• klik klas

Katanya Writing for Healing, Kok Malah Men-Trigger Trauma?

Halo, Klikers dan Teman Baik!


Apakah kamu pernah dengar soal writing for healing alias menulis untuk menyembuhkan luka dalam diri?


Banyak yang sudah menyarankan kegiatan menulis sebagai self-healing. Namun, ternyata banyak juga yang memiliki pengalaman kurang menyenangkan saat melakukan kegiatan writing for healing ini. Salah satunya, kembali munculnya ingatan tentang pengalaman traumatis dan emosi yang justru meluap-luap.


Apakah itu sebuah masalah besar bagi diri?



Tentu akan menjadi masalah jika dirimu kesulitan untuk mengontrol lonjakan emosi itu. Namun, jika kamu bisa menyadari lonjakan emosi dan berusaha mengontrolnya, hal itu tidak akan menjadi masalah besar.


Pada dasarnya, praktik menulis untuk menyembuhkan dilakukan dengan maksud agar diri mendapatkan ruang untuk menumpahkan segala uneg-uneg hati tanpa harus takut mendapat penilaian atau penghakiman dari lingkungan. Dalam proses menulis untuk menyembuhkan luka hati ini, kamu akan diminta untuk menuliskan seluruh pikiran dan perasaan yang hadir dalam diri tanpa menyaringkan.


Tersebab tulisan itu hanya kamu sendiri yang menulis dan baca, jadi kamu tidak usah khawatir ada orang lain yang melihat dan menghakimi perasaan serta pikiranmu. Hanya saja, dalam proses menulisnya, sering kali memang diri jadi teringat pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan yang terikat dengan emosi yang kamu rasakan.



Analoginya seperti bendungan air yang sudah lama tertutup dan menahan seluruh aliran yang seharusnya dikeluarkan. Maka, ketika bendungan itu terbuka, tentu air yang tertahan akan keluar dengan deras dulu, hingga satu waktu aliran akan kembali tenang.


Sama halnya ketika kamu melakukan aktivitas menulis untuk mengeluarkan seluruh rasa sakit yang ada dalam hatimu. Aliran emosi yang tidak menyenangkan yang terpendam sekian lama, akan mengalir deras hingga mungkin membangkitkan trauma atau rasa tidak nyaman dalam diri. But, it’s okay. Hal itu wajar terjadi dan sadarilah ketika hal itu terjadi.


Kemudian, kembali fokuskan atensi untuk menenangkan gejolak emosi dengan menyadari napas dan lakukan mindful breathing—bernapas secara sadar penuh. Namun, jika kamu merasa tidak mampu mengendalikan lonjakan emosi dan ingatan tidak menyenangkan yang hadir, jangan sungkan untuk meminta pengawasan dan bantuan dari profesional.



Terkadang dalam praktiknya, menulis segala pengalaman tidak menyenangkan memang butuh pendampingan agar kamu bisa tetap terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi kalau kamu merasa mampu mengatasi gejolak itu, kamu bisa lakukan writing for healing ini sendiri. Jangan ragu jika kamu ingin menangis dan mengekspresikan emosimu, asalkan tidak sampai menyakiti diri atau orang lain.


Semoga kamu bisa #SalingBertumbuh dengan dirimu, ya!

Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza


6 views0 comments

Recent Posts

See All