangguan mental, setidaknya dalam spektrum yang ringan seperti saat kita stress menghadapi tekanan hidup dan burnout karena pekerjaan. Kondisi seperti ini adalah hal yang sangat alamiah. Jadi nggak usah khawatir dengan pernyataan bahwa “Setiap dari kita punya gangguan mental,” Jadi main ke psikolog pun, nggak usah merasa buruk karena kita mendapatkan diagnose kita mengalami gangguan mental. Karena siapa sih yang nggak di dunia ini? Hehe…


Gangguan Mental Bersifat Tumpang Tindih

Pernah nggak kamu mengalami demam? Pernah ya pastinya. Tapi, apakah kamu tahu apa bedanya demam karena Flue, Covid, Typus, keracunan atau variasi demam lainnya? Bisa jadi sebagian besar dari kita tidak begitu dalam memahami perbedaan antara satu demam dengan demam lainnya.


Sama dengan gangguan mental, ada banyak gejala yang tumpang tindih. Para psikolog pun dengan keahliannya akan berusaha menegakkan diagnosa berdasarkan kecenderungan ceritamu saat itu. Karena gangguan mental bersifat tumpang tindih, bisa saja satu gejala ini (misalnya mengalami perburukan perasaan selama dua mingguan) merupakan gejala umum untuk beberapa gangguan psikologis. Oleh karena itu, kedewasaan dan pengalaman Psikolog lah yang akan menentukan akan kemana gejala ini dibawa. Untuk mencegah kesalahan, ada area yang disebut diagnosis banding, dibawah diagnosis utama.


Gangguan Mental Bersifat Dinamis

Untuk menjawab pertanyaan ini, “Kok bisa sih beda psikolog beda diagnosa?” kita harus memahami bahwa banyak sekali gangguan psikologis yang sifatnya dinamis, misalnya kamu mengeluhkan bahwa ada gangguan tidur dalam tiga hari terakhir.


Akhirnya kamu pergi ke psikolog pertama, setelah konsultasi kamu mendapatkan satu diagnosa misalnya burnout ringan. Namun, setelah itu kamu mengalami hari yang semakin buruk, ada kejadian yang di luar kendalimu dan semakin membuatmu terpuruk. Setelah berusaha menjalankan saran psikolog pertama, harimu tidak kunjung membaik, moodmu semakin parah, gangguan tidur kini disertai gangguan makan yang parah. Karena kamu tidak percaya dengan psikolog pertama, kamu akhirnya memutuskan pergi ke psikolog yang kedua. Setelah itu, psikolog yang kedua melakukan diagnose dan ternyata kamu didiagnosa gangguan kecemasan akut.


So, perubahan kita dalam kehidupan kita akan menentukan kondisi gangguan mental kita. Jadi, apa yang kita ceritakan di Psikolog yang pertama, bisa jadi adalah gejala awal yang jauh ringan daripada yang pertama. Atau, sebaliknya, pas dateng ke psikolog yang pertama gejalamu jauh lebih berat daripada setelahnya.


Gejala Bisa Jadi Berbeda, Tapi Dalam Induk yang Sama

Gejala psikologi akan sangat berbeda, tapi bisa jadi induk besarnya sama. Jadi, kalau diagnosanya berbeda, sebenarnya para psikolog bisa jadi masih dalam pijakan yang sama. Misalnya kamu pergi ke psikolog pertama dan didiagnosa gangguan paranoid, pergi ke psikolog selanjutnya dinyatakan gangguan emosi tidak stabil, dan ke psikolog ketiga mengalami histeria. Meskipun tampak berbeda-beda (yang bisa jadi penarikan kesimpulan berdasarkan gejalanya beda-beda) tapi pada dasarnya ketiga diganosa ini masih masuk ke dalam gangguan kepribadian khas. So, kalau ketiga diagnose ini dibandingkan sebenarnya masih dalam satu famili yang sama.


Hasil dan Alat Tes Psikologi Memiliki Masa Berlaku

Kamu tahukan antigen dan PCR? Sebuah tes yang dilakukan untuk memastikan bahwa kita tidak sedang terkena Covid-19. Pun alat tes psikologi juga punya masa berlaku. Misalnya, kita pergi ke psikolog pertama di pekan awal bulan November, lalu kita menjalani tes depresi menggunakan salah satu yang paling terkenal, yaitu Beck Depression Inventory (BDI). BDI ini mensyaratkan per-dua-minggu dilakukan tes ulang. Artinya diagnose depresi di pekan ke-3 akan sangat berbeda dengan pekan pertama. So, kalau mau ganti psikolog, aku menyarankan untuk menunggu minimal 1 bulan. Supaya kita tahu, apakah benar-benar tidak ada perubahan dan takutnya tugas pertama dari psikolog pertama belum sepenuhnya dijalankan, sudah mengambil treatment lain dari psikolog lain.


Kadang Kita Nggak Punya Satu Masalah Saja

Salah satu dilemma dalam penegakan diagnose adalah manusia itu unik dan kadang saat kita menemukan suatu gejala dan masalah psikologis, ternyata tidak hanya masuk ke satu diagnosa saja. Karena sifat gangguan psikologis yang sangat dinamis, tumpang tindih dan kontinum, kadang kita punya gangguan juga di area lain. Misalnya, kalau kita mengalami fobia kancing baju, bisa jadi kita juga mengalami gangguan kecemasan, panik, dan histeria. Artinya ada gejala lainnya.


Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan TemanBaik

Saat kamu pergi ke seorang psikolog untuk berkonsultasi akan masalahmu, amat sangat wajar jika kamu segera ingin merasakan hasilnya. Namun, semua pengobatan membutuhkan proses. Jalani PR Psikolog yang pertama dengan sepenuh hati, jika tidak bisa lanjutkan ke konsultasi berikutnya. Jika ingin berpindah psikolog, jangan lupa beri jeda minimal 3 minggu. Serta ceritakan kondisimu dan hasil diagnosamu di psikolog yang pertama. Karena akan banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi diagnosa masing-masing Psikolog. Selamat berproses, jangan kehilangan harapan.


Baca Juga Sumber Ilmiahnya di…


Artigue, J., Tizón, J., & Salamero, M. (2016). Reliability and validity of the List of Mental Health Items (LISMEN). Schizophrenia research, 176(2-3), 423-430.


Beck, A. T. (1962). Reliability of psychiatric diagnoses: 1. A critique of systematic studies. American Journal of Psychiatry, 119(3), 210-216.


Zimmerman, M., Coryell, W., Pfohl, B., & Stangl, D. (1988). The reliability of the family history method for psychiatric diagnoses. Archives of General Psychiatry, 45(4), 320-322.


Johnstone, L. (2017). Psychological formulation as an alternative to psychiatric diagnosis. Journal of Humanistic Psychology, 58(1), 30-46. doi:10.1177/0022167817722230 Stone, J. R. (2017).


Cultivating humility and diagnostic openness in clinical judgment. AMA Journal of Ethics, 19, 970-977. Timimi, S. (2014). No more psychiatric labels: Why formal psychiatric diagnostic systems should be abolished. International Journal of Clinical and Health Psychology, 14, 208-215. doi:10.1016/j.ijchp.2014.03.004






6 views0 comments

Recent Posts

See All