• klik klas

Ikut-Ikutan Berujung Penipuan



Sebuah stiker bertuliskan, “Spill nama panggilan kalian dong” diikuti oleh ribuan kita yang menjawab dengan menjelaskan apa aja nama panggilan yang pernah dimiliki, lalu jawaban dipampang pada Instastory pemain sticker. Stiker custom ini merupakan fitur baru Instagram yang dinamai “Add Yours/Balasan Anda,” Fitur ini merupakan stiker interaktif di Instastory yang bisa dibuat oleh kita secara custom. Mirip dengan fitur tanya jawab, namun nggak cuma kamu yang bisa menjawab, tapi kita lain juga bisa menjawab pertanyaan yang kamu ajukan. Identitas pribadi yang tertuang di permainan “Balasan Anda” itu. Karena fitur tersebut memungkinkan kita untuk melihat siapa saja yang menjawab dan apa jawaban mereka


Belum sebulan fitur ini dirilis (3 November 2021), hari ini tanggal 23 November 2021, sebuah screenshot yang bercerita bahwa seseorang telah ditipu karena penipu tahu nama kecil yang cuma keluarga dan teman dekat yang tahu. Bagaimana tidak tahu, kita dengan mudah melihat pengguna sticker itu dan jawabannya meskipun kita tidak berteman.


Penulis sendiri juga kerap kali melihat instastory teman-teman penulis yang memainkan permainan ini dengan beragam pertanyaan, seperti “Review suaminya dong,” atau “Review kantornya dong,” atau “Review rumahnya dong,” dan bahkan review-review hal-hal lain yang lebih pribadi lagi.


Pertanyaannya adalah kenapa kok kita dengan mudahnya ikut-ikutan memainkan permainan yang meminta kita membuka identitas kita? Dalam dunia ilmiah kita menyebutnya “Konformitas”. Apa itu?


KONFORMITAS



Konformitas kalau dibahasakan ke dalam bahasa populer, gampangnya memang bisa disebut sebagai peristiwa ikut-ikutan. Kalau lebih saintifik dikit, konformitas adalah perubahan perilaku kita yang ditujukan untuk ‘menyesuaikan diri’ dengan orang-orang di sekitar kita agar kita dianggap normal dan sesuai dengan mayoritas orang.


Beberapa definisi lainnya antara lainnya adalah perilaku menyerah pada tekanan kelompok, atau, bertindak karena kebanyakan kita berperilaku demikian.


Kenapa Kok Kita Gampang Ikut-Ikutan Sih?

Ada banyak banget alasan kenapa kita ikut-ikutan, coba kita bedah alasan-alasannya ya.

Dalam beberapa kasus, kita bisa aja menyesuaikan diri dengan harapan kelompok agar kita nggak kelihatan bodoh. Perasaan dan tekanan untuk ikut-ikutan ini bisa menjadi sangat kuat dalam situasi di mana kita tidak yakin bagaimana harus bertindak alias dalam situasi ambigu.


Pada tahun 1955, Deutsch dan Gerard menemukan dua alasan utama kenapa kita nih akhirnya memutuskan ikut-ikutan, di antaranya adalah adanya pengaruh informasi dan pengaruh norma kelompok.


Markibas, mari kita bahas!


Pengaruh Informasi

Pengaruh informasi ini terjadi ketika kita mengubah perilaku kita agar menjadi benar. Dalam situasi di mana kita tidak yakin dengan respons yang benar, kita sering melihat orang (teman, keluarga, pasangan, figure, idola dll) yang kita rasa punya informasi yang tepat sehingga bisa kita ikuti.


Kalau di kelas, seringkali kita merujuk pada yang pintar (misalnya). Kalau di masyarakat kita ngikut pak RT yang lebih melek soal peraturan kampung. Kalau di kerjaan kita ngikut kata senior kita. Banyak banget contohnya dimana kita lebih cenderung ngikutin mereka yang kita rasa lebih paham dengan isu yang kita nggak punya kapasitas di sana.


Pengaruh Normatif

Nah, alasan yang kedua adalah kita ikut-ikutan norma sosial. Kalau yang ikut-ikutan tipe ini biasanya berasal dari keinginan untuk menghindari hukuman sosial, pengasingan, pengucilan sosial, atau malah sebaliknya kita berusaha mendapatkan penghargaan dan pengakuan sosial.

Misalnya kenapa kamu pengen beli iphone terbaru? Yakin karena fiturnya, atau karena anak tetangga udah beli iphone terbaru? Coba rasa-rasain deh, apakah perilaku kita emang karena kebanyakan orang udah melakukan itu, kita takut kalau ambil jalan yang beda, atau melakukan itu karena kita tahu benar alasan logis dari jalan ini?


Faktor yang Berpengaruh

Tentu aja kita nggak serta merta langsung jadi bebek yang ikut-ikutan. Ada banyak faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan, seperti tingkat kesulitan tugas, perbedaan individu, ukuran kelompok, karakteristik situasinya kayak gimana, dan budaya yang berlaku.

Mari kita bedah satu-satu.


Kesulitan tugas

Kesulitan disini maksudnya adalah seberapa sulit (tentu menurut kita pribadi) tugas yang kita perlu selesaikan. Sulit atau nggak ini subjektif. Makanya, tugas yang dirasa oleh kita tergolong sulit dapat menyebabkan peningkatan kesempatan untuk ikut-ikutan. Kok bisa? Yaiyalah wong kita ngerasa ga paham dengan tugas kita, jadinya kita iya-iya aja kan kalau ada yang ngajarin.


Perbedaan Individu

Nah, karakteristik pribadi juga bakal berpengaruh terhadap keputusan untuk ikut-ikutan atau nggak. Biasanya mereka dengan motivasi untuk berprestasi dan kemampuan kepemimpinan yang kuat biasanya nggak gampang ikut-ikutan. Apalagi kalau kamu yang punya kecenderungan skeptis, wah ini susah ini ikut-ikutan.


Ukuran kelompok

Jumlah orang di sekitar kita bisa juga lho ngaruh ke kecenderungan kita, apakah akan ikut-ikutan apa nggak. Semakin besar jumlah orang di sekitar kita, semakin gedhe potensi kita untuk ikut-ikutan lho. Jadi, fenomena ikut-ikutan akan semakin mudah muncul kalau semakin banyak orang yang ngelakuin hal serupa. Termasuk game spill identitas pribadi tersebut.


Karakteristik Situasi

Biasanya kita lebih cenderung gampang ngikut aja kalau dalam situasi ambigu di mana kita nggak paham dengan jelas apa yang harus kita lakukan. Misalnya nih, kamu lagi nyantai di mall, eh tiba-tiba semua orang lari keluar mall. Banyak banget yang lari-lari panik. Kalau kamu ada di kondisi itu apa yang akan kamu lakukan? Mayoritas akan ikut berlari dulu, baru bertanya sebenarnya ada apa kok pada lari.


Perbedaan Budaya

Nah, ini nih, para peneliti telah menemukan bahwa orang-orang dari budaya kolektivis lebih mungkin untuk menyesuaikan diri. Selamat di Indonesia, dimana kita ini termasuk punya budaya kolektivis yang kuat. Jadi, jangan heran kalau tekanan kelompok begitu tinggi. Yang beda sendiri nanti bisa dinyinyirin tetangga satu kampung yak….


Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan Teman Baik

Dear Klikers dan Teman Baik, ikutan-ikutan itu nggak selalu salah, asal yang diikuti adalah hal yang bermanfaat buat diri kita. Tapi, kalau ikut-ikutan dan ternyata bahaya buat diri kita, ini yang nggak boleh. Ikut-ikutan itu manusiawi, apalagi kalau kita merasa nggak terlalu paham sama suatu isu, jadinya lebih memilih ngikutin yang kamu anggap ahli. Atau, kamu merasa semua orang sudah melakukan hal itu, jadi kamu merasa di bawah tekanan sosial.

Nah, kalau kita bicara bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, kita kudu lebih hati-hati dalam memilih hal apa yang kita ikuti. Jangan asal ikut-ikutan aja.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Breckler, S. J., Olson, J. M., & Wiggins, E. C. (2006). Social Psychology Alive. Belmont, CA: Cengage Learning.

Deutsch, M., & Gerard, H. B. (1955). A study of normative and informational social influences upon individual judgment. The Journal of Abnormal and Social Psychology, 51(3), 629–636. doi:10.1037/h0046408

Eysenck, M. W. (2004). Psychology: An International Perspective. New York: Psychology Press, LTD.

Le texier T. Debunking the Stanford Prison Experiment. Am Psychol. 2019;74(7):823-839. doi:10.1037/amp0000401

Morgan TJ, Laland KN. The biological bases of conformity. Front Neurosci. 2012;6:87. Published 2012 Jun 14. doi:10.3389/fnins.2012.00087

Sowden S, Koletsi S, Lymberopoulos E, Militaru E, Catmur C, Bird G. Quantifying compliance and acceptance through public and private social conformity. Conscious Cogn. 2018;65:359–367. doi:10.1016/j.concog.2018.08.009

Wei Z, Zhao Z, Zheng Y. Following the Majority: Social Influence in Trusting Behavior. Front Neurosci. 2019;13:89. Published 2019 Feb 11. doi:10.3389/fnins.2019.00089


0 views0 comments

Recent Posts

See All