• klik klas

Berlindung Di Balik "Cuma Bercanda!"

Hei, Klikers dan Teman Baik!


Bergurau sama teman-teman kayaknya nggak pernah hilang dari pergaulan, ya. Tidak hanya untuk menghidupkan suasana, bergurau juga sering digunakan untuk menghibur seseorang. Namun, gimana kalau kata-kata “Cuma bergurau” atau “Cuma becanda doang!” dijadikan tameng bagi mereka yang tanpa sadar mem-bully seseorang?



Humor memang menjadi salah satu alternatif untuk membahagiakan diri. Tertawa bersama dan mencairkan suasana yang kaku dengan humor bisa merekatkan hubungan satu sama lain. Akan tetapi, kamu juga perlu menyadari bahwa humor dan becanda tentu ada batasannya. Jika kamu melewati batas, tentu itu bukan lagi candaan, ya, melainkan penghinaan atau justru bisa dikategorikan sebagai perundungan.


Batasannya apa saja, sih?


Hmm, kalau #TemaniTeman rinci secara spesifik, mungkin list-nya akan panjang dan bisa jadi hanya sekadar subjektivitas semata. Hanya saja, secara objektifnya jelas jangan sampai candaan itu menyakiti hati orang lain. Candaan yang ditujuan untuk menyakiti, menghina, atau merendahkan orang lain sudah masuk ke kategori perundungan. Hal-hal apa saja yang bisa menyakiti orang lain tentu beda-beda, ya, tergantung orangnya.



Ada yang dibecandain tentang bentuk tubuhnya, dia merasa biasa saja, ada pula yang malah jadi minder dan sakit hati. Ada yang dibencandain nggak nikah-nikah bersikap biasa saja, ada juga yang tidak baik-baik saja. Setiap orang punya hal sensitifnya masing-masing. Oleh karena itu, belajar memahami dan peka terhadap orang lain menjadi salah satu PR agar bisa hidup bersosial dengan baik.


Kalau nggak tahu bahwa hal yang dilontarkan itu menyakiti orang lain, harus gimana?


Tentu, minta maaf. Kamu tidak tahu, berarti hal itu tidak disengaja. Namun, bukan berarti kamu bisa berlindung di balik kalimat “Cuma becanda, kok. Jangan baperan gitulah!”


Berlindung atas kesalahanmu di balik kalimat seperti itu justru membuatmu tampak seperti tidak mau kalah dan tidak ingin disalahkan. Ini bukan sikap saling menghargai, ya, Teman Baik.



Belajarlah untuk meminta maaf ketika kamu sadar bahwa orang lain sakit hati dengan perkataanmu. Meskipun candaan itu tidak disengaja menyakiti orang lain, minta maaf menjadi salah satu cara menghargai perasaannya. Setelah itu, kamu pun jadi belajar tentang hal sensitif tentangnya yang tidak bisa dijadikan candaan. Tentunya, jangan diulangi candaan yang menyakiti hatinya di masa depan, ya!


Semoga kamu #SelaluBertumbuh menjadi sosok yang pengertian dan tahu batasan dalam melontarkan candaan pada orang lain.


Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza

6 views0 comments

Recent Posts

See All