• klik klas

Bisakah Menulis Menyelesaikan Masalah dengan Orang Lain?

Hei, Klikers dan Teman Baik! Gimana kabarnya? Sudah mencoba writing for healing untuk dirimu sendiri?


Di saat banyak kampanye self-healing lewat tulisan, ternyata ada juga loh yang penasaran apakah menulis bisa membantu menyelesaikan masalah dengan orang lain? Mungkin rasanya sayang kali, ya, kalau menulis hanya untuk menyelesaikan masalah sendiri, tetapi tidak menyelesaikan masalah dengan orang lain.


Apakah di antara kamu ada yang pernah bertanya-tanya hal serupa juga?






Sebenarnya, menulis bisa dijadikan media untuk apa pun. Untuk berbagi ilmu, pemikiran, self-healing, bahkan untuk membantumu menyelesaikan masalah dengan orang lain. Namun, media menulis yang efektif untuk menyelesaikan masalah dengan orang lain sebaiknya bukan lewat online chat, ya.


Memang, terkadang tulisan itu bisa membuat salah paham. Niatnya mau baikan, tapi orang yang baca merasa seperti diremehkan. Niatnya mau mengungkapkan ketidaknyamanan, malah dianggap seperti menyerang dan menghina. Hmm, sulit memang jika seperti itu kondisinya. Hanya saja, bukan berarti kamu tidak bisa menjadikan menulis sebagai “mediator” penyelesaian masalahmu dengan orang lain.


Pernah dengar ungkapan, apa yang dari hati akan sampai ke hati juga?






Sama halnya dengan menulis. Mungkin, kamu bisa coba menulis surat untuk mengungkapkan ketidaknyamananmu, kegelisahanmu, atau keinginan untuk berbaikan dengan seseorang. Sampaikan semuanya dengan bahasa yang baik dan tentunya ikutsertakan hatimu dalam menulis surat itu.


Enaknya menyelesaikan masalah lewat tulisan adalah, kamu selalu bisa merevisi kata-katamu sebelum disampaikan ke orang yang bersangkutan! Jadi, siapkan tulisan terbaikmu untuk membantumu menyelesaikan masalah dengan orang lain.


So, menulis nggak hanya jadi healing untuk diri sendiri, ya. Menulis juga bisa kamu gunakan sebagai healing hubunganmu dengan orang lain. Tentunya, menulislah dengan hati dan gunakan kata-kata yang baik agar tidak membuat orang lain salah paham.






Jika kamu khawatir dia akan salah paham meski kamu sudah berusaha sebaik mungkin dalam menyusun kata-kata, sampaikan saja permohonan maaf di akhir surat. Meminta maaf lebih dulu meski kamu tidak melakukan kesalahan—apalagi kalau memang kamu yang salah—bukan bentuk kekalahan. Melainkan, hal tersebut menunjukkan bahwa kamu benar-benar ini berbaikan dengannya.


Semoga kamu dan temanmu bisa #SalingBertumbuh setelah berbaikan lagi lewat surat menyurat, ya!

Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza

1 view0 comments

Recent Posts

See All