• klik klas

"Aku Benci Keluargaku", Aku Harus Apa?



Dear Klikers dan #TemanBaik, apakah kita pernah merasa nggak nyaman dan merasa terus menerus dalam medan pertempuran ketika berada di tengah-tengah keluargamu sendiri?

Memang, nggak semua dari kita memiliki keluarga yang hangat dan dapat merasakan hubungan yang dekat dengan keluarga kita sendiri. Dalam beberapa kasus, kita bahkan mungkin merasa membenci keluarga kita.


Ada banyak alasannya. Bisa aja kita merasa selalu nggak diapresiasi, disalah-salahin terus, tidak diberi ruang cukup untuk berpendapat, bisa juga karena sebenarnya diam-diam ada yang melecehkan secara seksual, melukai secara fisik, dan/ atau keluarga yang abai, cuek banget banget banget.


Salah seorang Klikers curhat bahwa orang tuanya itu nggak konsisten, jadinya dia ngerasa kok arahannya plin plan, kadang begini, kadang begitu. Ketidakkonsistenan ini, membuatnya jadi mudah cemas dan nggak percaya sama arahan ortu sendiri. Apalagi kalau ortu mengarahkannya tanpa mengajak kita bicara secara dewasa. Rasanya bisa dia ingin berteriak saja.


Belum lagi, ada nih salah satu Klikers dan #TemanBaik, juga bercerita bahwa dia merasa tidak mendapat apresiasi yang cukup. Orang tuanya sering meremehkan pencapaiannya, tanpa dia sadari, dia jadi orang yang terbiasa diam dan menghindar. Ia juga semakin lama semakin jadi sulit untuk percaya dengan diri sendiri, sulit mengelola emosi, sulit membentuk hubungan intim dengan orang lain, dan kesulitan merasakan empati terhadap orang-orang di sekitar kita.


Kebencian bisa juga bisa muncul karena adanya pelecehan dan kekerasan yang kita alami yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga. Suasana dan kondisi seperti ini bisa membuat kita membenci rumah secara umum, dan merasa nggak nyaman dengan anggota keluarga yang melakukan hal ini.


Rasa tidak nyaman dan benci juga bisa lahir dari tidak adanya ruang privasi. Orang tua merasa harus ikut campur semua urusanmu dari hal kecil sampai besar. Kita merasa nggak diberi ruang untuk menjadi dirimu sendiri, memilih apa yang kita mau secara bertanggungjawab, dan diajak berdiskusi secara dewasa.


Beberapa kasus yang banyak Klik.Klas tampung lainnya adalah curhatan seperti orangtua yang nggak memperlakukan anggota keluarga sebagai individu, nggak menghormati privasi anggota keluarga. Sering menggunakan rasa bersalah untuk mengendalikan perilaku anggota keluarga lainnya juga bisa jadi sebab kita merasa nggak nyaman dengan keluarga kita sendiri. Padahal semakin dewasa, setiap orang berhak atas batasannya masing-masing.


Beberapa dari kita juga ada yang mengembangkan perasaan marah atau dendam ketika kita memiliki nilai atau tujuan yang sangat berbeda dari anggota keluarga. Seperti perbedaan pendapat tentang bagaimana kita memilih untuk menghabiskan waktu kita , dengan siapa kita berhubungan, bagaimana kita mengasuh anak-anak kita sendiri, atau bahkan bagaimana kita menghabiskan uang kita . Kita mungkin mendapati diri kita nggak menyukai anggota keluarga yang nggak menerima atau mendukung hidup dan pilihan kita .


Tanda Hubungan Keluarga yang Toksik


Ketika kita memiliki hubungan yang nggak sehat dengan orang-orang di keluarga kita, ini bisa membuat kita merasa terancam secara fisik, emosional, atau psikologis. Anggota keluarga yang toksik seringkali menjadi akar dari hubungan antar anggota keluarga yang buruk, jadi nggak heran jika ini menyebabkan kita nggak menyukai atau membenci mereka.


Belajar mengenali tanda-tanda hubungan yang nggak sehat dapat membantu kita untuk lebih memahami alasan kita nggak menyukai keluarga kita, lho. Anggota keluarga yang kurang sehat membuat kita merasa nggak dihormati karena kita merasa bahwa anggota keluarga kita nggak menghargai kebutuhan kita.


Kadang hubungan yang toksik juga membuat kita merasa nggak didukung, hubungan ini membuat kita merasa seperti orang-orang yang paling dekat dengan kita nggak mengenal diri kita yang sebenarnya serta seperti nggak bersedia mendukung kita saat kita membutuhkannya.


Selain itu, kita sering merasa jadi disalahpahami dan mereka membuat sedikit usaha untuk memahami kita sebagai individu. Apalagi, ada juga anggota keluarga yang malah senang fokus dengan hal-hal negatif yang kita rasakan. Tipe orang yang seperti ini sering terus memunculkan kualitas terburuk kita (dan kadang di depan umum, ugh) yang membuat kita merasa negatif tentang diri sendiri, orang lain atau dunia secara umum.


Lalu, saat kita dalam keadaan terpuruk, lalu kita disalahkan ketika segala sesuatunya nggak berjalan sesuai rencana, anggota keluarga yang nggak suportif akan menyalahkan kita, terus menerus.


Bagaimana Mengatasinya?



Akui Perasaanmu

Berusahalah untuk menerima apa yang kita rasakan tanpa menghakimi diri sendiri atas emosi yang kita alami. Kita nggak dapat memilih keluarga kita. Jangan menyalahkan diri sendiri karena nggak merasa dekat dengan orang yang nggak kita sukai. Alih-alih, berlatihlah untuk mempraktikkan penerimaan diri dan kemudian tentukan apa yang dapat kita lakukan untuk mengelola perasaan ini atau memperbaiki hubungan yang membuat kita nggak bahagia.


Menemukan cara untuk menerima perasaan kita dengan cara yang nggak menghakimi dapat membantu. Menerima emosi kita berarti membiarkan diri kita merasakan sesuatu tanpa berusaha menahan atau menyembunyikan emosi, bahkan ketika itu sulit atau menyakitkan. Dengan menerima emosi kita, malah kita dapat menemukan cara yang lebih sehat untuk mengatasinya dan mengurangi kecemasan, stres, ketakutan, dan kesedihan yang sering menyertai perasaan seperti itu.


Selanjutnya Bagaimana?

Nggak setiap hubungan dapat diselamatkan atau bahkan layak dipertahankan. Ada kalanya perlakuan seorang anggota keluarga dapat secara langsung merugikan, seperti dalam kasus-kasus di mana terjadi pelecehan seksual. Dalam kasus kayak gini, seringkali penting sekali untuk memutuskan hubungan sementara atau permanen dengan individu tersebut.

Jika kita masih tinggal bersama keluarga, langkah ini seringkali membutuhkan perencanaan dan pertimbangan praktis. Keuangan, perumahan, pindahan, dan faktor lainnya adalah semua hal yang perlu kita rencanakan jika kita ingin membuat pemisahan fisik dan mendapatkan privasi dan kemandirian yang lebih besar.


Atau, Bagaimana Jika Memperbaiki Hubungan?



Menyembuhkan hubungan yang nggak sehat dengan anggota keluarga juga menjadi pilihan. Ini adalah langkah yang dapat kita ambil jika hubungan itu penting bagi kita dan kita merasa bahwa kepercayaan, komunikasi, dan perasaan positif dapat dibangun kembali. Ini adalah langkah yang membutuhkan partisipasi semua orang yang terlibat. Jangan biarkan diri kita merasa tertekan untuk mengubur perasaan kita atau berdamai dengan orang lain jika kita belum siap.


Menurut penelitian oleh Stand Alone, sebuah organisasi Inggris yang mendukung orang dewasa yang terasing dari keluarga mereka, memiliki waktu untuk memproses emosi yang menyakitkan adalah sangat penting. Daripada menekan orang yang mungkin terasing, mungkin yang terbaik adalah membiarkan kita memiliki waktu dan ruang untuk sembuh sebelum mencoba berdamai.


Jika kita tertarik untuk merasa lebih baik tentang hubungan kita dengan anggota keluarga kita, pertimbangkan untuk meminta kita mencoba terapi keluarga. Dengan datang ke terapis, kita mungkin dapat meningkatkan komunikasi dan mendapatkan wawasan yang dapat membantu kita merasa lebih baik tentang hubungan kita dengan mereka.


Tetapkan Batas


Memiliki batasan yang jelas dengan anggota keluarga yang menyebabkan kita stres dapat membantu kita lebih bisa mendefinisikan diri kita kita sebagai seorang manusia yang punya pilihan dalam keluarga kita. Karena pada dasarnya, keluarga yang sehat adalah keluarga yang bisa menempatkan diri kapan memberi privasi dan kapan harus masuk ke dalam keputusan anggota keluarga lainnya.


Akan tetapi, menetapkan batasan dengan keluarga bisa jadi sangat sangat sulit dalam kultur Indonesia, karena dari keluargalah kita biasanya mempelajari batasan-batasan ini. Mungkin sulit untuk mengenali batas yang nggak sehat jika hanya itu yang pernah kita ketahui.


Jika kita ingin mempertahankan hubungan dengan anggota keluarga, tetapkan batas interaksi ini jika memungkinkan. Misalnya, kita mungkin memilih untuk menghabiskan waktu bersama kita sekali atau dua kali sebulan. Jika topik tertentu menimbulkan konflik dengan keluarga kita , jelaskan bahwa topik tersebut sebaiknya dihindari selama interaksi kita. Menetapkan batasan-batasan ini dapat membantu kita merasa lebih berdaya dan mengendalikan hubungan kita dengan keluarga.


Jaga Privasi Kita

Strategi seperti menjauhkan diri dari situasi atau dengan sengaja merahasiakan detail tentang kehidupan kita dapat membantu juga. Jika anggota keluarga mencampuri kehidupan kita atau menggunakan hal-hal yang kita lakukan untuk menentang kita, cari cara untuk mengubah topik pembicaraan ketika topik tertentu muncul. Bila perlu, terus terang dan nyatakan bahwa kita memilih untuk nggak membicarakan topik tersebut.


Berdamai Dengan Pilihanmu

Dear Klikers dan #TemanBaik, setiap situasi berbeda, tetapi dalam beberapa kasus, kita mungkin memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita dengan anggota keluarga. Ini adalah keputusan yang sangat pribadi dan seringkali paling baik dibuat jika kita memiliki waktu dan jarak untuk mendapatkan beberapa perspektif tentang pengalaman kita. Terutama jika ini menyangkut masalah-masalah yang nggak bisa kamu toleransi, seperti kekerasan dan pelecehan seksual.


Penelitian menunjukkan bahwa kerenggangan keluarga nggak jarang terjadi. Dalam satu penelitian, 43,5% peserta melaporkan bergesekan dari setidaknya satu anggota keluarga besar mereka. Hampir 17% terasing dari anggota keluarga dekat mereka.


Berbicara dengan seorang teman mungkin membantu, tetapi kita mungkin juga mempertimbangkan untuk mendiskusikan perasaan kita dengan seorang profesional kesehatan mental. Seorang terapis dapat membantu kita mengevaluasi faktor-faktor yang membawa kita ke langkah ini dan kemudian menawarkan saran tentang cara terbaik untuk melanjutkan.


Penelitian menunjukkan bahwa berdamai setelah konflik bisa sangat sulit, terutama untuk kita yang telah dewasa dan telah terbiasa terasing dari orang tua kita. Meskipun meletakkan batas dalam hubungan akan bisa membuat stres, penelitian menunjukkan bahwa ada efek positif juga.


Sepatah Kata Dari Klik.Klas dan ##TemanBaik

Apa yang ditulis di atas bisa jadi terasa ekstrim dalam budaya kita. Maka, pertimbangkan untuk mencari cara agar memiliki sedikit batasan. Jika, kamu ingin bicara dengan psikolog, jangan ragu untuk mendaftar di layanan konsultasi kami. Semoga kita semua selalu bertumbuh dalam situasi yang paling tidak kondusif sekaligus. Doa kami membersamaimu.


Tentang Penulis

Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi, M.A

Salam kenal, aku Fakhi. Aku merupakan peneliti dan ilmuwan psikologi sosial yang menyelesaikan studi S1 hingga S2 di Fakultas Psikologi UGM. Yuk baca dan cari lebih dalam tulisan-tulisanku di Instagram @fakhirah.ir


Kunjungi Media Sosial Klik.Klas Lainnya

Jangan lupa ikuti terus update kabar Klik.Klas di Instagramnya juga klik.klas atau mau dengerin versi podcastnya? Bisa banget! Klik di sini.


Tulisan Ini Lahir Dari Tulisan Lainnya

Blake L, Bland B, Imrie S. The counseling experiences of individuals who are estranged from a family member. Family Relations. October 2019. doi:10.1111/fare.12385


Blake L. Parents and children who are estranged in adulthood: a review and discussion of the literature: review and discussion of the estrangement literature. J Fam Theory Rev. 2017;9(4):521-536. doi:10.1111/jftr.12216


Cassidy J, Jones JD, Shaver PR. Contributions of attachment theory and research: a framework for future research, translation, and policy. Dev Psychopathol. 2013;25(4 Pt 2):1415-34. doi:10.1017/S0954579413000692)


Coleman J. Rules of Estrangement. Harmony Books; 2020.


Coleman J. When Parents Hurt: Compassionate Strategies When You and Your Grown Child Don’t Get Along. 1st ed. Collins; 2007.


Conti RP. Family estrangement: establishing a prevalence rate. JPBS. 2015;3(2). doi:10.15640/jpbs.v3n2a4


Lindsay EK, Creswell JD. Mindfulness, acceptance, and emotion regulation: perspectives from Monitor and Acceptance Theory (MAT). Curr Opin Psychol. 2019;28:120‐125. doi:10.1016/j.copsyc.2018.12.004


Love Is Respect. What are my boundaries?


Stand Alone. Family estrangement: advice and information for adult children. Published 2015.


University of Cambridge Centre for Family Research, Stand Alone. Hidden Voices: Family Estrangement in Adulthood. 2015.


1 view0 comments

Recent Posts

See All