• klik klas

"Gimana Caranya Agar Ayah Mau Ke Psikolog?"


“Ayahku terus mengurung diri di kamar, setelah Ibu meninggal karena Covid. Ayah nggak mau makan dan diam saja. Aku sangat khawatir. Aku berharap ayahku bisa pergi ke psikolog agar bisa dibantu berhadapan dengan kesedihan yang sedang beliau alami, tapi ayah tetap nggak mau mendapat bantuan professional,”


Ini kisah Beka. Seorang mahasiswa di Yogyakarta yang baru saja kehilangan ibunya karena terkena Covid-19. Kematian ibu Beka berlangsung sangat cepat. Semua keluarga merasakan kehilangan yang amat sangat. Tak terkecuali ayah Beka. Ayahnya tampak sangat terpukul. Ayah Beka nggak mengatakan sepatah kata apapun. Beliau nggak menangis, juga nggak cerita apa yang Ia rasakan. Ia hanya terus berdiam diri di kamar. Baru makan jika diingatkan. Hanya tiduran. Nggak semangat berangkat bekerja.


Beka sebagai anak sangat merasakan kehilangan juga. Tapi, lebih terpukul lagi melihat ayahnya tampak nggak punya semangat hidup lagi. Ia tahu perasaan duka ayahnya begitu berat. Namun, ia nggak bisa berkata manis dan menghiburnya, karena hubungan mereka selama ini nggak dekat. Kondisi ayah Beka terus memburuk. Semakin lama semakin lupa makan dan bersih diri. Beka semakin khawatir dan Ia berusaha meyakinkan ayahnya untuk mau konsultasi dengan psikolog. Ayahnya menolak mentah-mentah ide untuk berbicara dengan Psikolog. Tapi, Beka ingin agar ayahnya mendapat bantuan segera. Ia resah harus melakukan apa agar ayahnya mau dibujuk untuk pergi ke psikolog.


Apakah ada di antara kamu yang mengalami hal serupa?


Klikers dan Teman Baik, apa yang dialami Beka bukanlah fenomena baru. Berbagai penelitian psikologi banyak yang sudah mengungkap betapa susahnya orang untuk mencari pertolongan para profesional kesehatan mental.


Alasannya macem-macem banget. Seperti, “Ngapain sih masalah gini aja ke psikolog dan harus bayar?”,“Emang gue sakit jiwa dan harus ke psikolog?”, “Nggak ah, psikolog kan cuma orang yang dengerin curhatan aja, mending sama temen aja curhat,” sampai “Psikolog itu makhluk apa sih?”


Hal ini disebabkan pemahaman masyarakat Indonesia, terutama yang nggak lagi muda, terhadap kesehatan mental masih sangat rendah. Jadi, stigma kalau psikolog dan psikiater itu hanya ngurusin orang gila, yang ke psikolog adalah orang sakit jiwa, dan mereka yang ke psikolog pasti dirujuk ke rumah sakit jiwa, masih sangat menghantui masyarakat.


Ini juga efek domino dari stigma terhadap orang gila di masyarakat kita. Orang gila atau kalau bahasa psikologinya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sering dianggap penyakit masyarakat, kesurupan, jorong, membahayakan, menyebalkan dan berbagai predikat lainnya. Kalau masih kayak gini, wajar jadinya kalau orang-orang masih banyak skeptis sama layanan kesehatan mental.


Kalau kamu merasakan hal serupa dengan Beka, pasti gemes ya, pengen banget orang yang kita sayangi mendapatkan perawatan dan pertolongan yang layak. Tapi, malah menolak untuk dibantu keluar dari masalahnya.


Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ada nih beberapa tips yang bisa dicoba, jadi kamu bisa praktikkan. Kalau berhasil, jangan lupa berkabar ke Tim Klik.Klas dan Teman Baik ya!


Ceritakan Pengalaman Pribadi/Orang Lain



Jangan pernah memaksa seseorang untuk berobat ke psikolog, karena tritmen baru berhasil jika ada kemauan untuk bekerja sama antara klien dengan psikolog. Jadi, kalau ada klien yang datang dengan dipaksa, misal anak yang dipaksa orang tua, biasanya perjalanan terapi nggak akan berhasil.


Memang ya Klikers dan Teman Baik, mengubah hati orang bukan perkara yang mudah. Kamu bisa mulai dengan dirimu sendiri yang berangkat ke psikolog dan merasakan dampaknya. Kamu bisa pelan-pelan bercerita, betapa leganya setelah mencoba mendapat bantuan dari professional. Kamu bisa membicarakannya seakan-akan hanya berbagi cerita, nggak memaksa, nggak dengan menyuruh apalagi menghakimi.


Pilih Waktu dan Kondisi yang Tepat



Semua ada tempat dan waktunya, begitu katanya. Termasuk pilih waktu yang nyaman, saat kamu tidak terburu-buru, saat kamu sedang dalam mood yang baik juga, dan saat orang yang kita sayangi sedang lebih baik daripada biasanya. Hem, gimana ya supaya meningkatkan suasana hati? Apakah orang tersayangmu ada hal-hal yang sangat ia sukai? Makanan favorit? Benda-benda yang ia sukai? Kamu bisa juga mengajak berkunjung ke tempat yang ia senangi. Sesuaikan dengan kondisinya. Semoga dengan memilih waktu dan kondisi yang tepat. Ia lebih mau mendengarkan kita.


Sampaikan Tujuanmu dengan Hangat



“Ayah, aku ingin ayah bisa tidur nyenyak lagi, aku ingin ayah bahagia lagi, ga ada salahnya kita nyoba ke psikolog,” Kata Beka saat ingin meyakinkan ayahnya untuk pergi ke psikolog.

Menjadi orang yang merawat (caregiver) itu berat. Kadang, kita mudah emosi karena kelelahan. Kadang nada kita jadi naik dan nggak hangat. Nggak jarang juga, kata-kata kita kelepasan dan menyakitkan. Meski tujuan kita baik, tapi kalau disampaikan dengan tidak hangat, nggak akan sampai ke hati orang yang kita sayang.

Bagaimana jika menyampaikan maksudmu dengan pelan-pelan, nada yang rendah, dan jika memungkinkan disertai kontak fisik yang suportif (memegang tangan, memeluk, dsb)? Semoga ucapan yang tidak diiringi amarah dan kekesalan, bisa lebih sampai ke hati mereka yang kita sayang.


Dirimu Sebelum Lainnya



Jika kamu merasa lelah meyakinkan orang tersayangmu untuk mencari bantuan. Jangan lupa untuk melakukan perawatan juga terhadap dirimu sendiri. Karena, merawat orang lain itu tidak mudah, maka kita perlu punya cara untuk tetap bahagia. Jika mau, berangkatlah terlebih dahulu ke psikolog, prioritaskan dirimu sendiri.


Lepaskan pikiran bahwa sesuatu harus berhasil saat itu juga. Proses meyakinkan orang lain kadang tidak semudah yang dibayangkan. Wajar apabila dalam beberapa kali percobaan hanya berakhir dengan kegagalan. Bayangkan bahwa ini adalah proses yang panjang, sehingga kamu akan menyiapkan kesabaran yang lebih untuk mengarungi perjalanan ini.

Saat beberapa percobaan membuatmu semakin kesal, jangan lupa untuk relaksasi. Kamu bisa menghibur diri dengan hal-hal yang kamu senangi. Atau, bertemu dengan orang-orang yang suportif serta mau mendengarkanmu.


Sepatah Kata Untuk Klikers dan Teman Baik



Klikers dan Teman Baik, pasti kita ingin orang-orang terbaik kita mendapat pertolongan yang tepat saat mereka kesusahan ya. Tapi, kesal juga ya kalau mereka tidak ingin diberi pertolongan padahal mereka jelas-jelas membutuhkannya. Memang, kemampuan mencari pertolongan dan memahami bahwa diri kita butuh pertolongan adalah skill menolong diri sendiri yang nggak dimiliki oleh semua orang lho. Makanya, jangan heran, kalau banyak orang yang tidak mencari bantuan segera, karena ia tidak tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


Kalau kita ingin memastikan orang lain dapat menerima pesan kita dengan baik, sampaikan dengan hangat, tanpa paksaan dan strategi-strategi lainnya yang bisa kita coba. Namun, pastikan kita tidak memaksa mereka karena nggak pernah ada terapi yang efektif kalau sang klien merasa terpaksa.


Klikers dan Teman Baik, kita ingin orang lain segera mencari bantuan saat kamu melihat mereka memang membutuhkan pertolongan. Namun, dalam prosesnya kamu juga bisa bertumbuh setiap hari dalam proses meyakinkan orang lain ini. Bertumbuhlah menjadi pribadi yang lebih bijak dengan melepaskan dirimu dari ekspektasi bahwa proses ini akan cepat. Bebaskan dirimu dari ekspektasi-ekspektasi bahwa proses persuasi ini akan sukses dengan satu atau dua kali percobaan. Saat gagal, rileks, rawat dirimu sendiri dan cari hal yang bikin bahagia.


Selamat bertumbuh setiap hari ya Klikers dan Teman Baik!


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Subu, M. A., Wati, D. F., Al-Yateem, N., Netrida, N., Priscilla, V., Maria Dias, J., ... & Edwin Nurdin, A. (2021). ‘Family stigma’among family members of people with mental illness in Indonesia: A grounded theory approach. International Journal of Mental Health, 1-22.


Onie, S., Kirana, A. C., Mustika, N. P., Adelsa, V., & Ibrahim, R. (2021). A Sickness of the Soul: An Exploration into Self and Social Stigma Towards Help Seeking in Indonesia.


Sweetman, J., Knapp, P., Varley, D., Woodhouse, R., McMillan, D., & Coventry, P. (2021). Barriers to attending initial psychological therapy service appointments for common mental health problems: A mixed-methods systematic review. Journal of affective disorders.


Subandi, M. A., Praptomojati, A., Marchira, C. R., DelVecchio Good, M. J., & Good, B. J. (2021). Cultural explanations of psychotic illness and care-seeking of family caregivers in Java, Indonesia. Transcultural psychiatry, 58(1), 3-13.







13 views0 comments

Recent Posts

See All