• klik klas

"Apakah Membandingkan Diri Dengan Orang Lain Itu Buruk?”

Updated: Feb 9



Pernah nggak kamu mendengar nasihat dari pegiat kesehatan mental, jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain.


Lalu, pernah ga kamu bertanya-tanya, “Terus caranya biar maju gimana dong kalau nggak benchmarking ke idola atau orang yang kita anggap sebagai model dalam pencapaian kita?”


Sebelum membahas itu, mari kita bedah perkara banding membandingkan diri dengan orang lain ini.


KAPAN MEMBANDINGKAN DIRI ITU BURUK?



Ketika kita menghadapi sesuatu yang sulit dalam hidup kita, nggak jarang ya orang lain mengatakan "Wah, kamu beruntung lho, bisa aja ada kejadian yang lebih buruk.".

Atau pernah nggak diri kita sendiri punya pikiran seperti, “Yah, se-enggak-nya saya nggak seburuk orang itu." Lalu, kita berusaha membandingkan rasa sakit kita sendiri dan emosi orang lain.


Perbandingan adalah sebuah hal yang wajar dan sering kita alami, serta dalam beberapa kasus, bahkan dapat membantu kita bertumbuh. Perbandingan dapat berfungsi sebagai cara untuk mengukur kemajuan kita atau menentukan apa yang mungkin sesuai untuk kita dalam situasi tertentu.


Tapi, dalam aspek lainnya, perbandingan yang tidak sehat, membabi buta, dan pukul rata, dapat menghambat pertumbuhan kita, mentrigger perasaan tidak cukup pada diri sendiri, dan bahkan membuat lebih sulit untuk berempati dengan orang lain.

Lalu gimana caranya?


Beberapa cara yang membandingkan yang sehat?


Orang Mengalami Hal Berbeda



Dear Klikers dan #Temanbaik, setiap individu memiliki sumber daya dan pengalaman berbeda, yang berperan dalam bagaimana kita dipengaruhi oleh emosi yang berbeda. Sama seperti nggak semua orang merasakan kegembiraan dengan cara yang sama, nggak semua orang merasakan sakit dengan cara yang sama. Nggak ada hierarki emosi yang mengatakan bahwa perasaan seseorang lebih baik atau lebih buruk, lebih kuat atau lebih lemah daripada perasaan orang lain.


Misalnya, jika kita mengalami kehilangan yang menyakitkan, secara emosional kita mungkin tergoda untuk membandingkan apa yang kita rasakan dengan orang lain yang telah melalui sesuatu yang sama. Kita bisa aja membandingkan diri kita dan merasa bahwa apa yang kita alami adalah hal yang paling berat. Atau, bisa saja, jika ingin merasa lebih baik kita meminimalkan sakit kita dengan pengalaman orang lain yang terlihat lebih buruk.


Dear Klikers dan #temanbaik, penting untuk diingat bahwa terluka itu menyakitkan. Membandingkan rasa sakit kita dengan orang lain, kadang tidak selalu berdampak baik. Saat kita meminimalkan apa yang kita rasakan, bisa-bisa kita merasa bahwa sebenarnya tidak sesederhana itu rasa sakit kita. Atau, sebenarnya tidak seberat itu. Lalu, kita bingung dan merasa buruk.


Cherish your own story. Bila kamu merasa kamu belum selesai berduka (misalnya), kamu bisa mengambil waktumu tanpa harus membandingkan dengan orang lain. Jika kamu merasa telah usia berduka, maka bangkitlah, bukan karena kamu merasa pengalamanmu sederhana dan sepele, tapi karena kamu telah selesai.

Kamu berharga, pengalamanmu tidak sederhana, pun orang lain bisa jadi punya sisi berbeda yang sama sederhananya.


Perbandingan Sering Membuat Pengalaman Kita Terasa Nggak Berharga



Dalam kultur budaya Asia, kita diminta lebih banyak berfokus pada kepentingan bersama. Ini bisa jadi membuat batasan diri dan apa-apa di luar kita jadi kabur. Termasuk privasi apa yang kita rasakan. Soal betapa individual dan personalnya perasaan kita.


Dalam lingkungan seperti ini, fokus membandingkan emosi kita sering kali untuk meminimalkan apa yang kita rasakan atau apa yang kita rasakan.


Beberapa contoh termasuk:

Kita mungkin berpikir bahwa kita nggak berhak untuk marah tentang sesuatu karena orang lain sedang mengalami sesuatu yang lebih buruk.


Kita mungkin merasa nggak berhak merasa kesepian karena memiliki lebih banyak teman dan keluarga daripada orang lain.


Tetapi, pengalaman orang lain nggak berarti menghilangkan dan meminimalkan pengalaman kita sendiri. Dalam kasus seperti itu, membandingkan perasaan adalah cara untuk meminimalkan pengalaman kita sendiri.


Biasanya kita melakukan ini “mengecilkan kerumitan emosi kita” untuk menghindari perasaan nggak enak terhadap orang lain. Seringkali kita berpikir "Aku ga boleh lebay, karena yang kualami nggak seburuk orang lain,” lalu mengabaikan perasaan kita yang bisa jadi butuh diselesaikan juga, daripada diabaikan.


Ini adalah bentuk toxic positivity di mana kita merasa bahwa kita harus menyembunyikan atau menolak perasaan negatif apa pun untuk fokus pada rasa optimisme yang tidak rasional.


Benar Baik-Baik Saja, Atau, Sebenarnya Kita Lari Dari Kenyataan?




Jika memang situasi orang lain secara objektif "lebih buruk" daripada kita, itu nggak berarti bahwa kita mengalami hal yang ringan, nggak mengalami emosi yang sangat nyata dan valid, serta pantas diabaikan. Ya, orang lain juga memiliki rasa sakit mereka, tetapi pengalaman mereka, sekali lagi, bukan lantas nggak mengurangi atau mengaburkan pengalaman kita.


Klikers dan #TemanBaik, perasaan negatif dapat meningkatkan stres ketika nggak ditangani dengan benar, lho. Kalau kamu dalam keadaan dimana emosimu campur aduk, emosi yang sulit pun dapat menjadi sumber informasi yang penting. Informasi apa? Yaitu informasi atas apa yang terjadi dalam diri kita tapi tidak disuarakan mulut kita. Emosi kita ini dapat memberitahu kita bahwa ada sesuatu yang perlu diubah dan membantu memotivasi kita untuk membuat perubahan positif dalam hidup kita.


Semua Orang Layak Dibantu, Pun Kamu



Perbandingan sering membuat orang berpikir bahwa kita dapat mengatasi masalah sendiri. Alih-alih mencari bantuan dan dukungan, orang sering merasa bahwa masalah kita nggak cukup serius untuk mendapat perhatian.


Misal, jika ada yang diantara kita mengalami gejala depresi, mungkin akhirnya kita nggak mencari bantuan karena merasa nggak memiliki “alasan” untuk merasa tertekan, terutama ketika membandingkan kehidupan dan pengalamannya dengan orang lain yang tampaknya lebih buruk. Ini berarti bahwa kita melewatkan bantuan yang bisa jadi sangat kita butuhkan, apakah itu terapi, pengobatan, atau dukungan sosial dari professional.


Lalu, Bagaimana Cara Membandingkan Dengan Sehat?



Lain kali kalau kita tergoda untuk membandingkan perasaan kita dengan perasaan orang lain, mari kita mundur selangkah.


Coba tanyakan pada diri, apakah membanding-bandingkan emosi kita dengan orang lain akan membantu kita makin bangkit atau malah sebaliknya? Atau apakah kita menggunakannya sebagai cara untuk lari dari emosi kita?


Alih-alih membandingkan mari kita lakukan ini.


Biarkan diri kita duduk dengan emosi kita tanpa menghakimi.


“Oh aku marah ya, hem… rasanya gini ya marah itu…”


“Mm…aku sedih nih sepertinya, karena banyak hal yang terjadi…”


Beri diri kita izin untuk merasakan apa yang kita rasakan dan ingatkan diri kita bahwa emosi kita itu nggak salah.


Boleh membandingkan diri, tetapi nggak merasa perlu untuk meminimalkan perjuangan kita atau membandingkan masalah kita dengan mereka.


“Masalah temenku berat, dia juga kehilangan orangtuanya karena Covid, seperti aku juga, kita sama-sama melalui hari yang berat,”


Hindari menilai emosi orang lain. Alih-alih, fokuslah untuk menghargai fakta bahwa kita bersedia berbagi apa yang kita rasakan dengan kita.


Akui apa yang kita rasakan. Mengakui apa yang kita rasakan itu penting. Dengan ini, siapa tahu kita akan mendapat pertolongan, orang-orang yang kita butuhkan lebih terbuka dengan perasaan kita, dan kita jadi lebih lega.


Ingatlah bahwa ketika kita berada di emosi yang rentan, ini bukan saatnya untuk membuat penilaian atau perbandingan dengan pengalaman dan emosi orang lain. Berurusan dengan emosi-emosi ini, akan memberi kita kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan sembuh dari pengalaman kita.


Ketika Perbandingan Bermanfaat



Kenyataannya adalah perbandingan nggak bisa dihindari. Dan dalam beberapa kasus, sebenarnya dapat memberikan efek positif, antara lain:


Perbandingan dapat membantu kita merasa bersyukur atas hidup kita sendiri.

Perbandingan dapat membantu kita mempertimbangkan pilihan dan memikirkan apa yang kita inginkan.


Perbandingan dapat mengarah pada pembelajaran observasional di mana kita memperoleh pengetahuan tanpa benar-benar harus melalui pengalaman itu sendiri.

Perbandingan dapat membantu kita melihat apa yang perlu kita lakukan untuk mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup.


Perbandingan dapat membantu kita merasa lebih berbelas kasih kepada orang lain, dan dapat membantu memaksa kita untuk secara sukarela membantu.


Klikers, penting banget untuk diingat, bagaimanapun, meminimalkan rasa sakit dan emosi kita bukanlah bagian dari rasa syukur. Kita bisa bersyukur atas hal-hal baik dalam hidup kita dan masih merasa kecewa, sedih, atau kesal. Semua emosi itu valid.


Sepatah Kata Dari Klik.Klas

Lain kali kita jika kita mendapati diri kita berpikir "Ah, pengalaman gue nggak ada apa-apanya,” Jika berpikir seperti itu adalah cara untuk meminimalkan atau menyangkal perasaan kita, fokuslah pada emosi kita tanpa menilai diri dan menyalah-nyalahkan diri sendiri karena merasakan perasaan itu. Setiap pengalaman adalah khas, penting, dan tidak sederhana. Setiap dari kita memiliki emosi yang nggak bisa dibanding-bandingkan. Tahan diri untuk nggak membanding-bandingkan dengan orang lain. Semoga meminimalkan perbandingan yang nggak perlu akan membuat kita #selalubertumbuh.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Kamu Suka Baca Versi Ilmiahnya? Check This Journals!

Fischer AH. Comment: the emotional basis of toxic affect. Emot Rev. 2018;10(1):57-58. doi:10.1177/1754073917719327

Lieberman MD, Eisenberger NI, Crockett MJ, Tom SM, Pfeifer JH, Way BM. Putting feelings into words: affect labeling disrupts amygdala activity in response to affective stimuli. Psychol Sci. 2007;18(5):421-8. doi: 10.1111/j.1467-9280.2007.01916.x)



2 views0 comments

Recent Posts

See All