• klik klas

Introvert vs Ekstrovert, Aku yang Mana?

Perbincangan seputar introvert, ekstrovert, bahkan ambivert rasanya tidak pernah pudar dari lingkaran-lingkaran manusia di sekitarmu. Mungkin kamu pun terkadang bingung juga dirimu termasuk kelompok yang mana. Ditambah lagi, ada informasi yang kurang tepat tentang definisi dari introvert dan ekstrovert.


Sebenarnya, titik utama perbedaannya apa sih?



Klikers dan Teman Baik, bisa dibilang bahwa introvert dan ekstrovert adalah sebuah kategori yang diberi berdasarkan cara seseorang menyalurkan dan mengisi kembali energi pikiran dan jiwanya. Introvert dan ekstrovert ini tidak berhubungan dengan seberapa ansos (anti sosial) seseorang atau seberapa jago seseorang berbicara karena keduanya bukanlah termasuk dalam kemampuan sosial yang bisa dilatih.


Introvert adalah individu yang cenderung menyalurkan energinya pada hal-hal filosofis dan percakapan yang mendalam dengan beberapa orang saja—karena ia tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang. Ia bisa banyak berbicara kalau topik obrolannya adalah hal yang disukai dan biasanya komentar yang diberikan adalah buah dari pemikiran mendalamnya.


Berbeda dengan ekstrovert yang cenderung menyalurkan energinya pada hal apa pun yang ada di hadapannya. Ia tidak terlalu peduli tentang topik yang dibahas asalkan ia bisa berada dalam keramaian. Hal ini dikarenakan orang ekstrovert biasanya suka menjadi pusat perhatian dan bisa meladeni banyak orang sekaligus.



Selain itu, jika kelelahan—baik mental maupun fisiknya—orang introvert cenderung membutuhkan waktu sendiri tanpa gangguan banyak orang. Sebenarnya, orang introvert pun bisa menghadapi banyak orang sekaligus jika skill sosialnya dilatih. Hanya saja, berada di tengah banyak orang bisa membuatnya kehabisan energi dengan cepat sehingga setelahnya ia butuh waktu sendiri untuk mengisi kembali energi.


Sedangkan orang ekstrovert justru lebih berenergi jika ia berada di tengah banyak orang dan menjadi pusat perhatian. Ia cenderung mudah bosan dan tidak nyaman jika harus sendirian karena penyaluran energinya pun ke banyak orang. Hanya saja, jika orang ekstrovert tidak belajar skill sosial dan komunikasi yang baik, ia pun akan kesulitan untuk bisa mendapatkan lingkaran pertemanan yang baik.


Wah, tapi aku merasakan kedua-duanya. Kadang introvert, kadang ekstrovert. Apakah aku ambivert?



Nah, istilah ambivert ini sering digunakan oleh mereka yang merasa tidak dominan introvert ataupun ekstrovert. Sebenarnya, setiap manusia memiliki dua sisi itu bersamaan. Tidak ada manusia yang hanya introvert saja, atau ekstrovert saja. Ini hanyalah kecenderungan yang lebih sering muncul pada situasi yang sama.


Mungkin kamu bisa menilik kembali dirimu ke mana kecenderunganmu yang lebih kuat. Pun jika kamu merasa kamu ambivert, ya, tidak masalah.


Sejatinya, daripada melabel diri dengan introvert, ekstrovert, atau ambivert, lebih baik kamu fokus pada dirimu sendiri. Selama kamu bisa menemukan cara yang nyaman dalam menyalurkan dan mengisi kembali energimu untuk #SelaluBertumbuh, semua akan baik-baik saja. Label-label itu hanyalah pengelompokan untuk memudahkan dalam memberi saran pada perbedaan individu yang ada.



So, apa pun kepribadianmu, temukanlah cara ternyaman untuk menyalurkan dan mengisi kembali energi diri. Kamu yang paling tahu kebutuhan dirimu. Jangan lupa menanyakan pada dirimu dan jawab dengan jujur kebutuhanmu. Jangan sampai kamu malah kehilangan jati diri karena ingin menyama-nyamakan kondisi dengan label-label yang melekat padamu—padahal belum tentu 100% benar, ya.


Siapa pun bisa bersosialisasi, siapa pun bisa berbicara di depan umum, asal mau melatih diri mengembangkan kemampuan sosial itu, terlepas dari kepribadian introvert, ekstrovert, atau ambivert yang dimiliki!

Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza

0 views0 comments

Recent Posts

See All