• klik klas

Benarkah Waktu Akan Menyembuhkan Luka Kita?

“Tenang aja, waktu akan menyembuhkan segalanya,”


Pernah nggak kamu mendengar seseorang mengatakan padamu bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja dengan berlalunya waktu?


Wah apakah benar, segala akan sembuh begitu waktu berlalu? Termasuk rasa sakit, marah, kecewa dan masa lalu yang menghantui diri kita?


Pernyataan ini bisa benar, bisa nggak yaa Klikers dan TemanBaik.


Pernah nggak Teman Baik mengalami suatu peristiwa yang menyakitkan dan kurang menyenangkan, lalu berpikir bahwa untuk bisa bangkit dari itu semua, kita hanya butuh menunggu dan biar seiring berjalannya waktu kita akan lupa dengan semua itu.


Kalau kamu pernah berpikir bahwa yang kita butuhkan hanyalah beberapa bulan untuk mengatasi sesuatu yang traumatis, percayalah yang berpikir kayak gini, bukan kamu sendiri. Banyak banget banget di luar sana yang meyakini bahwa waktu menyembuhkan segalanya. Sebagian besar dari kita pernah berpikir waktu akan menyembuhkan segalanya secara membabi buta. Apalagi, kayaknya udah jadi jargon populer dan dipakai dimana-mana.


Tapi apakah waktu benar-benar menyembuhkan luka kita?


Apakah waktu akan menyembuhkan luka kita saat berduka karena kehilangan orang yang kita cintai? Apakah waktu akan menyembuhkan luka dari pengalaman pahit kita?

Apakah waktu akan membuat kita sembuh dan menjadi lebih baik-baik saja?

Yuk, kita bahas apakah waktu akan menyembuhkan semua luka kita.


Waktu dan Kebahagiaan

Apa sebenarnya peran waktu dalam penyembuhan? Menurut psikolog berlisensi dan pemilik Baltimore Therapy Group Heather Z. Lyons, PhD, waktu pada dasarnya sama dengan kesempatan. Oleh karena itu, bagaimana seseorang sembuh dari waktu ke waktu pada akhirnya tergantung pada bagaimana mereka memutuskan untuk menggunakan kesempatan itu untuk membentuk keadaan mereka sekarang dan masa depan.


Jika kita bicara tentang waktu dan kebahagiaan, sebenarnya bukan waktu itu sendiri yang menyembuhkan. Tetapi, banyak hal-hal lain yang sebenarnya terjadi dan itu membaik seiring berjalannya waktu.


Seiring berjalannya waktu, bisa saja kita semakin mampu melihat sesuatu dengan perspektif yang lebih jernih.


Seiring berjalannya waktu bisa saja kita semakin dewasa dan semakin pandai memaafkan.


Seiring berjalannya waktu bisa saja kita bertemu banyak orang baru yang memberi kita perspektif yang berbeda dalam melihat sesuatu.


Seriring berjalannya waktu kita terlibat dengan berbagai kegiatan yang mengalihkan pikiran kita.


Seiring berjalannya waktu kita bisa saja semakin memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik, sehingga kita bisa melihat sesuatu dengan lebih dewasa.


Lalu, jika dilihat-lihat apakah waktu itu sendiri yang menyembuhkan? Sepertinya tidak ya. Tetapi, waktu adalah ruang.


Namun, jika ruang kosong itu tidak diisi dengan refleksi, pertemuan dengan mereka yang membantu kita bertumbuh, penambahan skill yang memadai, dan kemauan untuk tumbuh dari masalah rasanya ruang ini akan sia-sia ya.


Lalu, apa yang mencegah kita sembuh meski waktu terus berjalan?


Apa yang Dapat Mencegah Penyembuhan?

Bisa saja (dan sangat bisa saja ) bahwa waktu nggak akan menyembuhkan semua luka karena beberapa alasan. Jadi, apa yang bisa mencegah kita dari sembuh?


Hal-hal berikut ini dapat membuat proses sembuh kita semakin lama.


Pertama, kalau kita terus berusaha melihat apa yang kita alami dari satu sisi saja. Seharusnya, semakin berjalannya waktu kita semakin bisa melihat apa yang kita alami dari berbagai sisi. Jika kita merasa pengalaman itu begitu menyakitkan bagimu, mungkin kamu bisa melihat dari sisi, apa yang terjadi jika ada hal yang lebih buruk daripada itu. Atau, apakah pengalaman itu membuatmu semakin jadi pribadi yang tegar?


Kedua, menyimpan dendam. Rasa sakit yang begitu kuat mungkin akan lebih menyenangkan jika disimpan sebagai dendam. Tapi, apakah benar menyimpan dendam akan membuat semuanya berjalan dengan lebih baik. Apakah dengan membalaskan dendam bisa mengembalikan segala sesuatu seperti sedia kala. Alih-alih merasa lega, bisa jadi dendam ini membuat hidup kita semakin terpuruk, semakin merasa terbebani oleh amarah yang tidak bis akita jelaskan. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika kita memilih opsi memaafkan? Meski terlihat berat di awal, namun setidaknya kita akan lebih mudah di akhirnya.


Ketiga, penyangkalan. Kalau kita terus menyangkal kejadian buruk di masa lalu, kita semakin lambat masuk ke fase penerimaan diri dan kenyataan. Padahal, fase penerimaan diri dan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita adalah proses bertumbuh yang paling penting. Menerima adalah gerbang kepada banyak hal. Penerimaan bisa saja mengantarkan kita ke pemaafan, penerimaan bisa mengantarkan kita untuk mencari solusi daripada terus lari.


Keempat, menghukum diri sendiri. Beberapa dari kita terus merasa perlu menyalahkan diri sendiri terus menerus atas segala hal di masa lalu yang sebenarnya bukan area tanggungjawab kita. Atau kita merasa harus bertanggungjawab atas semua kesalahan di masa lalu yang sebenarnya bukan harus ditanggung seorang diri. Idealnya, semakin berjalannya waktu kita tahu bahwa kita harus melihat masalah secara objektif.


Kelima, kita terus menggunakan cara menghadapi masalah yang nggak sehat. Misal, kita self-labelling, terus menerus melabeli diri dengan label negatif yang nggak objektif. Apakah kita akan terus menerus melihat diri secara negatif bahkan saat waktu membuktikan kita nggak benar-benar negatif?


Keenam, menggunakan mekanisme cara menghadapi masalah yang nggak sehat. Misalnya, apakah kita masih suka menghadapi masalah dengan cara lari dan tidak mau benar-benar menyelesaikannya?


Lalu, Harus Bagaimana?


Klikers dan Teman Baik…

Ada banyak factor yang membedakan kita yang bisa sembuh seiring berjalannya waktu dan mereka yang masih juga terkurung dengan masa lalu meskipun waktu berlalu.


Pada dasarnya, bagaimana kita memanfaatkan waktu kita akan berhubungan dengan seberapa baik dan seberapa cepat kita akan sembuh. Jadi mari kita lihat beberapa faktor yang membantu kita semakin cepat sampai di proses bertumbuh.


Mengekspresikan Emosi Kita


Pengalaman pahit memang menyakitkan, rasanya luka itu akan terus ada sampai kapanpun. Tapi, tahu nggak sih menuangkan emosi kita ke dalam medium lain, akan membuat kita lebih merasa ringan. Kita bisa mengekspresikannya melalui karya seni, tulisan, tarian, olahraga atau berbagai cara lain. Menahan dan menyimpan sendiri mungkin nggak akan menyelesaikan masalah. Kamu juga bisa berbagi cerita kepada orang yang kamu percaya.


Menerima Emosi Kita


Beri diri kita waktu untuk sepenuhnya memproses emosi-emosi yang kita alami. Hal ini sangat penting setelah mengalami situasi traumatis, seperti putus cinta, kematian, atau cedera. Lepaskan penilaian apa pun yang terkait dengan pengalaman itu, dan biarkan diri kita menerima dan merasakan apa pun yang muncul untuk kita agar dapat melewatinya.

Gimana caranya? Jika sedih, katakan sedih. Terima emosi itu. Jika kecewa, katakan kecewa. Bilang ke diri sendiri, “Oke aku terima kalau aku lagi sedih, dan emang aku masih sedih,” Rasakan dan belajarlah menerima bahwa menerima emosi bukan berarti kita lemah. Tetapi, kita menjadi orang yang tahu apa yang sedang kita rasakan. Ini bagian dari memahami diri sendiri.


Terimalah Dukungan


Banyak sekali manfaat menghabiskan waktu habiskan waktu bersama orang-orang yang kita percayai yang dapat menawarkan dukungan emosional pada saat kita membutuhkan. Siapa aja mereka? Bisa aja mereka adalah teman, keluarga, terapis atau siapapun yang kamu percaya dan dapat membantumu semakin baik lagi.


Nikmati Hidup


Lepaskan semua kunkungan masa lalu dan terlibatlah dalam aktivitas yang membantu kita lebih merasa hidup. Kita bisa saja mengejar hobi yang kita nikmati dan fokus untuk membuat kenangan baru dengan melakukan apa yang kita sukai. Hal-hal ini akan membantu kita mencapai titik bertumbuh yang lebih tinggi.


Yakinlah ketika kita membuka diri terhadap orang dan pengalaman baru, kita juga melatih kembali otak kita untuk memahami bahwa ya, ada masa lalu yang menyakitkan, tetapi ada juga orang dan hubungan lain yang memberi rasa aman.


Sepatah Kata Dari Kami


"Waktu menyembuhkan semua luka" adalah salah satu pepatah paling populer, tetapi bisa aja nggak sepenuhnya benar. Meskipun waktu hanyalah sebuah medium, tapi ia dapat menjadi wadah penyembuhan. Namun, pada akhirnya, terserah kita untuk tetap berada di masa lalu, atau membuat kisah baru di masa sekarang dan masa depan. Kita harus berjuang untuk menemukan cara bangkit saat waktu semakin pergi meninggalkan kita.


Tapi ingat, jangan menyalahkan diri sendiri kalau kita sembuh lebih lambat dari yang kita inginkan. Semua orang sembuh dan bertumbuh pada waktunya sendiri-sendiri, jadi pahami bahwa proses setiap orang berbeda dan bersabarlah selama proses untuk menjadi versi terbaik diri kita ini.


Terakhir, kalau emang kita nggak bisa mengatasi pengalaman menyakitkan kita sendirian, pertimbangkan untuk mencari bantuan terapis atau profesional kesehatan mental yang berkualifikasi. Seorang profesional yang berpengalaman akan dapat memandu kita melalui proses terlatih daripada berusaha seorang diri.


Klikers dan Teman Baik, bukan waktu yang menyembuhkan, tapi sikapmulah saat menghabiskan waktu itu yang membuatmu sembuh. Semoga tulisan ini membantumu untuk selalu bertumbuh.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir

2 views0 comments

Recent Posts

See All