• klik klas

Bahaya Perilaku dan Isi Hati Tidak Sinkron



“Apakah kamu pernah menginginkan sesuatu, tapi kamu berperilaku sangat berkebalikan dengan apa yang kamu inginkan?”


Misalnya, pernah nggak kamu menyukai seseorang tapi kamu berlagak membencinya di depan teman-temanmu?


Atau, pernah nggak kamu melihat orang yang berbohong, sehingga ketika diinterogasi ia menjadi sangat melebih-lebihkan kejujurannya?


Dalam banyak kasus anak dan remaja, pernahkah kamu melihat seorang anak yang menjadi nakal dan suka berbuat ulah karena ia sebenarnya mencari perhatian saja, bukan sebenar-benarnya nakal.


Atau pernahkan kamu rindu seseorang, tapi apa yang terucap dari bibirmu malah kalimat yang bernada mengusir seseorang, “Pergi, pergi saja, aku ga butuh kamu,”.


Dalam lingkup yang lebih luas, banyak sekali orang yang merasa tidak aman dengan dirinya sendiri, inferior, dengan cara menunjukkan superioritas berlebihan. Bisa jadi ini menjelma dalam bentuk bullying dan perilaku memojokkan orang lain.


Kalau kamu pernah bersikap berlawanan dengan emosi dasarmu, bisa jadi kamu melakukan sesuatu yang dalam bahasa Psikologi, disebut pembentukan reaksi.


Apa itu Pembentukan Reaksi?



Dalam psikologi, pembentukan reaksi adalah mekanisme pertahanan diri di mana kita secara nggak sadar menggantikan impuls yang nggak diinginkan atau impuls yang kita anggap jika dimunculkan akan membuat kita merasa nggak nyaman, merasa cemas, dan menimbulkan berbagai hal yang kita anggap bisa mencelakai diri kita, maka kita akan menggantinya dengan kebalikan dari impuls kita itu dan seringkali diungkapkan dengan cara yang berlebihan bahkan pamer.


Contohnya seorang cowok sering ngejahilin seorang cewek karena, pada tingkat bawah sadar, dia tertarik padanya. Namun, secara sadar, dia menyangkal perasaan ini dan nggak bisa menghadapi perasaannya sendiri, jadi dia mencoba menyangkal dengan keras padahal itu semakin menunjukkan rasa suka cowok itu pada cewek yang ditaksirnya tersebut.

Atau, kamu yang sering melakukan ini pada cowok yang kamu sukai? Ih, ayo ngaku!


Sejarah Pembentukan Reaksi



Reaction Formation atau pembentukan reaksi adalah bagian dari cara kita mempertahankan diri (self-defense mechanism). Konsep mekanisme pertahanan diri awalnya diusulkan pada akhir 1800-an oleh Sigmund Freud sebagai bagian dari teori psikoanalitiknya. Freud merupakan ilmuwan paling awal dalam psikologi yang melihat bahwa salah satu penyebab depresi adalah cara kita mempertahankan diri, mempertahankan ego kita juga, dengan cara yang kurang tepat.


Freud memiliki seorang putri Bernama Anna, Anna lah yang meneliti dan mengklasifikan mekanisme pertahanan diri manusia. Pada tulisan paling awal soal mekanisme pertahanan diri ini, seenggaknya ada 10 tipe mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh kita secara nggak sadar. Makin ngerik lagi karena sebagaian mekanisme pertahanan diri ini bersifat toksik dan bisa menjadi penyebab kita mudah terkena depresi.


Lalu, Gimana Dong Mengenali Tandanya?



Pembentukan reaksi adalah cara bagi kita untuk mempertahankan diri terhadap pikiran atau perasaan apa pun yang menurut kita nggak bisa diterima dengan berbagai alasan, bisa karena standar pribadi, keluarga, komunitas, atau masyarakat. Meskipun hal ini dapat melindungi harga diri kita saat ini, jika kita terus menerus melakukan hal itu dan akan timbul masalah seiring waktu. Terutama jika kita terus menerus tidak jujur dengan emosi kita. Nggak jujur dengan emosi kita itu berat lho. Karena kita sedang menutupi sesuatu yang bergejolak. Karena emosi punya energi. Kalau ditutup-tutupi terus menerus, kita akan terus menerus kehabisan tenaga. Ibaratnya, apa nggak capek bohong terus?


Sayangnya, pembentukan reaksi bisa sangat menantang untuk dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang mempertahankan diri mereka dengan cara ini bisa sangat vocal dan teguh dengan apa yang mereka ucapkan, meskipun apa yang terjadi di dalam hatinya berbeda.


Nah, kalau kamu sendiri pernah ga merasakan hal seperti ini? Pernah nggak kamu menutupi perasaanmu terus menerus, bukan karena apa-apa, tapi karena kamu takut jika kamu jujur, kamu akan dipandang sebelah mata.


Makanya, mempelajari mekanisme pertahanan dan terus mengecek perilaku kita dapat membantu kita menentukan apakah kita sering memakai mekanisme pertahanan diri ini untuk melindungi diri dari pikiran atau perasaan yang nggak diinginkan.


Kalau kamu butuh bantuan untuk mengecek apakah benar kamu memiliki tipe pertahanan diri seperti ini. Seorang profesional kesehatan mental dapat memandu kita melalui proses ini dengan baik, mengingat mereka memang belajar untuk dapat mengeksplorasi perilaku kita, dan memberikan perspektif yang lebih objektif tentang ini.


Cara Mengatasi Formasi Reaksi Ala Konselor/Terapis



Jika kita pergi ke professional, kamu akan diajak mengidentifikasi pembentukan reaksi formasi yang ada di dalam diri kita. Berarti kita akan diajak mengenali pikiran dan impuls yang mungkin kita rasa nggak nyaman. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi pikiran dan masa lalu kita, yang pada akhirnya kita akan diajak mengenal hal-hal apa saja yang mendasari dan menyebabkan kecemasan yang membuat kita terus menerus menentang emosi alami kita. Ini tentu bukan proses yang sederhana, proses ini akan jadi sangat melelahakan dan menantang serta berlarut-larut. Sebelum akhirnya kita bisa menerima diri kita sendiri apa adanya, dan bertumbuh dari penerimaan terhadap diri itu. Semangat ya, menjadi pribadi yang #selalubertumbuh setiap hari.

Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Bailey R, Pico J. Defense mechanisms. In: StatPearls. StatPearls Publishing; 2021.


Baumeister RF, Dale K, Sommer KL. Freudian Defense Mechanisms and Empirical Findings in Modern Social Psychology: Reaction Formation, Projection, Displacement, Undoing, Isolation, Sublimation, and Denial. J Pers. 1998;66(6):1081-1124. doi:10.1111/1467-6494.00043


Dutton D, Lake R. Threat of own prejudice and reverse discrimination in interracial situations. J Pers Soc Psychol. 1973;28(1):94-100. doi:10.1037/h0035582


Freud, A. The Ego and the Mechanisms of Defense. New York, NY: Routledge; 1936/2018.

Morokoff P. Effects of sex guilt, repression, sexual "arousability," and sexual experience on female sexual arousal during erotica and fantasy. J Pers Soc Psychol. 1985;49(1):177-187. doi:10.1037/0022-3514.49.1.177


Sherman SJ, Gorkin L. Attitude bolstering when behavior is inconsistent with central attitudes. J Exp Soc Psychol. 1980;16(4):388-403. doi:10.1016/0022-1031(80)90030-x


Weinstein N, Ryan WS, DeHaan CR, Przybylski AK, Legate N, Ryan RM. Parental autonomy support and discrepancies between implicit and explicit sexual identities: Dynamics of self-acceptance and defense. J Pers Soc Psychol. 2012;102(4):815-832. doi:10.1037/a0026854


1 view0 comments

Recent Posts

See All