• klik klas

Berinteraksi Pake Konsep Mirroring, Bikin Kamu Lebih Berempati

Hai, Klikers dan Teman Baik!

Ketika berinteraksi dengan orang lain, kamu pasti menyadari kata-kata yang terucap dari lisanmu. Bahkan mungkin, kamu memikirkannya secara matang dan mendalam sebelum kata-kata itu terucap pada orang lain. Namun, ada hal lain yang mungkin tidak kamu sadari saat melakukan interaksi dengan orang lain seperti tanpa sadar menirukan posisi duduknya, ikut minum ketika dia minum, atau tertawa saat orang lain tertawa—padahal tidak ada yang lucu.


Kalau kamu pernah mengalami hal itu, artinya tubuhmu sedang mengalami yang namanya mirroring atau “berkaca” pada perilaku orang lain. Artinya, kamu menjadi seperti kaca bagi lawan bicaramu yang tanpa sadar mengikuti gerak tubuh, intonasi suara, atau responsnya saat berbicara.

Mirroring ini terjadi ketika kamu benar-benar tenggelam dari interaksi dengan lawan bicaramu dan mampu berempati pada kondisinya. Perilaku ini juga menunjukkan bahwa dirimu sangat tertarik, terkoneksi, dan percaya dengan lawan bicaramu. Secara ilmiah, sebenarnya perilaku ini disebabkan oleh saraf cermin (mirror neurons) yang ada dalam otakmu yang membuat tubuh secara sadar maupun tidak seolah terhubung dengan orang lain.


Nah, memahami prinsip mirroring ini cukup berguna dalam #TemaniTeman dan interaksi sosialmu, loh!



Kamu jadi bisa melihat seberapa tertariknya lawan bicaramu dengan interaksi yang sedang kalian lakukan. Mungkin sesekali kamu bisa mencoba mengubah posisi dudukmu atau coba menyilangkan kaki. Perhatikan, apakah lawan bicaramu mengikuti gerakanmu tanpa diminta. Jika iya, selamat! Artinya, dia sangat tertarik dan benar-benar mampu berempati denganmu. Hal itu juga berarti dia mendengarkanmu dengan sungguh-sungguh.


Namun, jika hal itu tidak terjadi, kamu tak perlu kecewa, ya. Siapa tahu dia memang berniat baik untuk mendengarkan dan berinteraksi denganmu, meski pikirannya tidak terfokus penuh pada dirimu. Bukan berarti juga dia tidak peduli atau membencimu.


Bagi beberapa orang, memang butuh waktu lama untuk bisa terlibat aktif dan berempati dengan lawan bicaranya. Mirroring pun kadang terjadi setelah interaksi yang lama karena selain menunjukkan empati pada lawan bicara, mirroring menunjukkan seberapa percayanya seseorang dengan lawan bicaranya.


Mungkin kalau kamu sedang jalan-jalan atau makan di luar, kamu bisa coba memperhatikan sekitarmu. Siapa tahu ada orang yang sedang berinteraksi dan ternyata gerakan mereka seperti kaca! Satu berubah, yang lain ikut berubah :D

Semoga sekilas info ini bermanfaat dan membuatmu #SelaluBertumbuh, ya!


Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza

1 view0 comments

Recent Posts

See All