• klik klas

Intimacy Issue: Aku Sulit untuk Punya Teman Dekat

Apakah kamu mengalami kesulitan untuk mempercayai dan dekat dengan orang lain?


Apakah kamu mengalami kesulitan untuk mempercayai dan dekat dengan orang lain?Jika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesaikan.Jika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesaikanJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesaikaJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesaikJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesaiJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesaJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diseleJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diselJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diseJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus disJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus diJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus dJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harus Jika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harusJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang haruJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang harJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang haJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang hJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yang Jika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yangJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yanJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yaJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi yJika ya, jangan-jangan ada isu intimasi Jika ya, jangan-jangan ada isu intimasiJika ya, jangan-jangan ada isu intimasJika ya, jangan-jangan ada isu intimaJika ya, jangan-jangan ada isu intimJika ya, jangan-jangan ada isu intiJika ya, jangan-jangan ada isu intJika ya, jangan-jangan ada isu inJika ya, jangan-jangan ada isu iJika ya, jangan-jangan ada isu Jika ya, jangan-jangan ada isuJika ya, jangan-jangan ada isJika ya, jangan-jangan ada iJika ya, jangan-jangan ada Jika ya, jangan-jangan adaJika ya, jangan-jangan adJika ya, jangan-jangan aJika ya, jangan-jangan Jika ya, jangan-janganJika ya, jangan-jangaJika ya, jangan-jangJika ya, jangan-janJika ya, jangan-jaJika ya, jangan-jJika ya, jangan-Jika ya, janganJika ya, jangaJika ya, jangJika ya,gan-jangan ada isu intimasi yang harus diselesaijan?Jika ya, ja?Jika ya, j?Jika ya, ?Jika ya,?Jika ya?Jika y?Jika ?Jik?Ji?Jorang mahasiswi di sebuah universitas di Bandung yang juga punya kesulitan untuk percaya pada orang lain.


Geba sekilas terlihat sebagai cewek yang sangat mandiri. Ia sangat jarang meminta tolong ke orang lain. Selama ia bisa melakukan sesuatu sendirian, ia lebih memilih melakukannya sendiri. Namun, Geba sebenarnya mengalami krisis kepercayaan terhadap orang lain. Ia sulit mengungkapkan apa yang ia butuhkan dan inginkan ke orang lain. Ia juga mengalami kecemasan saat mendelegasikan pekerjaan kepada teman-teman satu kelompoknya. Bukan karena ia tidak bisa berkomunikasi, tapi ia merasa sulit untuk percaya kepada orang lain. Dulu, ia pernah sangat percaya kepada mantan sahabatnya. Ia menceritakan semua rahasianya, termasuk saat keluarganya sedang mengalami masalah finansial. Entah bagaimana kabar itu menyebar ke teman-temannya pada keesokan hari. Belum lagi, pacarnya saat itu ketahuan selingkuh.


Sejak saat itu, ia takut untuk bercerita masalah pribadinya kepada orang lain. Ia takut untuk terlalu bersandar kepada orang lain. Ia merasa lelah melalui siklus dikhianati. Akhirnya ia menjadi malas berhubungan terlalu dekat dengan orang lain. Setiap Geba mulai punya sahabat, ia tetap tidak percaya seratus persen pada sahabatnya. Ada sebuah tembok besar yang menahan Geba untuk berbagi masalahnya. Ia ingin bisa bercerita dengan bebas, tapi ia trauma dengan kejadian di masa lalu. Sahabatnya sering marah padanya karena ia tidak terbuka jika ada masalah. Namun, setiap ia ingin bercerita, ia cemas dan takut luar biasa. Semua bayang-bayang dikhianati di masa lalu selalu terbayang. Akhirnya, lagi-lagi, ia mendorong orang lain untuk nggak terlalu dekat secara emosional dengan Geba.


 

Intimacy Issue

Adakah dari kalian yang mengalami hal serupa dengan Geba?



Geba adalah sedikit orang-orang yang memiliki isu dalam kedekatan dan kepercayaan terhadap orang lain (intimacy issue). Geba takut untuk menjalin hubungan yang sangat dekat dengan orang lain. Orang yang mengalami ketakutan ini biasanya bukan nggak mau memiliki teman dan hubungan yang dekat secara emosi, bahkan mungkin aja mereka merindukan kedekatan emosional yang dalam, tetapi tanpa sadar mereka sering kali mendorong orang lain menjauh. Seperti pada kasus Geba, ia sebenarnya ingin bercerita dengan bebas, tapi tetap saja, ia merasakan kekhawatiran yang membuat lidahnya kelu untuk bercerita.


Apa Penyebab Intimacy Issue?



Seperti kisah Geba, ketakutan untuk memiliki hubungan yang dekat dan dalam dengan orang lain sebenarnya berasal dari beberapa penyebab, termasuk pengalaman masa lalu tertentu seperti riwayat pengasuhan yang membuatnya jadi sulit percaya pada orang lain.


Bisa juga karena takut kehilangan. Ketakutan akan kehilangan ini berasal dari pola asuh yang dulunya terlalu lekat. Sehingga, anak menjadi ketergantungan dengan pengasuh. Nah, apa tuh maksudnya? Gini… saat kita kecil, jika kita punya gaya yang selalu bergantung sama pengasuh (orang tua atau lainnya), kita jadi ketergantungan sampai titik yang nggak sehat. Takut saat nggak ada mereka. Merasa sangat kesepian. Di sisi lain, kalau pengasuh terlalu mengabaikan, hingga kita nggak punya figure pengasuh yang hangat, bisa juga bikin kita semakin ga rasa percaya untuk berbagi perasaan ke mereka. Sejak kecil terbiasa tidak memiliki kehangatan dengan pengasuh, sehingga jadi tidak terbiasa berbagi perasaan dengan orang yang seharusnya paling dekat dalam hidupnya.


Kehilangan sosok yang paling dekat dengan diri kita juga bisa jadi alasan kenapa kita jadi sulit untuk mengembangkan kepercayaan terhadap orang lain. Misalnya, orang yang kehilangan orang tua karena kematian, perceraian, atau pemenjaraan mungkin akan merasa ditinggalkan dan mungkin lebih sulit membentuk ikatan romantis sebagai orang dewasa. Penelitian telah menemukan bahwa rasa takut ditinggalkan dikaitkan dengan masalah kesehatan mental dan kecemasan kemudian dalam hubungan romantis.


Ada juga yang memiliki intimacy issue karena takut terlalu dikontrol, dikendalikan, didominasi dan jadi kehilangan diri sendiri dalam suatu hubungan. Mereka memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan di masa lalu, karena orang lain dalam hubungan sosialnya terlalu dominan, sementara mereka memiliki karakter yang lebih tidak dominan.


Ada juga nih, mereka yang sulit memiliki hubungan yang dekat karena takut akan penilaian, evaluasi, atau penolakan orang lain. Faktanya, rasa takut akan keintiman bisa lebih sulit dideteksi karena teknologi saat ini memungkinkan orang bersembunyi di balik ponsel dan media sosial mereka. Sebagian kecil lainnya karena pernah mengalami pelecehan fisik atau seksual: Pelecehan di masa kanak-kanak dapat membuat kita sulit untuk membentuk keintiman emosional di masa dewasa.


Lalu Bagaimana Cara Mengatasinya?



Klikers dan #TemanBaik untuk #selalubertumbuh ke arah yang lebih baik, kita harus mau menghadapi dan menantang pikiran-pikiran negatif kita tentang diri sendiri.


Apakah ini mudah? Oh, tentu tidak mudah namun bukan tidak mungkin. Semua proses bertumbuh memakan waktu, ini harus dipahami. Harus ada kemauan untuk menyediakan waktu, bersedia menerima proses yang panjang, menjalani tugas-tugas selama proses dan terus mencari cara untuk berdamai dengan masa lalu. Ada beberapa tugas nih yang harus kita bereskan kalau kita ingin #selalubertumbuh, beberapa di antaranya adalah...


Berdamai Dengan Potensi Dikhianati

Mereka yang takut akan keintiman pada akhirnya takut akan konsekuensi dari hubungan yang nggak selalu indah. Klikers dan teman baik, penting banget lho untuk menerima kenyataan bahwa tidak ada jaminan dalam hidup atau dalam hubungan manusia bahwa setiap hubungan dengan orang lain akan selalu berakhir dengan indah. Meskipun demikian, bukan berarti semua hubungan akan berakhir dengan tidak baik. Selalu ada kesempatan hubungan berjalan dengan tidak baik, dan sebaliknya, selalu ada potensi sebuah hubungan akan berakhir dengan baik.


Berani menghadapi ketidakpastian dalam sebuah hubungan bisa membuat perbedaan yang gede banget dalam intimacy issue ini. Cobalah untuk fokus pada hubungan baikmu saat ini, abaikan kecemasan-kecemasan di masa depan.


Teman Baik Bagi Diri Sendiri

Agar berhasil melawan rasa takut akan punya hubungan yang dalam dengan orang lain, pertama-tama kamu harus merasa nyaman dengan diri sendiri. Jika kamu sudah nyaman dengan dirimu, maka kamu tahu bahwa pengkhianatan itu menghancurkan hubungan, tapi nggak selalu menghancurkan dirimu. Pisahkan antara hubungan dan dirimu. Maksudnya, saat hubungan pertemanan, romantic dan lainnya rusak, bukan berarti dirimu juga ikut hancur. Memahami hubungan tidak selalu indah dan sudah nyaman dengan diri sendiri akan membuatmu lebih berani menjalani hubungan sosial dengan segala suka dukanya.

Isolasi Masa Lalu, Maafkan, Lepaskan, dan Move On

Masa lalu memang akan mempengaruhi hari ini. Namun, bukan berarti, kita selalu dikendalikan masa lalu. Keputusan kita untuk dikendalikan atau berdamai dan mengendalikan masa lalu. Di masa lalu, maafkan mereka yang menyakitimu, maafkan mereka yang mengabaikanmu, maafkan semua itu, isolasi, dan beranjaklah ke masa depan.

Akan selalu ada orang yang tidak mengkhianatimu. Mungkin kamu belum bertemu saja. Akan selalu ada orang baik di dunia ini. Mungkin kemarin kita sedang apes saja. Masih banyak kemungkinan hubungan yang berhasil. Kita sedang tidak beruntung saja. Di masa depan, percayalah, masih banyak kemungkinan-kemungkinan hubungan sosial kita berjalan dengan lebih baik.


Beri Dirimu Waktu

#Klikers dan #TemanBaik, semuanya butuh proses. Untuk mengatasi rasa takut akan hubungan yang intim tidak bisa terjadi dalam waktu semalam. Ini bukan kisah negeri dongen. Bahkan ketika kamu merasa sudah merasa mampu membangun hubungan emosional yang dalam, terkadang akan ada rasa cemas dan khawatir yang menggelayuti pikiranmu. Saat itu terjadi, bukan berarti kamu gagal sama sekali. Naik turun itu wajar, dan bukan berarti kamu sedang nggak berhasil. Hidup ini sewajarnya naik turun, termasuk proses dalam menyembuhkan intimacy issue yang mendera kita.


Sepatah Kata Untuk Klikers dan Teman Baik

Jika kita punya hubungan sosial yang traumatis, kita pasti merasa berat untuk percaya bahwa besok hubungan kita akan baik-baik saja. Semua hal yang traumatis akan sangat membekas secara mendalam di diri kita. Namun, percayalah, dengan memaafkan masa lalu, membangun kepercayaan pada diri sendiri, mau berproses untuk jadi lebih baik, kita akan mampu melewatinya. Jika kamu merasa perlu berkonsultasi dengan para tenaga kesehatan mental professional, kamu bisa langsung menuju layanan konsultasi bersama Psikolog dengan mendaftar di kanan atas ya. Mari #selalubertumbuh setiap hari.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instag juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Feiring C, Simon VA, Cleland CM. Childhood sexual abuse, stigmatization, internalizing symptoms, and the development of sexual difficulties and dating aggression. Journal of Consulting and Clinical Psychology. 2009;77(1):127-137. doi:10.1037/a0013475


Kivisto KL, Welsh DP, Darling N, Culpepper CL. Family enmeshment, adolescent emotional dysregulation, and the moderating role of gender. J Fam Psychol. 2015;29(4):604-613. doi:10.1037/fam0000118


Montesi JL, Conner BT, Gordon EA, Fauber RL, Kim KH, Heimberg RG. On the relationship among social anxiety, intimacy, sexual communication, and sexual satisfaction in young couples. Arch Sex Behav. 2013;42(1):81-91. doi:10.1007/s10508-012-9929-3


Peel R, Caltabiano N, Buckby B, McBain K. Defining romantic self-sabotage: A thematic analysis of interviews with practising psychologists. Journal of Relationships Research. 2019;10:E16. doi:10.1017/jrr.2019.7


Reedtz C, Lauritzen C, Stover YV, Freili JL, Rognmo K. Identification of children of parents with mental illness: A necessity to provide relevant support. Front Psychiatry. 2019;9:728. doi:10.3389/fpsyt.2018.00728


Saunders H, Kraus A, Barone L, Biringen Z. Emotional availability: Theory, research, and intervention. Front Psychol. 2015;6:1069. doi:10.3389/fpsyg.2015.01069


Schoenfelder EN, Sandler IN, Wolchik S, Mackinnon D. Quality of social relationships and the development of depression in parentally-bereaved youth. J Youth Adolesc. 2011;40(1):85-96. doi:10.1007/s10964-009-9503-z


Schoenfelder EN, Sandler IN, Wolchik S, MacKinnon D. Quality of social relationships and the development of depression in parentally-bereaved youth. J Youth Adolesc. 2011;40(1):85-96. doi:10.1007/s10964-009-9503-z


Stanton SCE, Campbell L, Pink JC. Benefits of positive relationship experiences for avoidantly attached individuals. J Pers Soc Psychol. 2017;113(4):568-588. doi:10.1037/pspi0000098


Vujeva HM, Furman W. Depressive symptoms and romantic relationship qualities from adolescence through emerging adulthood: A longitudinal examination of influences. J Clin Child Adolesc Psychol. 2011;40(1):123–135. doi:10.1080/15374416.2011.533414


3 views0 comments

Recent Posts

See All