• klik klas

Jangan Terlalu Menggantungkan Kebahagiaan Ke Orang Lain



“Aku akan sukses, jika aku masuk ke perguruan tinggi negeri,”

“Aku akan bahagia, kalau dia lebih menghargai aku,”

“Aku akan bahagia, kalau pekerjaanku berubah,”

Pernahkah kamu berpikir seperti itu?

Jika ya, hati-hati lho, keseringan berpikir seperti ini bisa bikin kamu jadi mudah depresi? Kok bisa? Bisa. Mari kenalan dengan fallacy of change. Apa itu?


Fallacy of Change

Em… Fallacy of Change kalau dibahasa-Indonesiakan jadi agak aneh sih yaitu tipuan perubahan. Karena ga enak kalau ditranslasi, kita sebut saja dalam istilah bahasa Inggrisnya ya.


Pada intinya kalau kita terkena cara berpikir ini, kita akan akan bahagia, sukses, jika orang/lingkungan kita berubah. Kita berpikir bahwa kita akan dihargai, dicintai, didukung, mampu, termotivasi, hanya jika mereka yang berubah.


Misalnya dalam dunia kampus, kamu ingin bisa lulus matakuliah yang sulit, namun di dalam pikiranmu, kamu bisa-bisa saja lulus mata kuliah tersebut asal si dosen mengubah syarat dan merendahkan batas minimal capaian mahasiswa.


Dalam dunia percintaan, kamu merasa baru bisa dihargai, disayangi, dan dimanja kalau kamu partner kamu jadi lebih perhatian, lebih sayang, dan lebih manjain. Jadi, kamu merasa titik kunci kebahagiaanmu adalah ketika partner kamu berubah jadi seperti yang kamu inginkan.


Dalam keseharian kita, misal kita merasa tidak nyaman dengan orang tua yang kita miliki, jadi kita terus berpikir, seandainya orang tuaku lebih kaya, lebih perhatian, mungkin aku akan lebih bahagia.


Cara pikir bahwa kita baru bisa melakukan sesuatu jika lingkungan kita jadi lebih suportif, kita bisa mengejar cita-cita kalau saja nggak hidup di desa, dan syarat-syarat lainnya.


Emang Salah Ya Meminta Orang Lain Berubah?



Dear Klikers dan #TemanBaik, Fallacy of Change ini beda banget dengan diskusi aktif di antara dua orang dewasa dan meminta masing-masing menjadi lebih baik. Titik tekan dari pikiran toksik tipe ini adalah kita selalu merasa sumber kebahagiaan adalah perubahan di luar diri kita. Kita selalu merasa bahwa satu-satunya yang harus berubah adalah orang lain, lingkungan di luar kita, dan berbagai macam perubahan yang tidak melibatkan diri kita.

Memang nggak naif bahwa komponen pembentuk kebahagiaan itu nggak cuma dari dalam diri, tapi juga berasal dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. Namun, masak sih, kebahagiaan hanya akan datang jika hal-hal di luar diri kita berubah sesuai dengan apa yang kita mau, sementara kita sendiri nggak perlu berubah juga?


Buat kita-kita yang terus menerus merawat tipe pikiran ini, kita akan terus menerus mencurahkan energi kita untuk orang lain. Bagaimana nggak? Kita berharap orang lain berubah, maka kita terus mencari cara agar orang lain sesuai dengan kehendak kita. Lalu, jika tidak tercapai seringkali kita merasa kita tidak bisa lagi menjadi orang yang bahagia.

Bahaya lain dari terlalu menggantungkan kebahagiaan ke orang lain adalah kita jadi selalu berperan pasif, menjadi orang yang menunggu orang lain membahagiakan kita, dan terus merasa di titik lemah dan objek dari orang lain.


Agaknya sifat ini juga sedikit bercampur dengan sifat narsistik dimana kita terus merasa pusat dunia adalah kita, jadi semua orang harus melayani kita untuk kebahagiaan kita. Jika tidak sesuai harapan, kita jadi bisa menyalahkan orang lain dan merasa korban dari orang lain.


Sekali lagi, mengomunikasikan preferensi kita itu nggak masalah, berharap orang lain jadi lebih baik juga nggak masalah, tetapi mulai jadi masalah ketika kita menggantungkan kebahagiaan kita pada apa yang orang lain lakukan atau tidak lakukan untuk kita.


Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Pahamilah bahwa ada banyak hal yang tidak perlu menunggu orang lain berubah, salah satunya adalah menjadi bahagia, menjadi sukses, menjadi lebih baik dan berbagai hal lainnya.


Kata kuncinya adalah jangan terus menerus menunggu secara pasif untuk menjadi bahagia.


Jangan menyerahkan kunci kesuksesanmu, kebahagiaanmu, dengan syarat orang dan lingkungan lain yang berubah.


Sikap dan lingkungan orang lain itu penting itu benar. Namun, bukan satu-satunya.


Jika pasanganmu berubah atau tidak, putuskanlah untuk mencari cara bahagia yang tidak bergantung padanya.


Jika lingkunganmu berubah atau tidak, carilah cara untuk terus maju.


Jika orang di sekitarmu berbuat baik atau tidak, jangan menjadikan mereka jangkar untuk terus berbuat baik.


Jika lingkunganmu mendukungmu untuk bertumbuh atau tidak, kamu nggak perlu menunggu mereka jika ingin menjadi pribadi yang bertumbuh.


Kamu dan dirimu adalah yang memegang kunci.


Selamat bertumbuh dari dalam 😊.

Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya


Levenson, E. (2013). The Fallacy of understanding & the ambiguity of change. Routledge.

Killion, J. (2018, October 9). What are Cognitive Distortions? MindPath Care Centers. https://www.mindpathcare.com/blog/what-are-cognitive-distortions/


Ledden, P. (2018, August 30). Fallacy of Change: 15 types of distorted thinking that lead to massive anxiety 10/15. Abate Counselling. https://abatecounselling.ie/2018/08/30/fallacy-of-change-15-types-of-distorted-thinking-that-lead-to-massive-anxiety-10-15/










2 views0 comments

Recent Posts

See All