• klik klas

Blind Optimism: Sifat Optimis yang Berlebihan

Hai, Klikers dan Teman Baik!

Tentu sudah tidak asing, ya, dengan istilah optimis dan pesimis. Nah, kali ini #TemaniTeman mau bahas sedikit soal optimisme. Sudah tahu dong artinya apa? Kalau belum, ini dia arti dari optimis/optimisme dari buku Resilience: The Science of Mastering Life’s Greatest Challenge yang ditulis oleh Southwick & Charney (2012).

“Optimisme adalah sifat yang berorientasi pada masa depan diikuti kepercayaan diri dan harapan bahwa semuanya akan memiliki hasil terbaik dan akan selalu ada hal baik di masa depan jika terus berusaha dengan maksimal.”


Itu berarti, kamu bisa menyebut dirimu sebagai sosok yang optimis jika kamu terus percaya diri dan meyakini bahwa semua usahamu akan menghasilkan hasil terbaik asalkan memiliki kemauan untuk #SelaluBertumbuh dan berproses. Hanya saja, terkadang tanpa sadar, diri yang terlanjur biasa berpikiran optimis ternyata terjebak dalam lingkaran blind optimism atau optimis buta dan berlebihan.

Hal ini bisa terjadi jika saking optimisnya dirimu, kamu justru meremehkan risiko dan terlalu berekspektasi tinggi terhadap kemampuanmu sehingga tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang dan penuh pertimbangan. Terkadang, persiapan yang tidak matang inilah yang bisa membuatmu tersandung hal-hal kecil sehingga pada akhirnya kegagalan menyapamu.


Sebagai manusia, tentu kamu memiliki kekuatan pun kelemahan. Dua hal ini perlu dijadikan dasar juga untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan kamu capai. Optimisme itu akan tetap baik jika kamu pun tetap rasional dalam menyeimbangkan antara harapan dan kemampuan.


Misalnya, kamu punya impian untuk membuat mesin waktu. Mungkin hal ini bisa saja diciptakan. kamu optimis bahwa hal itu bisa dilakukan, kamu perlu mempertimbangkan berbagai risiko yang akan dihadapi, kemampuan yang kamu miliki, dan bekal-bekal lain yang perlu dipersiapkan dengan matang. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan pemikiran optimis tanpa mempertimbangkan hal-hal lainnya. Jika seperti itu, kamu akan terjebak dalam keoptimisan buta.


Memiliki sifat optimis sangatlah baik. Hanya saja, sesuaikan lagi dengan kemampuan dan perhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi potensi kegagalan. Pertimbangan yang matang akan membuatmu lebih hati-hati dalam perencanaan sehingga tidak terjebak dalam blind optimism.

Ingat, kadang hanya perlu kerikil kecil untuk membuatmu tersandung, jatuh, dan terluka jika kamu tidak berhati-hati dalam melangkah. Tetaplah berhati-hati, penuh pertimbangan, dan pertahankan rasa optimismu, ya!


Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza.

4 views0 comments

Recent Posts

See All