• klik klas

Inferiority Complex: Gejala Minder Akut

“Aku mah ga ada kelebihannya, aku butiran debu yang ditiup hilang dan ga ada yang inget"


Klikers dan Teman Baik, pernah merasa serupa? Ini kisah Jani. Jani adalah seorang mahasiswi semester dua di sebuah universitas di Bogor.


Jani adalah anak yang rajin, ia selalu mengerjakan tugas kuliahnya dengan tepat waktu. Ia juga ga pernah bolos kuliah dengan alasan-alasan yang sepele. Ia juga aktif mengikuti banyak organisasi dan terlibat dalam banyak kegiatan di kampus. Orang-orang juga mengenal Jani anak yang ramah, senang bercanda dan disenangi banyak orang.


Tapi, Jani tidak pernah merasa dirinya berharga. Setiap Jani dipuji oleh teman-temannya, ia selalu merasa pujian itu hanyalah pemanis mulut saja. Hanya semacam basa basi. Tidak benar-benar mencerminkan kemampuannya yang sebenarnya.


Namun, begitu ada yang mengkritiknya, Jani akan langsung kepikiran terus menerus. Ia terus merasa nggak cukup baik dan harus mendengarkan kritik dari semua orang. Ia merasa kalau ia punya kelemahan, orang lain nggak akan bisa menerimanya. Ia bisa – bisa ditolak dari pergaulan dengan kelemahan-kelemahannya.


Saat ia dikritik, ia akan merasa dirinya sangat buruk. Ia jadi lebih senang menyendiri, malu bergaul dengan teman-temannya lagi karena takut dirinya tidak cukup baik untuk teman-temannya. Selain itu, ia jadi takut ikut acara-acara yang kompetitif karena takut dibandingkan dengan orang lain.


Terkadang Jani juga harus dikuatkan teman-temannya untuk mencoba suatu hal baru. Pikiran seperti, “Memang aku bisa ya?” terus menghantui Jani. Padahal, teman-temannya yakin bahwa Jani punya kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Jani terus menerus harus diyakinkan bahwa ia bisa melakukannya. Entah mengapa ia sulit untuk percaya pada dirinya sendiri.


Adakah yang mengalami hal yang sama dengan Jani? Saat kamu merasa terus menerus membutuhkan validasi dari orang lain bahwa kamu bisa melakukan hal itu, kamu sensitif terhadap kritik dan menolak dipuji sama sekali?


Jika iya, kenali lebih dekat tentang inferiority complex yang dialami oleh Jani, dan siapa tahu dirimu juga.


Apa Itu Inferiority Complex?



#Klikers dan #Temanbaik mungkin pada bertanya-tanya nih, apa sih inferiority complex itu. Menurut American Psychological Association, sebuah badan tertinggi psikologi dunia, inferiority complex adalah sebuah kondisi dimana kita nggak mampu atau nggak aman secara fisik dan/atau psikologis yang akut. Kamu yang punya inferiority complex yang tinggi biasanya punya harga diri rendah, insecure terus menerus, waspada dengan pujian orang lain, suka membuat mencela diri sendiri, kecemasan ekstrim dan terlalu merespon kritik berlebihan. Bisa juga, ekspresi lainnya adalah perfeksionisme dan perasaan ingin bersaing yang berlebihan.


Istilah "inferiority complex" pertama kali diciptakan oleh psikolog Australia Bernama Alfred Adler. Adler menceritakan bahwa setiap manusia punya sisi insecurenya sendiri-sendiri. Kita semua pasti pernah berjuang dengan perasaan rendah diri. Sementara kita yang punya inferiority complex yang tinggi seringkali memiliki kepercayaan diri yang sangat rendah.


Apa Sih Penyebab Inferiority Complex?



Inferiority complex bukan cuma hasil dari satu penyebab. Bisa jadi gabungan dari beberapa penyebab sekaligus yang berkumpul jadi satu dari waktu ke waktu. Bisa aja karena pola asuh yang kurang apresiatif, ada kekurangan fisik, serta ada faktor ekonomi dan sosial.

“Tapi kok, ada orang yang orang yang gampang minder meski mengalami hal yang sama kayak aku?” Mungkin ada dari kalian yang bertanya begini. Kenapa kok ada orang yang berasal dari pola asuh dan lingkungan yang sama, tapi bisa nggak semuanya jadi minderan dan punya inferiority complex.


#Klikers dan #TemanBaik, semua kombinasi ini sangat berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Kamu bisa aja punya penyebab yang sama sekali berbeda dengan temanmu soal merasa minder. Karaktermu juga bisa berpengaruh terhadap cara kamu merespon pengalaman-pengalamanmu. Jadi, jangan sama-samain ya, kamu dan orang lain, punya faktor resiko dan protektif yang berbeda-beda.


Bagaimana Cara Melawan Inferiority Complex?




Jika dirimu bergumul dengan perasaan rendah diri, kamu mungkin bertanya-tanya apa yang dapat kamu lakukan untuk nggak jadi minderan lagi. Berikut adalah beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu memerangi pikiran dan keyakinan negatif yang ada di dalam dirimu.


Yuk Fokus Pada Kelebihanmu



#Klikers dan #Temanbaik yang punya inferiority complex, jadikan pujian sebagai pertanda apa kelebihanmu. Meskipun kamu merasa pujian itu hanya pemanis mulut atau sopan santun saja. Coba identifikasi kita yang bener-bener tulus memuji kelebihanmu.

Beberapa dari kamu bisa aja terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berfokus pada aspek negatif dalam kehidupan dan kepribadianmu daripada berfokus pada apa yang baik. Buat dirimu mengidentifikasi hal-hal yang kamu kuasai atau di mana kamu dapat unggul. Kemudian, tenggelamkan dirimu dalam upaya itu. Pelan-pelan tapi pasti, saat kamu memiliki hal yang kamu banggakan, rasa inferior dalam diri bisa ditekan perlahan.


Cari Lingkungan yang Suportif

Ketika kita berhadapan dengan perasaan inferior, kita pasti merasa sulit untuk percaya pada diri kita sendiri. Akibatnya, penting banget untuk menemukan lingkungan yang suportif.


Diimana ya carinya?

Bisa dimulai dari mencari grup hobi yang sama. Kalau kamu merasa kekuatanmu adalah memasak, kenapa nggak mulai bergabung dengan klub-klub memasak. Grup dengan minat yang serupa denganmu adalah tempat dimana kamu akan diterima, kamu akan dihargai, dan tempat dimana kamu bisa bebas bicara apa saja tentang minatmu tanpa takut orang nggak paham apa yang kamu bicarakan. Dikelilingi oleh orang-orang yang percaya pada kita dan mendukung kita dapat membantu mengurangi perasaan rendah diri kita.


Tetapkan Mimpimu


Klikers dan Teman Baik, memiliki sesuatu untuk dikerjakan akan menambah makna bagi kehidupan kita lho. Kamu bisa merenung dan menetapkan apa tujuan dan impianmu. Kemudian, duduk dan tentukan bagaimana caranya kamu bisa mewujudkannya. Mengalihkan fokusmu dari dirimu ke arah mimpimu akan membuatmu tidak melulu memikirkan kelemahanmu. Fokus pada sesuatu yang lebih besar dari kelemahan-kelemahanmu akan membuatmu merasa lebih baik dan lebih bersemangat untuk hidup.

Atau, kamu bisa juga mencari peluang untuk menjadi sukarelawan. Dengan melakukan itu, biarkan dirimu menghilangkan sebagian fokus dari diri kita sendiri dan fokus pada sesuatu di luar pikiran dan perasaan kita sendiri untuk sementara waktu.


Konseling Jika Dirasa Sudah Berlebihan



Terkadang ketika kita udah nggak bisa lagi mengatasi masalah kita sendirian, ada baiknya mencoba melibatkan orang lain yang netral, seperti para konselor, yang membantu kita untuk memahami diri kita sendiri. Jangan pernah ragu untuk mencari bantuan. Tidak ada salahnya untuk mendapatkan sedikit bantuan dari orang lain.


Sepatah Kata Dari KlikKLas dan Teman Baik



#Klikers dan #TemanBaik, nggak ada satupun dari kita yang punya kepercayaan diri terus menerus. Ada kalanya kita nggak pede, merasa lebih buruk daripada yang lain, dan merasa inferior. Kamu nggak sendirian. Jangan pernah merasa sendiri ya.... :)


Namun, kalau inferioritas kita ini mengganggu kehidupan sehari-hari kita, kita jadi susah percaya dengan diri sendiri, takut mencoba hal-hal baru yang sebenarnya bermanfaat untuk diri kita, takut menerima pujian, dan bahkan mengalami insecure yang ekstrim, ada baiknya segera mencari jalan keluar dari semua itu.

Inferiority complex adalah bentuk paling ekstrim dari ketidakpercayaan diri. Kalau kamu merasa nggak bisa mengatasinya sendirian. Jangan pernah ragu untuk mencari bantuan orang lain. Klik.Klas dan Temanteman.net menyediakan konsultasi lho. Langsung klik di bagian kanan atas dari web ini. Jangan lupa untuk fokus pada kelebihanmu sebagai cara untuk #selalubertumbuh setiap hari!


 

Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


 

Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

American Psychological Association. Inferiority complex.


Lang, K., & Lang, G. (2009). Goffman Converted His Personal Neurosis or Inferiority Complex into a Very Productive and Creative Solution.


Leung, K. W. F. (2021). A study of students' perceived parenting styles and their influence on the formation of inferiority complex at a community college in Hong Kong (Doctoral dissertation, Nottingham Trent University).


North American Society of Alderian Psychology. Who was Alfred Adler?



2 views0 comments

Recent Posts

See All