• klik klas

Beri Batasan dan Membatasi Diri Kadang Beda-Beda Tipis lho!

Halo, Klikers dan Teman Baik!

Pernah dengar istilah tahu batasan diri, tetapi jangan membatasi diri?

Hayo, siapa yang bingung dengan istilah itu? Yuk, simak tulisan dari #TemaniTeman berikut!

Dalam hidup ini mungkin ada yang senang membuka diri untuk menerima dan memberikan banyak hal pada orang lain. Misalnya, mau menceritakan segala macam masalah pribadi ke publik, atau mau menerima segala macam permintaan dan harapan orang lain.


Kadang, tujuannya adalah untuk bisa membahagiakan semua orang atau membuat orang lain suka pada dirimu.


Sebenarnya, ada batasan-batasan yang perlu kamu buat untuk dirimu dan orang lain. Kamu memiliki kehidupan pribadi yang tidak harus diketahui semua orang.


Jangan sampai, saking terbukanya dirimu pada orang lain, tanpa sadar ada aib yang diumbar ke publik yang mungkin bisa jadi bumerang bagimu di masa depan.

Kamu pun boleh memberi batasan pada seberapa mampu dirimu menolong orang lain. Mungkin, sifatmu yang penuh dengan empati dan kepedulian membuat orang lain nyaman meminta bantuan kepadamu.


Namun, jangan lupa untuk melihat kapasitas diri. Kamu tidak harus selalu mengiyakan permintaan tolong orang lain, terlebih jika hal itu di luar kapasitas/kemampuanmu. Kamu boleh, loh, memberi batasan permasalahan seperti apa yang akan kamu bantu dan seberapa jauh kamu akan membantunya.


Akan tetapi, ingat juga. Berani memberi batasan bukan berarti membuatmu jadi membatasi diri. Kamulah yang paling tahu mana hal-hal yang perlu diungkap ke publik dan mana yang perlu disimpan baik-baik.


Kamu jugalah yang tahu sejauh mana kemampuanmu untuk membantu orang lain. Memahami kemampuan dan kepentingan itu yang menjadi dasar untuk berani membangun boundaries dan bukan untuk melarang diri melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan.

Ketika kamu melarang dirimu untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya perlu dan bisa untuk dilakukan, ini namanya membatasi diri.


Misalnya, kamu sebenarnya perlu untuk mengungkapkan pemikiranmu tentang topik yang sedang didiskusikan, tetapi kamu takut tidak ada yang setuju dan akhirnya memilih diam.


Atau, sebenarnya kamu bisa membantu temanmu yang sedang membutuhkan informasi terkait donor darah, tetapi kamu malas mencari informasi dan memutuskan untuk tidak membantu. Nah, ini adalah contoh dari membatasi diri.

Berani memberi batasan terhadap hal-hal eksternal yang datang dalam hidupmu tentu akan berpengaruh juga pada kesehatan mentalmu.


Jangan sampai karena kamu selalu menjadi “Yes Man!” malah membuat dirimu tertekan dan merasa dituntut untuk selalu membahagiakan orang lain. Pun, jangan juga menjadi pribadi yang tidak peduli karena membatasi diri untuk orang lain. Tetap berproses untuk #SelaluBertumbuh, ya!


Tentang Penulis

Anisa Zahra Wijayanti Nugroho, S.Psi.

Penulis yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan sudah menghasilkan beberapa karya/buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Mau kenalan lebih jauh? Langsung meluncur aja ke Instagram @anisaanza.

2 views0 comments

Recent Posts

See All