• klik klas

Kenali Gangguan Adaptasi Yang Jarang Terdeteksi



Pernahkah kamu mengalami sebuah fase dimana kamu merasa sangat kelelahan setelah mengalami transisi hidup yang signifikan?


Hari ini, mari kita coba menyelami hidup Trisha dan Ahmad. Trisha adalah seorang gadis berusia 16 tahun yang baru saja berpindah sekolah dari SMA di daerah ke SMA di kota besar. Ia terkejut dengan budaya daerah asal dengan kota sekarang tempat ia menetap yang begitu jauh berbeda. Trisha terbiasa berangkat dan pulang sekolah beberapa belas menit sebelum sekolah karena jalanan lancar dan jarang macet, tapi di kota besar, Ia harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih sore, ini membuatnya lebih kelelahan. Belum lagi tempat tongkrongan, jajan, pergaulan dan topik bahasan yang berbeda dari yang ia dan teman-temannya di daerah bicarakan. Ia juga harus menyesuaikan diri dengan ritme belajar di kelas yang berbeda dengan di sekolah lama.


Karena Ia merasa nggak bisa menyesuaikan diri dengan baik, Ia jadi murung, lebih sering menarik diri, memilih posisi duduk paling ujung, saat teman-temannya ke kantin, Ia lebih memilih menyendiri, dan saat pulang sekolah, ia selalu bersegera pulang. Hari berlalu, karena perilaku Trisha yang seakan sengaja menyendiri, teman-temannya jadi bingung bagaimana berkomunikasi dengan Trisha.


Segala sesuatu terasa berat, karena Trisha harus menyesuaikan diri dengan banyak hal baru. Ia merasa energinya habis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Semua proses adaptasi ini terasa menguras seluruh energinya.


Sementara itu, Ahmad adalah mahasiswa semester akhir sekaligus anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya baru saja meninggal di tengah wabah pandemi ini dengan tidak terduga-duga. Sebagai anak laki-laki pertama dengan tiga orang adik, ia otomatis menjadi tulang punggung keluarga setelah ibunya. Ahmad langsung berubah dari anak yang sebelumnya hanya belajar di perkuliahan, kali ini ikut mengambil tanggung jawab ekonomi untuk membiayai adik-adiknya. Belum lagi, ia juga mengambil peran untuk membantu ibu dan seluruh adik-adiknya menggantikan sosok ayah di keluarga. Hidupnya berubah 180 derajat. Ia sangat terkejut dengan peran barunya dan ia merasa sangat lelah menjalani kewajiban-kewajibannya.


Ahmad terus berjuang, tapi tubuhnya terasa lelah sekali. Ia jadi malas bangun dari tempat tidur, ia sering mengunci diri di kamar karena rasa sedih yang masih begitu menyesakkan dada. Ia juga merasa jadi sering tidak merasa lapar, dan moodnya selalu buruk.


 

Gangguan Adaptasi Saat Hidup Berubah Signifikan




Dear Klikers dan Teman Baik, adakah dari teman-teman yang mengalami hal serupa?


Saat perubahan hidup yang signifikan membuat teman-teman tanpa sadar merasa stress yang luar biasa. Bisa jadi, ada gangguan penyesuaian (adjustment disorder) yang teman-teman alami tanpa teman-teman sadari. Nggak hanya kisah Trisha dan Ahmad, bisa jadi ada beberapa dari kita yang sedang beradaptasi dengan hal-hal baru, seperti berpindah rumah, daerah, dan tempat tinggal.


Menurut DSM-5, manual diagnostik terbaru yang digunakan oleh dokter dan psikolog untuk mendiagnosis penyakit mental, kriteria untuk gangguan penyesuaian, bisa berupa hal-hal berikut.


Pertama, apabila kita tidak kunjung membaik setelah enam bulan proses perubahan hidup yang signifikan, bisa jadi itu adalah gejala pertama yang perlu kita beri garis bawah. Yaitu saat kita dalam kondisi mood yang buruk terus menerus, mengalami gangguan tidur, makan, dan emosi secara bersamaan.


Kedua, adanya gangguan keberfungsian hidup di luar normal. Artinya, aktivitas sehari-hari yang bisanya bisa kita lakukan, ternyata nggak kunjung bisa kita lakukan. Misalnya, biasanya kita sudah bisa mandi, makan, merawat diri, pergi ke sekolah, dan hal-hal lain yang biasa kita lakukan, ternyata belum bis akita lakukan seperti sedia kala. Ini dinamakan perubahan perilaku yang nggak adaptif. Dimana ada perubahan perilaku yang ekstrim. Misal kalau biasanya kita rapi, tiba-tiba kita sangat berantakan dan lain sebagainya.

Ketiga, adanya gangguan mood, seperti mood kita terus menerus buruk, tiba-tiba menangis, dan merasa nggak berdaya dengan semua hal yang terjadi. Serta, ada kecemasan yang nggak terjelaskan. Misal kita kadang merasa bingung, khawatir, was-was dan takut.

Klikers dan #TemanBaik, gejala dapat bervariasi sesuai dengan usia orang yang mengalami kondisi tersebut. Kalau anak-anak dan remaja biasanya menunjukkan gejala perilaku, seperti masalah sekolah. Kalau udah jadi dewasa, biasanya akan lebih banyak gejala emosional.


Lalu, Harus Bagaimana?


Kalau Klikers dan Teman Baik tahu bahwa kondisi yang kita alami bukanlah kondisi yang ideal, serta ngerasa harus berubah, temen-temen bisa melakukan beberapa hal berikut.


Yuk, Refreshing


Mengambil jeda sejenak dari segala rangkaian kehidupan yang begitu cepat berganti bisa jadi adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini. Kamu bisa merancang short escape dan melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk mengurangi tingkat stres yang sedang dialami. Identifikasi juga kegiatan yang baik untuk kesehatan fisik dan mental kita dan jadwalkan waktu untuk melakukannya juga.


Merawat Diri



Nggak bosen Tim KlikKlas dan TemanBaik mengingatkan, supaya kamu tidur yang cukup, makan makanan yang sehat, dan banyak melakukan aktivitas fisik. Karena kesehatan mental itu gabungan dari merawat fisik dan mental juga.


Latihan Manajemen Stress yang Sehat


Lagi-lagi, menarik diri, sembunyi di kamar, dan menolak bertemu dengan orang lain mungkin adalah cara yang paling terasa nyaman, tapi bukan berarti adalah cara yang sehat untuk melakukan manajemen stress.


Klikers dan #TemanBaik, yuk melatih diri untuk melakukan manajemen stress yang lebih sehat. Misalnya, dengan olahraga, bercerita ke orang lain, relaksasi, menekuni hobi, dan beribadah.


Please, banget berhenti melakukan manajemen stress yang nggak sehat, misal jadi binge eating seperti makan terlalu banyak, minum alkohol, ngerokok, dan berbagai manajemen emosi yang malah bisa menimbulkan masalah baru dalam jangka panjang.


Yuk, Nyari Geng yang Suportif


Habiskan waktu bersama teman dan keluarga yang baik untuk kita. Hubungi kembali, reach out, teman-teman baik kita. Jika masih dalam nuansa pandemi, kamu bisa mengagendakan pertemuan virtual.


Pergi Ke Profesional


Nah, kalau kita sudah mencoba mengatasi sendiri dengan berbagai cara tapi belum kunjung membaik juga, apa yang harus kita lakukan?


Kalau Klikers dan Teman Baik merasa ada gejala-gejala di atas setelah perubahan kondisi hidup yang ekstrim, daripada mendiagnosa diri sendiri, pergilah ke ahli untuk membantu mendiagnosa yang terjadi.


Tidak ada tes khusus yang digunakan untuk mendiagnosis gangguan penyesuaian. Sebagai gantinya, kalau kita datang ke professional kesehatan mental, mereka akan melakukan wawancara untuk menilai gejala yang kita alami.


Pertama, biasanya kita akan diminta melakukan tes kesehatan untuk membereskan asumsi bahwa apa yang terjadi dengan kita adalah masalah kesehatan fisik, bukan masalah mental. Setelah jelas tidak ada gejala fisik dan medis yang mendasari apa yang terjadi dengan kita, mereka akan merekomendasikan kita ke terapis kesehatan mental.


Langkah selanjutnya, kamu akan diminta mengisi kuesioner untuk mengecek tingkat stress yang kita miliki. Setelah itu, dilanjutkan dengan wawancara tentang gejala dan pengalaman hidup kita alami. Para ahli akan menggunakan DSM-5 untuk menentukan apakah kita memenuhi kriteria untuk gangguan penyesuaian berdasarkan informasi yang kita berikan.


Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan Teman Baik


Klikers dan Teman Baik, setiap orang akan pernah merasakan kesulitan beradaptasi. Siapa sih yang nggak? Karena itu, mengakui dan mencari pertolongan bahwa kita punya masalah dalam hal adaptasi bukanlah kelemahan dan keburukan. Jika kamu sedang berjuang dengan masalah adaptasi dari perubahan hidup yang signifikan, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri dengan mengatakan “Kamu harusnya bisa lebih baik dari ini,”. Bersikap baiklah pada dirimu sendiri, cari cara untuk melakukan manajemen stres, rawat dirimu, dan raihlah orang-orang yang mendukungmu.


Segenap Klik.Klas dan Teman Baik, mendoakanmu, atau siapapun yang sedang berjuang di luar sana, agar mampu melalui fase-fase perubahan hidup yang signifikan ini dengan baik. Semoga fase ini membuatmu #selalubertumbuh.


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: DSM-5. Arlington, VA: American Psychiatric Association; 2017.


Maercker A, Forstmeier S, Pielmaier L, Spangenberg L, Brähler E, Glaesmer H. Adjustment disorders: prevalence in a representative nationwide survey in Germany. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology. 2012;47(11):1745-1752. doi:10.1007/s00127-012-0493-x






3 views0 comments

Recent Posts

See All